May 29, 2018

Sejarah Kelam Seputar 'Death Railway' di Kanchanaburi, Thailand




Lintasan kereta yang mematikan bagi para pembangunnya.


Di tengah-tengah tripBangkok yang lalu, saya menyempatkan untuk melipir ke Kanchanaburi  selama dua hari satu malam. Detour  ini dipicu oleh film The Railway Man yang saya tonton sebelumnya. Film yang dibintangi oleh Collin Firth dan Nicole Kidman ini berkisah tentang efek traumatis dari penyiksaan tahanan perang Sekutu oleh Jepang yang terjadi di Thailand, khususnya di Kanchanaburi. Seperti yang kita tahu, tentara Jepang kalau menyiksa bisa sangat sadis. Itu pula yang terjadi di Kanchanaburi di sekitar tahun 1942-1943, dan ini adalah kisah nyata.

Perjalanan dari Bangkok ke Kanchanaburi naik mobil memakan waktu sekitar 2,5 jam. Tujuan pertama di sana adalah jembatan sungai Khwai Yae. Jembatan ini berfungsi sebagai rel kereta, juga penyeberangan untuk pejalan kaki. Ia terkenal akibat sejarahnya yang pernah dua kali dibom oleh Sekutu. Mungkin bagi wisatawan Indonesia situs ini kurang populer, tapi sudah banyak sekali wisatawan di sana yang datang dari berbagai negara.

May 10, 2018

Penasaran dengan Pameran Yayoi Kusama di Museum MACAN?


Diarahin pose kalem dan sendu ala Instagram, jadinya kayak begini.


Polkadot di mana-mana. Dari yang kecil sampai besar, dua dimensi sampai tiga dimensi, hitam putih sampai berwarna-warni, dan bermacam-macam bentuk. Pemandangan ini saya lihat di Museum MACAN ketika menghadiri malam pembukaan pameran “Life Is the Heart of A Rainbow” tanggal 8 Mei lalu. Pameran ini menampilkan karya-karya Yayoi Kusama, seniman Jepang yang telah berkarier selama tujuh dekade secara internasional.

Saya mengetahui tentang Yayoi Kusama baru tahun lalu, dari Instagram teman-teman yang melihat pamerannya di Singapura. Kala itu saya hanya berpikir, “Oh, polkadot. Apa istimewanya, sih?”

Ternyata Yayoi banyak menggunakan polkadot untuk mengekspresikan halusinasi yang dialaminya waktu kecil. Ini akibat Yayoi yang berperasaan halus sempat mengalami tekanan akibat tidak didukung keluarganya untuk menjadi seniman, ditambah lagi tekanan dari kondisi Jepang setelah pemboman di Hiroshima dan Nagasaki. Sebelum itupun ia merasa bisa berkomunikasi dengan labu dari perkebunan milik keluarganya.

May 6, 2018

Bangkok, Dari Yang Mainstream Sampai Non-Mainstream


Untuk yang pertama kali ke Bangkok, biasanya akan mengunjungi berbagai kuil, istana, Khaosan Road, dan belanja di Catucak. Saya pun dulu begitu. Bahkan sampai sekarang, sudah beberapa kali ke Bangkok, masih ada hal sama yang saya lakukan dengan kali pertama ke sana di tahun 2006. Beberapa bagian di Bangkok memang begitu mengesankan, sehingga saya rela mengulanginya. Tapi masih banyak bagian Bangkok lainnya yang patut dijelajahi. 

Akhir tahun kemarin saya berlibur ke Bangkok (dan Kanchanaburi) dengan keluarga. Tapi karena usia 6 (keponakan saya) hingga 74 tahun (ayah saya) tentu berbeda-beda sekali kesukaannya, saya dan Diyan lebih banyak melakukan kegiatan secara terpisah dari mereka.

Flight to Bangkok.

Apr 14, 2018

A Little of Life Update


Hello, there.

I'm not sure anyone would notice, but the whole month of March I didn’t post anything on this blog. It wasn’t because I was busy traveling. I was busy working. Yeah. I joined the 9-6 force, once again.

The job started on March 1. I’m not gonna mention the name of the company here, but it is a media that revolves around design. I can’t say I’m enjoying it 100% (just yet), but it is something I need to do at least for now. I do like the fact that it opens my horizon on design, and potentially helps to increase my knowledge on running a business and my skill in treating people. The down side is, predictably, I don’t have a flexible schedule anymore, let alone to travel. Even a weekend getaway feels tiring, just thinking about it. On weekends I'd rather lay low at home or just wandering around in town a few hours.

Apr 4, 2018

Hydra dan Insiden Sakit Perut



Sejak mulai menyusun rencana perjalanan ke Yunani bertahun-tahun sebelum berangkat, Hydra sudah menjadi salah satu tujuan saya. Yang paling bikin saya tertarik adalah bahwa di pulau ini tidak ada kendaraan bermotor, dan transportasi hanya dengan keledai. Namun akhirnya saya dan Diyan memutuskan untuk main ke Hydra seharian saja, hampir di penghujung perjalanan Yunani kami. Seperti kebanyakan orang, kami menjadikan Hydra destinasi one-day-trip dari Athena.

Kapal hidrofoil Flying Cat mengangkut kami berlayar selama dua jam dari pelabuhan Piraeus ke Hydra. Isi kapal turis semua, berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Laut dan langit yang biru cerah mengiringi perjalanan dan menyambut kami di pelabuhan Hydra. Jajaran gedung abu-abu dan kucing-kucing menggemaskan menjadi pemandangan pertama kami di sana.

Kota Hydra Port, tempat pelabuhan berada, adalah bagian teramai di Hydra. Barisan keledai dan para penuntunnya menanti para turis yang baru saja turun dari  kapal. Saya yang dulu semangat ingin mencoba naik keledai di Hydra, telah berubah pikiran sebelum berangkat ke Yunani. Pasalnya, ada beberapa tulisan di internet yang menyatakan bahwa kesejahteraan keledai-keledai pekerja keras ini belum tentu terjamin. Saya tidak tahu pasti kebenerannya. Dan sayangnya, kami gagal ke donkey sanctuary ketika di Pulau Kreta, sehingga batal mendengar langsung cerita tentang nasib keledai di sana. Kebetulan tujuan utama kami di sana adalah trekking ke Profitis Ilias Monastery, jadi memang tidak perlu naik keledai.

But first, Greek Salad.

Feb 26, 2018

Bulan Januari dan Hygge dari Denmark [Review Buku “The Little Book of Hygge”]




Bulan Januari selalu punya rasa tersendiri bagi saya. Hari-hari sering diwarnai dengan hujan, langit cenderung sering kelabu, AC jarang dinyalakan karena suhu udara lumayan sejuk, dan, terutama dalam dua minggu pertama, orang-orang masih santai karena sebagian masih dalam hawa liburan dan beban pekerjaan belum menumpuk. Hujan, sejuk, dan santai. Kombinasi terbaik bagi saya untuk menikmati segelas teh hangat dan buku atau majalah, di samping Diyan yang asyik membaca komik-komik zombie kecintaannya sambil menyeruput kopi hangat. Sesekali kami ngobrol, membahas bagian cerita dari bacaan masing-masing, dan membenarkan posisi duduk – biasanya salah satu di sofa dan lainnya di karpet, masing-masing dengan dua bantal empuk.

Begitulah salah satu perwujudan konsep hygge dalam keseharian saya. Tentunya pengalaman itu tidak pas sepenuhnya dengan definisi hygge karena konsep ini berasal dari Denmark. Konsep hygge ini spesifik karena sangat melekat dengan budaya dan kondisi fisik negara Denmark, yang jelas sangat berbeda dengan di Jakarta, tempat saya tinggal. Saking uniknya, usaha Meik Wiking menjelaskan arti hygge pun membutuhkan satu buku berisi 285 halaman, lengkap dengan ilustrasi visual – yang membuat saya tertarik dengan buku ini pada awalnya. Dan “The Little Book of Hygge” karya Meik Wiking ini bukanlah satu-satunya buku yang mencoba menjelaskan makna hygge.

Feb 21, 2018

Suatu Hari di Pasar Baru



Sudah lama rasanya nggak sketching bangunan langsung di depan bangunannya. Maka kemarin pagi saya putuskan untuk pergi ke Pasar Baru, khusus buat sketching. Dan kenapa Pasar Baru? Karena bosan Kota Tua dan nggak kepikir tempat lain lagi di Jakarta.

Maksud hati mau ke Pasar Baru (aka Passer Baroe) naik bus TransJakarta (TJ) all the way, tapi ternyata rutenya muter-muter. Jadi saya naik bus TJ dari Rasuna Said ke Monas saja, lanjut dengan ojek.

(Setelah dipikir-pikir, sebenarnya baru bulan lalu di Jogja saya gegambaran di pinggir jalan begitu, dan bulan lalunya di Bangkok, dan bulan lalunya lagi di Ipoh. Hahahaa.. ternyata belum lama. Ya, berarti memang lagi pengen urban sketching aja.)