Aug 21, 2017

Sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo yang Seru Banget!



Sudah berkali-kali ke DI Yogyakarta sejak kecil, saya belum juga bosan dengan provinsi ini. selalu ada saja hal baru bagi saya, yang menarik untuk dicoba, dilihat, atau dicicipi. Di bulan Juli lalu, saya dan Diyan ke Yogyakarta dengan tujuan utama menghadiri resepsi pernikahan teman.

Tapi tentunya lebih banyak jalan-jalannya, dong!

Di sini saya akan cerita tentang salah satu saja aktivitas kami di Yogyakarta waktu itu.

***

Dimulai dengan niat berangkat jam 5 pagi, kami molor jadi berangkat jam 5.10. Lumayanlah, ya, cuma telat 10 menit. Untuk standar Indonesia, itu nggak telat!

Jadi, ngapain berangkat pagi-pagi amat?

MAU MAIN SANDBOARDING DI GUMUK PASIR PARANGKUSUMO!

Horeee!

Kegiatan ini sudah beken mungkin sejak 1-2 tahun yang lalu. Beberapa teman saya juga sudah mencobanya. Akhirnya saya pun punya kesempatan mencoba!

Jul 21, 2017

The Sun Has Set for Chester Bennington




13 November, 2007.

Siang hari, pesawat yang saya dan teman-teman kantor tumpangi melandas di Changi International Airport, Singapura. Bergegas kami melalu meja imigrasi, lalu menyewa taksi ke Hotel Peninsula Excelsior. Check-in, lalu kami menyimpan tas di kamar hotel. Hanya berselang sekitar 2 jam kemudian saya dan 3 teman, Indri, Lena, dan Martin, menuju Singapore Indoor Stadium dengan bukti pembelian tiket konser Linkin Park.

Saya gembira sekali waktu itu. Memang, saya agak telat menggemari Linkin Park. Ketika di tahun 2004 teman-teman saya seru nonton konser mereka di Jakarta, saya belum menyukai band asal California ini. Saya nggak ingat bagaimana kemudian saya jadi menyukai dan memasukkan lagu-lagu mereka ke playlist saya. Yang saya ingat, vokal Chester adalah salah satu magnet Linkin Park bagi saya. Maka ketika ada trip konferensi di Singapura yang kebetulan dekat tanggalnya dengan konser Linkin Park di Singapura, saya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Harga tiket kelas festival waktu itu S$150, dengan kurs yang masih jauh lebih murah dari sekarang, tapi tetap cukup mahal bagi saya.

Jul 9, 2017

Bermain di Chiang Rai, Kota Paling Utara Thailand

Pas buka folder lama, baru sadar perjalanan ini belum pernah diceritakan di blog.
Some things have changed, but the memory remains. 


“Yeay! Kita ke Chiang Mai! Mau ke White Temple!” saya dan Mumun bersorak gembira.
“White Temple? Itu, kan, adanya di Chiang Rai,” sanggah Abud, teman kami waktu itu.
“Hah? Di Chiang Mai!” saya ngotot.
“Di Chiang Rai! Coba cek, deh!”
Lalu saya mencarinya di Google, dan Mumun ikut mengintip.

Oh.

“Oke! Kalau begitu kita ke Chiang Rai!” saya dan Mumun kembali bersorak gembira.

Jadi, begitulah awalnya kenapa kami, beserta Vindhya dan Uci, ke Chiang Rai, dalam rangkaian perjalanan Laos-Thailand di bulan April, 2012. Saya sendiri tak punya harapan tertentu tentang kota yang hanya satu jam perjalanan dari Chiang Mai ini. Kebanyakan informasi tentang Chiang Rai justru kami dapatkan dari pemilik guesthouse, setelah kami check-in. Dia juga yang mencarikan mobil serta supirnya untuk mengantarkan kami ke tempat-tempat wisata di Provinsi Chiang Rai, yang masih di sekitar kota Chiang Rai. Ternyata, White Temple bukan satu-satunya hal menarik di provinsi paling utara Thailand ini. Masih ada pasar malam, Black House, The Golden Triangle, dan Museum of Opium.

Jul 1, 2017

Berawal dari Catacomb, Berakhir di Sarakiniko


Pulau Milos merupakan pilihan Diyan dalam rangkaian perjalanan kami di Yunani. Alasan ia memilih Milos adalah karena adanya Catacomb, yaitu kompleks kuburan di dalam gua buatan manusia, yang sudah berumur 15 abad lebih. Dalam 3 hari 2 malam di Milos, hanya sekitar 1 jam kami habiskan di Catacomb. Sisanya, selain bermain di Plaka, kami lebih banyak mengunjungi tempat-tempat yang berada di pinggir laut: pantai Sarakiniko, desa nelayan Pollonia dan Klima, serta kota pelabuhan Adamantas.




ADAMANTAS / ADAMAS

Pintu besar Zante Ferry perlahan turun. Saya dan Diyan berada di antara para penumpang, tak sabar untuk menjejakkan kaki di pulau Milos, pulau kedua yang kami datangi di Kepulauan Kyklades. Langit biru elektrik dan jajaran bangunan putih-biru menyambut, dan kami segera menemui John dan Andreas, host Airbnb yang telah menunggu dengan mobil mereka di pelabuhan.

Kota pelabuhan ini bernama Adamantas, atau sering juga disebut Adamas, terletak di teluk bagian tengah pulau Milos. Saat itu penghujung musim semi, belum banyak turis yang datang. Suasana Adamantas cenderung sepi dan kalem untuk standar sebuah pelabuhan yang biasanya saya tahu. Jauh lebih sepi dibandingkan pelabuhan di Fira, Santorini, yang merupakan bintang pariwisata Yunani.

Selama di Milos, dua kali kami bersantap sore di Adamantas. Dua-duanya di meja luar dan menghadap ke laut, tapi di dua taverna yang berbeda. Makanan yang kami coba acak saja, dari kentang sampai kerang yang segar. Ouzo, minuman keras khas Yunani, juga kami coba. Warnanya bening seperti air putih, sampai kami memesannya dua kali

Jun 22, 2017

Sebentuk Kehangatan di Plaka, Milos



Deretan meja kursi berwarna-warni berjemur di luar bangunan berdinding putih. Pintu dan jendela tertutup rapat. Tampaknya taverna ini masih tutup walaupun kala itu sudah hampir tengah hari. Hanya seekor kucing makhluk hidup yang tampak di antara kursi-kursi, sibuk menjilat badannya sendiri dengan mata terpicing. Kami berjalan lagi menyusuri gang, sampai ke bangunan yang di luarnya terdapat meja kursi dan pintu yang juga tertutup rapat.

“Sudah buka, belum, ya?” saya bertanya setengah berharap.

Sekelebat bayangan orang terlihat di balik pintu bagian dalam taverna. “Tuh, sudah ada orangnya. Kita duduk aja,” sahut Diyan tanpa beranjak dari tempat ia berdiri.

Kalimera!” sapa seorang pria berkepala plontos di bagian atas, berperut tambun, bermata tajam, yang tiba-tiba saja keluar dari pintu di hadapan kami sambil membawa selembar kertas besar di tangannya.

Jun 20, 2017

Merayakan Hari Istimewa di Plataran Menteng


Pada tanggal 16 Juni yang baru saja lewat, saya dan Diyan merayakan ulang tahun pernikahan ke-4. Di tiga tahun sebelumnya kami merayakan hanya dengan nonton di bioskop atau makan malam berdua entah di mana, saya lupa. Entah kenapa, kali ini Diyan melontarkan ide lain. “Kita rayain di Plataran Menteng, yuk!” katanya. Sontak saya mengiyakan, karena memang sudah cukup lama ingin mencoba makan di sana.

Proses reservasi sedikit alot karena Plataran Menteng laris manis untuk acara buka puasa. Setelah mencoba dua kali, akhirnya kami dapat meja, walaupun baru bisa mulai di jam 20.30.

Plataran Menteng adalah bagian dari grup Plataran yang bergerak di bidang hospitality, mencakup restoran dan hotel. Belum satupun cabang mereka yang saya datangi sebelumnya. Yang membuat saya penasaran adalah karena bangunan Plataran Menteng ini terlihat cantik dan anggun, serta menyajikan menu makanan Indonesia. 

(Baca juga tulisan tentang restoran Indonesia favorit saya: Tugu Kunstkring Paleis


Meja di kanan itu tempat kami bersantap malam. 


Jun 5, 2017

Tertib Saat Naik Pesawat




Naik pesawat itu asyik bagi saya. Bisa melihat bumi dari atas, sesuatu yang jarang bisa saya (dan kebanyakan manusia) lakukan. Bisa mencapai tempat lain dengan cepat (minus macet menuju bandaranya). Saya juga suka melihat berbagai hal yang compact di pesawat, seperti meja lipatnya, container makanan yang didorong pramugari, bahkan kompartemen-kompartemen dalam toilet. Namun, ada yang sering mengganggu saya hampir setiap perjalanan naik pesawat, yaitu kelakuan-kelakuan penumpangnya.

Banyak dari para penumpang ini terlihat serba ingin buru-buru, lalu membuat kondisi jadi semrawut. Entahlah mereka memang benar-benar terburu-buru, atau sekadar tidak sabar. Yang jelas, keterburu-buruan ini sering melanggar peraturan yang sudah diperingatkan oleh petugas yang berwenang di bandara ataupun di pesawat. Kalau saja semua penumpang patuh, saya yakin keadaan akan lebih teratur dan nyaman.

Mungkin saya pun pernah luput dari peraturan-peraturan ini sekali dua kali. Sekalian sebagai pengingat untuk diri sendiri, saya mau menjabarkan beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan sebagai penumpang pesawat. Yuk, ikut baca, siapa tahu ada yang kamu pun belum tahu, atau mungkin bisa mengoreksi saya juga. 

Ketika Masuk ke Pesawat 

-       Antre untuk boarding kalau nomor tempat duduk kamu sudah dipanggil.
Beberapa maskapai berusaha mengatur alur penumpang masuk ke pesawat dengan memanggil penumpang bernomor tempat duduk besar (bangku-bangku di deretan belakang). Misalnya dari nomor 15-30, baru setelah itu nomor 1-14. Ini dilakukan jika hanya pintu masuk depan yang dibuka. Bayangkan kalau penumpang bangku nomor 1-14 misalnya masuk duluan dan rempong mengatur tas-tas mereka di kompartemen atas bangku, kemudian penumpang nomor 15-30 akan terhambat untuk mencapai bangku mereka. Semrawut, kan?