Jun 22, 2017

Sebentuk Kehangatan di Plaka, Milos



Deretan meja kursi berwarna-warni berjemur di luar bangunan berdinding putih. Pintu dan jendela tertutup rapat. Tampaknya taverna ini masih tutup walaupun kala itu sudah hampir tengah hari. Hanya seekor kucing makhluk hidup yang tampak di antara kursi-kursi, sibuk menjilat badannya sendiri dengan mata terpicing. Kami berjalan lagi menyusuri gang, sampai ke bangunan yang di luarnya terdapat meja kursi dan pintu yang juga tertutup rapat.

“Sudah buka, belum, ya?” saya bertanya setengah berharap.

Sekelebat bayangan orang terlihat di balik pintu bagian dalam taverna. “Tuh, sudah ada orangnya. Kita duduk aja,” sahut Diyan tanpa beranjak dari tempat ia berdiri.

Kalimera!” sapa seorang pria berkepala plontos di bagian atas, berperut tambun, bermata tajam, yang tiba-tiba saja keluar dari pintu di hadapan kami sambil membawa selembar kertas besar di tangannya.

Jun 20, 2017

Merayakan Hari Istimewa di Plataran Menteng


Pada tanggal 16 Juni yang baru saja lewat, saya dan Diyan merayakan ulang tahun pernikahan ke-4. Di tiga tahun sebelumnya kami merayakan hanya dengan nonton di bioskop atau makan malam berdua entah di mana, saya lupa. Entah kenapa, kali ini Diyan melontarkan ide lain. “Kita rayain di Plataran Menteng, yuk!” katanya. Sontak saya mengiyakan, karena memang sudah cukup lama ingin mencoba makan di sana.

Proses reservasi sedikit alot karena Plataran Menteng laris manis untuk acara buka puasa. Setelah mencoba dua kali, akhirnya kami dapat meja, walaupun baru bisa mulai di jam 20.30.

Plataran Menteng adalah bagian dari grup Plataran yang bergerak di bidang hospitality, mencakup restoran dan hotel. Belum satupun cabang mereka yang saya datangi sebelumnya. Yang membuat saya penasaran adalah karena bangunan Plataran Menteng ini terlihat cantik dan anggun, serta menyajikan menu makanan Indonesia. 

(Baca juga tulisan tentang restoran Indonesia favorit saya: Tugu Kunstkring Paleis


Meja di kanan itu tempat kami bersantap malam. 


Jun 5, 2017

Tertib Saat Naik Pesawat




Naik pesawat itu asyik bagi saya. Bisa melihat bumi dari atas, sesuatu yang jarang bisa saya (dan kebanyakan manusia) lakukan. Bisa mencapai tempat lain dengan cepat (minus macet menuju bandaranya). Saya juga suka melihat berbagai hal yang compact di pesawat, seperti meja lipatnya, container makanan yang didorong pramugari, bahkan kompartemen-kompartemen dalam toilet. Namun, ada yang sering mengganggu saya hampir setiap perjalanan naik pesawat, yaitu kelakuan-kelakuan penumpangnya.

Banyak dari para penumpang ini terlihat serba ingin buru-buru, lalu membuat kondisi jadi semrawut. Entahlah mereka memang benar-benar terburu-buru, atau sekadar tidak sabar. Yang jelas, keterburu-buruan ini sering melanggar peraturan yang sudah diperingatkan oleh petugas yang berwenang di bandara ataupun di pesawat. Kalau saja semua penumpang patuh, saya yakin keadaan akan lebih teratur dan nyaman.

Mungkin saya pun pernah luput dari peraturan-peraturan ini sekali dua kali. Sekalian sebagai pengingat untuk diri sendiri, saya mau menjabarkan beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan sebagai penumpang pesawat. Yuk, ikut baca, siapa tahu ada yang kamu pun belum tahu, atau mungkin bisa mengoreksi saya juga. 

Ketika Masuk ke Pesawat 

-       Antre untuk boarding kalau nomor tempat duduk kamu sudah dipanggil.
Beberapa maskapai berusaha mengatur alur penumpang masuk ke pesawat dengan memanggil penumpang bernomor tempat duduk besar (bangku-bangku di deretan belakang). Misalnya dari nomor 15-30, baru setelah itu nomor 1-14. Ini dilakukan jika hanya pintu masuk depan yang dibuka. Bayangkan kalau penumpang bangku nomor 1-14 misalnya masuk duluan dan rempong mengatur tas-tas mereka di kompartemen atas bangku, kemudian penumpang nomor 15-30 akan terhambat untuk mencapai bangku mereka. Semrawut, kan?

Jun 2, 2017

Merayakan Kecintaan pada Tintin Si Wartawan Petualang



“Saya suka traveling gara-gara Tintin. Saya ke Tibet gara-gara terinspirasi Tintin waktu saya kecil,” ucap Kang Ocon, trip organizer Mata Indonesia (sekarang sudah vakum) yang saya kenal dalam tripnya ke Karimunjawa. Kang Ocon juga suka menggambar dan seorang desainer grafis. Ya, dua hal inilah yang selalu saya asosiasikan dengan Tintin; traveling dan gambar.

Saya sendiri mulai membaca Tintin sejak SD, saat komik asal Belgia ini masih diterbitkan oleh Indira. Terima kasih pada abang saya yang waktu itu mengoleksinya, walaupun saat giliran saya membaca beberapa judul sudah raib entah ke mana. Judul-judul seperti “Rahasia Unicorn”, “Petualangan di Bulan”, dan “Laut Merah”, sangat jelas dalam ingatan saya hingga kini. Isi ceritanya kadang saya ingat samar-samar atau tertukar-tukar, tapi tokoh-tokoh utamanya saya masih sangat ingat, seperti Bianca Castafiore si diva seriosa bersama Irma, asistennya, Profesor Calculus (Lakmus) yang pikun, Thomson & Thompson (Dupon & Dupont) si detektif kembar yang selalu sial, Snowy (Milo) yang suka jail, dan tentunya Kapten Haddock si pemabuk.

Kostum masing-masing tokoh juga sangat khas, seperti celana ngatung dan sepatu cokelat Tintin, sweater biru dan topi pelaut si Kapten, dan jaket hijau si Profesor. Garis gambar, bentuk, serta gerakan tubuh tokoh-tokohnya pun khas. Beberapa kali saya melihat gaya gambar orang lain, sangat mudah menebak apakah ia terpengaruh komik Tintin atau tidak. 

May 29, 2017

About A Friend



Tears were shed, prayers were said. Black clothes dominated the gathered crowd, colorful flowers were spread on her last bed. Hugs were exchanged, pats on the back were given to give strength to one another.

Old friends met, small reunions happened without appointment. They all gathered for one purpose only; to see her for the last time. Except, nobody could actually see her per se, because she was wrapped in a shroud, put in a coffin, before then buried for eternity. I was among the crowd, not being able to shed any more tears.

Vindhya Birahmatika Sabnani, or Ipink as many friends and I used to call you, your eternal rest has left my heart broken. I hadn’t been productive in the last few days because my mind would wander and wonder about how your last minutes were, and how you are now. But I guess that’s something I will never find out for sure. What I know for sure is, what I’m feeling is nothing compared to how your beloved family is going through. Still, this whole thing feels so surreal to me, even though it’s a reminder of reality, that one day we’re all going to leave this world forever.

May 23, 2017

Hobi Main di Pantai Tanpa Takut Kulit Rusak

Berjemur di pantai, siapa takut?


Beberapa minggu lalu saya baru saja pulang dari Sumba. Seminggu di sana, main ke berbagai pantai, mengingatkan lagi betapa sukanya saya berenang dan leyeh-leyeh di pantai. Nggak peduli kulit akan menggelap dan ada tankini line di badan, yang penting cibang-cibung dan terayun-ayun ombak kecil. Sebelum itu, sudah 4 bulan saya nggak menyentuh air laut. Pantas saja kangen betul. Jadi ingat masa-masa dulu hampir setiap bulan saya main ke laut.

Mumpung lagi membahas pantai, saya mau sekalian bernostalgia tentang pantai-pantai favorit saya. Berikut ini 5 diantaranya, tanpa urutan tertentu.

5 pantai favorit saya di Indonesia:

      Pantai Mandorak, Sumba

Waktu mobil diparkir di pinggir tebing, saya hanya melihat tebing karang dan air laut yang berbatas horizon. Biasa saja, batin saya. Tapi begitu jalan lebih jauh, barulah saya melihat pantai putih bersih, bersembunyi di teluk karang dengan warna air yang meneduhkan mata. Waktu yang sempit diberikan oleh trip organizer, hanya cukup untuk berfoto-foto, otomatis langsung saya dan teman-teman langgar demi berenang di air gradasi hijau, toska, ke biru ini. Hati dan mata sama-sama senang!

May 18, 2017

Tantangan Memakai Longyi Sehari di Bagan, Myanmar


Tulisan ini bagian dari artikel yang saya tulis untuk Majalah Panorama di tahun 2014, versi sebelum diedit. Perjalanannya sendiri kami lakukan di bulan November 2013, saat turis masih diizinkan untuk menaiki bangunan-bangunan kuil. Baca bagian pertama di sini


Memakai longyi di Bagan, Myamar.


I knew I loved you before I met you. Itu yang kami rasakan terhadap Bagan dari hasil pencarian informasi tentang Myanmar sebelum perjalanan. Bagan menyimpan segudang kisah bersejarah kerajaan Pagan. Ribuan kuil dan pagoda dari abad ke-9 hingga ke-18 tersebar di area seluas 104 kilometer persegi.

Kami tiba di terminal bus Nyaung U di subuh hari, lalu naik becak ke hotel Aung Mingalar. Becak di sana membuat dua penumpangnya bagaikan sedang bermusuhan karena duduk beradu punggung, yang satu menghadap depan dan satu lagi menghadap belakang. Sedangkan abang becaknya mengayuh pedal di samping bangku penumpang, alhamdulillah menghadap ke depan. 

Pagoda Shwezigon


Tantangan Memakai Longyi: Naik Sepeda


Setelah menaruh ransel di hotel, kami pergi ke Pagoda Shwezigon naik sepeda sewaan. Pagoda berusia 9 abad ini merupakan salah satu pagoda terbesar di Bagan, dengan tinggi dan lebar dasarnya hampir 50 meter. Di salah satu koridor yang mengelilinginya, pandangan saya tertumpu pada tumpukan longyi dengan berpuluh-puluh macam warna dan motif. Nah, ini dia yang kami cari-cari!