Sep 22, 2019

Kembali ke Abad Pertengahan di Ghent, Belgia


-->



Saya dan Diyan mendapatkan rekomendasi untuk berkunjung ke Ghent dari seorang turis Belgia yang nggak sengaja bertemu kami waktu di Bali beberapa tahun lalu. Katanya, dibandingkan dengan Bruges yang lebih terkenal berkat film “In Bruges” yang dibintangi Colin Farrell, Ghent tak kalah indah dan antik, dan tidak seramai Bruges. Teman saya, Deazy, yang sudah 10 tahun tinggal di Belgia pun bilang begitu. Maka kami putuskan untuk bermain-main di Ghent seharian.

Karena kebiasaan bergerak santai di pagi hari, kami baru tiba di Ghent, atau Gent, menjelang tengah hari. Baru sebentar sampai di downtown, hujan gerimis menyambut. Kami berteduh di sebuah toko coklat, dan langsung disambut kebingungan memilih coklat dari begitu banyak varian. Jangan tanya apa saja variannya karena saya sudah lupa. Tapi saya ingat betul menikmati lezatnya coklat-coklat imut itu di meja depan toko sambil menunggu hujan reda. Menengok ke kanan dan kiri, bangunan tua masih banyak berdiri kokoh. Lonceng gereja terdengar lantang, mungkin dari gereja Saint Nicolas, salah satu landmark kota itu. Rombongan turis berbaris tertib di seberang jalan, memakai jas hujan dan payung, berjalan mengikuti pemandu tur.

Sep 18, 2019

Mencari Komik, Art Nouveau, dan Wafel di Brussels


-->



Brussels adalah entry point saya ke Belgia. Dilihat sekilas, benar saja kata teman saya bahwa Brussels nggak secantik Paris. Tapi nggak masalah, karena saya ke sana untuk berkunjung ke museum komik, melihat gedung-gedung Art Nouveau, makan waffle dan kentang goreng. 


Berburu Gedung Art Nouveau

Dari mata kuliah Sejarah Seni Rupa dulu saya mengetahui ada aliran seni yang namanya Art Nouveau, yang berkembang pada tahun 1890-1910. Tapi saya baru tahu bahwa gaya ini berkembang di Brussels, salah satunya karena perekonomian Brussels yang sedang berkembang waktu itu. Art Nouveau bisa ditemukan pada arsitektur, perabot, mode pakaian, hingga poster dan font. Ciri khas gaya yang dekoratif ini adalah bentuk floral dan sulur yang organik, serta penggunaan materi baja dan besi pada bangunan.

Jul 16, 2019

Tujuan ke Belgia: Museum Hergé!




“Gue senang deh, lo di Belgia lumayan lama. Orang tuh sering cuma lewat doang. Abis liburan di Paris, terus langsung ke Amsterdam, mampir makan siang doang di Brussels,” ujar Deazy, teman saya yang sudah menetap lebih dari 10 tahun di Rotselaar, kota kecil dekat Brussels.

Secara geografis, Belgia memang diapit Prancis dan Belanda. Saya dan Diyan mengalokasikan waktu 6 malam 7 hari di Belgia dalam perjalanan sebulan kami diEropa. Empat malam menginap di rumah Deazy dan suaminya di Rotselaar, dan dua malam menginap di Airbnb di Antwerp. Dari Rotselaar, kami melakukan day trips ke Brussels, Leuven, Ghent, Tervuren, dan Louvain-la-Neuve. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan ngapain saya ke kota yang terakhir disebut tadi.

Jun 17, 2019

PARIS, JE T'AIME


-->

Menara Eiffel sore dan malam hari.


Saya nggak berharap macam-macam terhadap Paris. Malah, tadinya kota ini nggak masuk itinerary kami karena sudah teramat sering melihat foto-fotonya di berbagai media. Yang membuat kami memilih Paris adalah karena kami dapat tiket Etihad dengan harga oke ke sana, sebagai gerbang perjalanan Eropa kami kali ini. Namun, ekspektasi saya salah. Ternyata ibukota Prancis ini mampu membuat kami berdecak kagum hampir di segala sudutnya!

KESAN PERTAMA TENTANG KOTA PARIS


Di penghujung musim semi yang masih saja dingin, Paris menyambut kedatangan kami dengan gedung-gedungnya yang cantik. Bentuk atapnya khas seperti trapesium, yang disebut ‘Mansard roof’. Ukiran detail menghiasi fasad, dari yang berbentuk flora hingga Medusa dan para malaikat kecil. Pagar balkon tak kalah detailnya, mempercantik gedung-gedung yang usianya sudah lebih dari seabad. Dari bandara kami turun di stasiun metro Sully-Morland, lalu jalan kaki 400 meter ke Airbnb. Kamar yang kami sewa berada di unit apartemen di lantai 4 di gedung sudah berdiri sejak tahun 1905 dan tidak ada lift. Lumayan juga ngangkat koper sampai ke lantai 4 - dan nomor lantai dimulai dari G, bukan 1, jadi sebenarnya kami naik ke lantai 5! 

Jun 4, 2019

Budget dan Itinerary Keliling Eropa 31 Hari




Sejujurnya, saya bingung mesti mulai bercerita tentang trip Eropa kemarin dari mana. Menginap di enam negara, delapan kota, dan day trip ke beberapa kota, banyak sekali yang berkesan. Semua dilakukan dalam 31 hari, wira-wiri naik bus, kereta, trem, pesawat, dan perahu. Cuaca dingin sampai ke 2°C di pagi hari, ditambah angin yang suka seenaknya berembus, tapi kadang juga cukup hangat sampai 20°C. Di Copenhagen, kami bahkan mengalami hujan es blutak-blutuk selama 5 menit. Di Berchtesgaden, salju turun, padahal sudah bulan Mei!

Macam-macam sekali yang kami alami dan kami lihat dalam tiap destinasi, tapi ada beberapa benang merah yang bisa saya tarik. Saya merasa – ini memang sudah jadi rahasia umum – kualitas hidup di sana baik sekali, dan itu dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari udara yang bersih, sampah yang jarang berserakan, transportasi umum yang memadai dan jelas jadwalnya, sampai WC umum yang kebanyakan bersih dan terpelihara. Banyak tersedia ruang publik yang nyaman, begitu juga ruang berekspresi seni – banyak sekali museum/galeri seni dan desain di sana. Air keran aman untuk diminum, dan banyak bangunan tua yang masih terpelihara dan berfungsi dengan baik. Tentunya semua itu saya lihat dari kacamata wisatawan yang singgah cuma 2-5 hari di masing-masing kota. Bagi warganya, pasti ada saja hal-hal yang masih bisa dikeluhkan. (Dan entahlah apa saja yang ‘membayar’ semua ‘kemewahan’ itu di dunia belahan lain.)

Apr 1, 2019

Cara Daftar Visa Schengen Via Prancis Lewat TLS


-->



Senangnyaaa! Alhamdulillah saya dan Diyan dapat visa ke Schengen lagi. Di tahun 2015 kami dapat visaSchengen via kedutaan Yunani untuk jalan-jalan di sana selama sebulan. Sekarang kami akan pergi ke beberapa negara, juga untuk sebulan.

“Hah? Sebulannn?? Lama amat!” itu komentar yang sering saya dengar. Yah, udah mahal-mahal beli tiketnya, dan udah ikut nyumbang jejak karbon di udara, sayang dong kalau di sana cuma semingguan. Hihihi.

Nah, bagaimana pengalaman saya daftar visa Schengen kali ini?

Jan 26, 2019

4D3N Lasem Itinerary



Di artikel sebelum ini saya sudah cerita tentang tempat-tempat yang saya kunjungi serta sketsa-sketsa yang saya gambar di Lasem. Karena udah ada beberapa teman yang nanya itinerarynya, kali ini saya bagi di sini juga deh.

Tapi ingat, ya. Ini itinerary berdasarkan perjalanan saya, yang sebagian waktunya digunakan untuk sketching. Jadi, kegiatannya nggak padat dan banyak tempat wisata yang nggak saya kunjungi. Kalau kamu nggak suka sketching, bisa juga contek aja tempat-tempatnya.

DAY 1

Pagi: 
Naik pesawat Jakarta-Semarang.

Naik bus Jaya Utama AC dari Semarang (nunggu bus di depan pos polisi sebelah Rumah Sakit Islam Sultan Agung). Bus ini jurusan Surabaya, turun di Lasem (pertigaan besar). Perjalanan sekitar 3 jam. Tarif Rp40.000/orang. Kalau yang non-AC Rp25.000.