Aug 27, 2020

Tiga Hari di Amsterdam

Bekas kantor VOC yang sekarang jadi perpustakaan.
Bekas kantor VOC yang sekarang jadi perpustakaan.

Pagi itu Hari Buruh Internasional alias May Day setahun yang lalu. Cuaca musim semi yang dinginnya seperti penghujung musim dingin menemani saya dan Diyan menunggu Flix Bus di halte seberang Antwerpen-Centraal, stasiun kereta Antwerp, Belgia. Layanan bus murah ini datang sedikit telat, seperti yang sudah diperingati dalam testimoni-testimoninya online. 

Tiga potong sushi kemudian, yang saya beli di supermarket di belakang halte, tibalah bus yang kami tunggu-tunggu. Begitu melihat paspor kami, sang supir menyapa kami dalam Bahasa Indonesia. Kaget juga, tapi setelah diingat-ingat bahwa banyak orang Indonesia di Belanda, nggak heran juga sih. 

 

Perjalanan bus lancar dan tidak macet seperti yang diwanti-wanti Deazy, teman kami yang sudah bertahun-tahun jadi penduduk Belgia. Memasuki kota Amsterdam, saya mengira akan langsung melihat gedung-gedung tua. Ternyata yang saya dapat adalah pemandangan gedung-gedung modern yang tidak mengesankan dan letaknya pun jarang-jarang, terlihat hampir tak beraturan. Mungkin bukan salah kotanya, tapi harapan saya saja yang berbeda.

Jul 4, 2020

Kegelisahan dalam Pandemi dan New Normal

Pandemi, jalan-jalan di tempat. 

Sudah tiga bulan lebih kehidupan terdampak oleh virus COVID-19. Baru sekarang saya merasa perlu numpahin uneg-uneg di sini. Sebelum ini, palingan sekali di buku jurnal. Sudah banyak orang yang menuliskan kegelisahan mereka karena aktivitasnya terganggu atau kehidupannya jadi lebih susah selama pandemi. Namun bukan itu yang saya tuliskan di jurnal maupun di sini, melainkan lebih tentang kekhawatiran dan keheranan saya melihat kelakuan banyak orang dalam menghadapi situasi ini.

Semua orang yang sadar, waras, dan nggak tinggal sendirian di gua antah-berantah mestinya tahu bahwa virus COVID-19 mengharuskan kita meminimalkan kontak antar manusia, alias social distancing ataupun physical distancing. Dan ini menyebabkan banyak kegiatan harus berhenti atau berubah total demi menghindari penularan virus dan korban jiwa yang lebih banyak lagi. Saya nggak nyebutin angka ya di sini, biar itu dicari di media berita saja.

Lalu kampanye #dirumahaja pun tersebar. Kita semua diimbau, kalau tidak dipaksa, untuk seminimal mungkin keluar rumah, berinteraksi atau sekadar berpapasan dengan orang lain. Para extrovert merasa tersiksa harus diam di rumah saja dan nggak ketemu siapa-siapa. Para introvert awalnya merasa damai karena nggak harus ketemu banyak orang, tapi lama-lama mulai mengeluh juga.
Ada yang memang butuh ketemu manusia lain, ada yang karena bosan saja. Semua ini saya lihat di konten media sosial maupun curhatan langsung dari teman-teman.

Terus terang saya nggak bisa relate dengan yang bosan karena saya punya banyak hobi yang cukup dilakukan sendiri di rumah, selain pekerjaan rumah mulai dari cuci piring sampai ngasih makan kucing. Yang saya kangen hanyalah berenang. Sepertinya saya lebih 'anak rumahan' dari yang saya kira. Untuk yang kesepian karena hidup sendirian, saya bisa bayangkan ini memang berat. Kepuasan dari pertemuan fisik tidak tergantikan oleh video call. Dan untuk yang tempat tinggalnya memang dirasa kurang nyaman (bisa karena panas, sempit, tidak akur dengan orang serumah, dll), saya juga bisa mengerti adanya kebutuhan untuk keluar rumah terus.


Apr 13, 2020

Bermain ke Masa Lalu Copenhagen



Di artikel sebelum ini, saya sudah menceritakan tentang jalan-jalan di Kopenhagen (Copenhagen) dengan tema desain dan arsitektur modern. Sekarang, kita kembali ke masa lalu ibukota Denmark ini.

Pemukiman pertama di Kopenhagen diperkirakan sudah ada sejak 6000 tahun yang lalu, tapi catatan tertulis yang ditemukan baru ada sejak tahun 1043. Hingga sekarang, kota yang bernama asli København ini sudah mengalami beberapa kali kehancuran dan pembangunan kembali akibat perang antara Denmark dengan Swedia, Inggris, dan Jerman, dan juga karena wabah penyakit (waduh, jadi ingat wabah covid-19 yang sedang berlangsung) dan dua kali kebakaran besar. Sejak tahun 1813, ketika Denmark bangkrut dan harus menyerahkan Norwegia pada kekuasaan Swedia, perlahan-lahan Kopenhagen menata kembali kehidupannya.

Mar 31, 2020

Copenhagen, Desain, dan Arsitektur




Menurut Design Milk, Copenhagen adalah ibukota desain di area Nordik. Kalau memang benar, berarti saya sudah memilih destinasi yang tepat dalam trip Eropa kami tahun lalu, karena tujuan utama saya ke Copenhagen adalah melihat langsung karya-karya desainnya, termasuk arsitektur. Namun kami hanya punya 3 hari penuh – hari kedatangan dan keberangkatan tidak dihitung – di ibukota Denmark ini. Jadi, saya hanya bisa memasukkan sedikit items dalam itinerary yang berhubungan dengan desain.

DANISH ARCHITECTURE CENTER (DAC)

DAC ini tempat untuk bermacam-macam kegiatan yang berhubungan dengan arsitektur, seperti pameran, diskusi, seminar, dan tur. Sejak 2018, DAC bertempat di gedung BLOX, gedung modern yang dirancang oleh OMA, biro arsitektur terkenal dari Belanda. Kekakuan bentuk gedung steel and glass ini seolah dilenturkan oleh lokasinya yang berbatasan dengan sungai, dan cat pelangi yang menyambut pengunjung di tangga pintu masuk.

Mar 28, 2020

Highlight di Copenhagen: 8 House dan Arsitektur Lainnya di Ørestad



COPENHAGEN sudah menjadi destinasi bucket list saya sejak satu dekade yang lalu. Waktu itu saya tertarik dengan tulisan teman saya, Jaka Setia, di majalah Panorama, bahwa penduduk Copenhagen ke mana-mana naik sepeda. Lalu di tahun 2017 saya menonton serial dokumenter “Abstract” di Netflix, yang salah satu episodenya bercerita tentang Bjarke Ingels. Ia seorang arsitek dengan karya-karya kontemporer yang selalu memperhitungkan faktor lingkungan. ‘That’s it. Saya harus ke Copenhagen,’ tekad saya makin bulat. Maka ketika tiba kesempatan jalan-jalan ke Eropa dengan Diyan di tahun lalu, saya mengusulkan dengan sedikit memaksa untuk memasukkan Copenhagen ke dalam rencana kami. Usul diterima. Saya langsung browsing sana-sini tentang apa saja yang ingin saya lakukan di Copenhagen selama lima hari.

Yang sudah pasti masuk itinerary adalah melihat gedung apartemen 8 Tallet atau 8 House. Ini salah satu gedung rancangan Bjarke Ingels dengan biro arsitekturnya, BIG, yang dibahas dalam “Abstract”. Gedung ini juga disebut sebagai Big House dan berlokasi di Ørestad, pinggiran kota Copenhagen yang terletak di Pulau Amager, tidak jauh dari bandara. Kami ke sana naik Metro hingga stasiun Vestamager, lalu jalan kaki sekitar 550 meter.

Jan 12, 2020

Book Review: “How to Love Brutalism”

"How to Love Brutalism" oleh John Grindrod

-->

Sekilas, kok sadis amat buku ini? Kenapa kita mesti menyukai kebrutalan?

Karena Brutalism yang dimaksud di sini adalah sebuah gaya arsitektur yang berkembang sejak 1950an sampai awal 1980an. Karakter fisiknya nggak ada satu elemen yang pasti, tapi ciri yang umum bangunan Brutalis itu pake materi beton dengan bentuk yang nggak biasa. ‘Nggak biasa’ di sini bisa yang kotak besar doang dengan garis-garis kolom tebal tanpa ornamen pemanis, bisa juga strukturnya kecil di bawah dan drastis membesar ke atas, atau kombinasi beberapa bentuk yang sekilas terlihat saling bertabrakan semaunya. Ada juga arsitek yang berpendapat, bahwa gaya Brutalis itu yang penting idenya yang melawan arus, nggak mesti serba beton atau serba abu-abu.

Secara penamaan, sebenarnya nggak ada hubungannya dengan kekerasan atau sifat brutal. Awalnya arsitektur Swis-Prancis, Le Corbusier, yang mempopulerkan gaya ini. Materi yang ia gunakan adalah béton brut, istilah bahasa Prancis yang artinya beton kasar. Oleh orang berbahasa Inggris, ‘kasar’ ini disalahartikan menjadi sesuatu yang sifatnya seperti brutal, hingga jadilah ‘Brutalism’ atau ‘Brutalist’.

Sep 22, 2019

Kembali ke Abad Pertengahan di Ghent, Belgia


-->



Saya dan Diyan mendapatkan rekomendasi untuk berkunjung ke Ghent dari seorang turis Belgia yang nggak sengaja bertemu kami waktu di Bali beberapa tahun lalu. Katanya, dibandingkan dengan Bruges yang lebih terkenal berkat film “In Bruges” yang dibintangi Colin Farrell, Ghent tak kalah indah dan antik, dan tidak seramai Bruges. Teman saya, Deazy, yang sudah 10 tahun tinggal di Belgia pun bilang begitu. Maka kami putuskan untuk bermain-main di Ghent seharian.

Karena kebiasaan bergerak santai di pagi hari, kami baru tiba di Ghent, atau Gent, menjelang tengah hari. Baru sebentar sampai di downtown, hujan gerimis menyambut. Kami berteduh di sebuah toko coklat, dan langsung disambut kebingungan memilih coklat dari begitu banyak varian. Jangan tanya apa saja variannya karena saya sudah lupa. Tapi saya ingat betul menikmati lezatnya coklat-coklat imut itu di meja depan toko sambil menunggu hujan reda. Menengok ke kanan dan kiri, bangunan tua masih banyak berdiri kokoh. Lonceng gereja terdengar lantang, mungkin dari gereja Saint Nicolas, salah satu landmark kota itu. Rombongan turis berbaris tertib di seberang jalan, memakai jas hujan dan payung, berjalan mengikuti pemandu tur.