Dec 7, 2016

2016: Tahun yang Penuh Naik Turun dan Mula dari Sketch Journal

Kalimat yang sering dilontarkan di bulan ke-12 tiap tahun adalah, “Gila! Udah mau tahun baru aja! Nggak terasa!” Apa boleh buat, saya pun sering mengatakan itu karena kalau sudah bulan Desember rasanya setahun ini lewat begitu saja. Padahal kalau diingat-ingat lagi, cukup banyak hal yang saya alami, khususnya di tahun 2016 ini. Mulai dari trip ke berbagai destinasi, mencicipi yang namanya ngantor lagi, hingga memulai bisnis kecil-kecilan. Lewat tulisan ini saya mau bernostalgia sedikit, sambil mengingat-ingat sudah seproduktif apa saya selama setahun.




Trip Dalam dan Luar Negeri


Di tahun 2016 ini saya terbilang sedikit jalan-jalan, setidaknya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di kuartal pertama ada trip yangdisponsori Kemenpar ke Singkawang (Kalbar), trip ulang tahun ke Lombok, dan trip ke Singapura untuk nonton konser Madonna.

Menjelang konser, saya sedang terancam kehilangan projek langganan, yang berarti terancam kehilangan pendapatan. Atas nama nge-fans sejak kecil, saya bela-belain ke Singapura. Hasilnya, selain puas akhirnya nonton Madonna live, saya juga senang karena melakukan hal-hal baru di sana, seperti menikmatimatahari terbenam di Henderson Waves.

Saat ke Lombok, status saya sudah pengangguran. Bebas, nggak mesti bawa pekerjaan pas jalan-jalan seperti biasanya. Tapi juga segala hal mesti diirit. Namun, trip Lombok ini sangat menyenangkan. Saya dan Diyan ke tempat-tempat yang tenang dan indah, dan bertemu orang-orang baik, terutama host Airbnb kami, Bu Vera.

Sedangkan dari trip Singkawang, saya mendapatkan banyak teman baru sesama blogger. Sampai sekarang grup WhatsApp kami masih aktif, membicarakan segala macam hal sampai curhat, walaupun secara fisik nggak semua sering bertemu.

Kelar konser Madonna. 


Rumah berusia seabad lebih di Singkawang.

Main ke pantai yang cakep dan masih sepi di Lombok.

Berikutnya, beberapa kali saya bolak-balik ke Bandung. Selain untuk menraktir Shasya karena saya kalah taruhan, juga untuk nonton konser Yuna, penyanyi favorit saya dari Malaysia. Dalam trip Bandung, saya selalu menyempatkan sarapan Bubur Ayam Pak Zaenal, favorit saya sejak 20 tahun yang lalu!

Di semester kedua tahun 2016, beberapa kota di Jawa menjadi destinasi saya. Ke Semarang dalam rangka International Semarang Sketch Walk, ke Pekalongan dalam rangka belajar bikin batik indigo alami, ke Yogyakarta dalam rangka menggambar dan mengeksplor Kotagede, ke Liyangan karena penasaran dengan kota terkuburnya, dan ke Solo dalam rangka famtrip kota Solo dan sekitarnya. Sekarang masih ada beberapa minggu sebelum 2016 berakhir, semoga rencana mengerjakan suatu projek di Lasem segera menjadi kenyataan.

Lovely Yuna live in Bandung.
Tur di kota terkubur bersama arkeolog yang diatur oleh Gelar.

Salah satu hasil sketsa saya selama bermain di Yogyakarta.


Sempat Ngantor…3 Bulan Saja


Setelah kehilangan pendapatan tetap mulai bulan Maret, sekitar 3 bulan kemudian saya mulai gelisah karena tabungan semakin menipis, dan projek lain tak selalu ada. Dengan terpaksa saya melamar pekerjaan lagi sebagai pegawai. Di pertengahan bulan Juli, saya bekerja kantoran di bidang fintech. Gajinya oke banget, teman-teman tim saya menyenangkan, tapi sayangnya saya nggak menyukai jenis pekerjaannya, dan nggak cocok dengan cara kerja si bos. Daripada kaya tapi sakit-sakitan karena stres, lebih baik saya berhenti. Saya cukup menyelesaikan masa probation selama 3 bulan. Buat saya, kantor ini nggak lulus probation.

Sebelum resign, sudah ada kontrak projek yang saya tanda tangani. Sebuah projek yang menggunakan jasa saya sebagai tukang gambar. Hore! Impian yang jadi kenyataan, menjadikan hobi gambar saya sebagai sumber penghasilan juga, dan bisa dikerjakan di rumah! Secara penghasilan memang menurun drastis, tapi Diyan pun bisa melihat mata saya berbinar-binar setiap membicarakan soal menggambar, dan berkaca-kaca setiap curhat soal pekerjaan kantor. Jadi, saya tahu ini adalah pilihan yang tepat.

Perpisahan di hari terakhir, tapi tetap keep in touch, dong!


Dari Sketsa Menjadi @byviratanka


Pas saya mulai ngantor lagi di bulan Juli itu, saya juga memulai bisnis kecil-kecilan. Sketsa-sketsa yang saya jadikan scarf, ternyata ada juga peminatnya. Jadilah saya ‘sis online buka PO’. Berawal dari sketsa-sketsa yang sudah ada, lalu saya juga membuat beberapa desain untuk dijadikan scarf. Sekarang bukan hanya scarf, saya juga sudah membuat tote bag, tumbler, casing HP dan mug.

Pesanan masih naik turun, dan masih banyak yang perlu saya lakukan untuk mengembangkan bisnis ini. Setelah 3 bulan, saya membuat katalog (bit.ly/scarfviratanka) berdasarkan permintaan, kemudian akun Instagram khusus produk-produk ini, yaitu @byviratanka, dan menggunakan tagar #byviratanka seperti yang disarankan teman saya, Nita. Selanjutnya, saya ingin mencari tempat-tempat offline yang bisa saya titipkan produk-produk ini. Mungkin toko, kafe, atau galeri. Ada yang bersedia kalau saya titipkan produk di tokonya? :D

A photo posted by Vira Tanka (@byviratanka) on




Memulai Sketch Journal


Sudah lama saya ingin membuat jurnal perjalanan dengan gaya scrapbook, tapi entah kenapa selalu gagal. Sekarang dengan hobi sketsa, saya mulai rajin membuat jurnal perjalanan yang digabungkan dengan sketsa. Saya menyebutnya Sketch Journal, atau biasa diberi tagal #sketchjournal di Instagram. Format ini sangat menyenangkan karena merupakan gabungan dari hal-hal kesukaan saya: sketsa, tulisan singkat, dan tempelan-tempelan kenangan dari perjalanan seperti tiket dan label.

Peralatan yang selalu saya bawa untuk membuat sketch journal dalam perjalanan: buku sketsa, pena, cat air dan kuas edisi travel, lem Glukol, dan spidol Pigma Sakura ukuran FB. Pernah saya lupa membawa lem, walhasil saya gunakan cara lama untuk menempelkan tiket: pakai nasi!

Sketch journal ketika pulang dari Bandung ke Jakarta, digambar di kereta api.


Ini juga dalam perjalanan pulang, dari Solo ke Jakarta.


Indohoy.com Jalan Terus!


Dalam suatu projek yang akhirnya gagal terwujud, saya danMumun sepakat bahwa sulit memadukan unsur gambar saya dengan tulisan perjalanan Indohoy secara adil. Sejak itu, urusan gambar-menggambar hampir selalu saya jadikan projek pribadi saja. Namun begitu, Indohoy.com tetap jalan terus. Memang, frekuensi kami menulis sudah berkurang, akibat kesibukan masing-masing. Tapi saya dan Mumun masih menjalankan misi kami dari awal, yaitu berbagi informasi tentang jalan-jalan di Indonesia lewat blog yang sudah berumur 7 tahun ini.

Trip-trip yang disponsori Kemenpar ataupun Disbudpar yang kami ikuti adalah salah satu bentuk keberlangsungan Indohoy. Terkadang Mumun, terkadang saya yang berangkat. Kami pun sedang menyiapkan projek kecil di akhir tahun ini. Semoga terlaksana!

Bagaimana dengan tahun 2016 kamu? Pengalaman menarik apa saja yang terjadi selama setahun ini?








Oct 6, 2016

Vira Berlibur di Fira, Santorini

Saya terkejut senang ketika mulai mencari tahu tentang Pulau Santorini dan menemukan bahwa nama ibukotanya adalah Fira. Nama ini seperti ejaan yang salah tapi berlafal sama dengan nama saya. Sebenarnya ini nggak berpengaruh ke apapun, saya cuma senang saja karena seolah-olah nama saya terabadikan di pulau impian. Kadang-kadang Fira juga disebut Thira, yaitu nama area ini dari masa kuno.



Letak Fira di tengah-tengah Pulau Santorini, sisi barat. Menuju ke sana, kami berlayar selama 7 jam dari pelabuhan Piraeus, Athena. Dari pelabuhan Old Port menuju ke Fira sebenarnya cuma sekitar 1,3 km, tapi dibutuhkan stamina dan keinginan kuat karena jalanannya menanjak. Kami sendiri naik mobil travel ke Oia karena jadwal menginap di Fira justru di hari-hari terakhir kami di Santorini.

Menginap 2 hari 2 malam di Fira, cukup banyak tempat wisata yang sempat kami kunjungi di sekitar kota dengan bermodalkan motor sewaan, selain berjalan-jalan dengan kaki di pusat keramaian kotanya.

Vira di Fira.


Kota Fira, Santorini


Kota Fira memiliki kontur naik turun dan banyak tangga di gang-gang sempit seperti umumnya gambaran tentang Yunani. Beragam kafe, restoran, toko, tempat spa, dan suatu gereja besar berkumpul di pusat kota Fira, bertepikan kaldera dan pemandangan laut biru tua yang tenang. Kami berjalan kaki menjelajahi pusat kota di antara turis-turis dari belahan dunia lain, bahkan ada pula keluarga kecil dari Indonesia dengan bayinya di stroller. Terbayang repotnya menggotong-gotong stroller setiap bertemu tangga, tapi semoga si bayi mendapatkan ingatan yang menyenangkan akan Fira.

Lelah berjalan kaki, kami duduk sebentar di salah satu bangku yang menghadap kaldera. Bangku-bangku ini jadi rebutan bagi para turis karena pemandangan iconic yang ditawarkan. Kami pun baru mendapatkan tempat di bangku ini setelah menunggu sekawanan turis Asia lainnya kelar berfoto ria di situ. Ketika melintas di depan gereja untuk menuju bangku ini, tak sengaja saya mendengar percakapan seorang pria dengan dua orang perempuan. Pria ini, yang tampaknya hampir setengah baya, membangga-banggakan pengalamannya backpacking keliling dunia, dan bagaiman pengalaman itu sangat membuka pikirannya tentang banyak hal. Agak geli mendengarnya karena terkesan sangat klise, tapi itu persis cerita yang sering saya baca di blog-blog perjalanan, dan mungkin saya pun pernah menulis demikian.

Sep 5, 2016

Sketching Bareng di International Semarang Sketch Walk 2016



Jenis perjalanan yang paling saya sukai akhir-akhir ini adalah yang memungkinkan saya untuk mensketsa apapun yang menarik sepanjang perjalanan. Lebih asyik lagi kalau memang berupa sketch trip, yaitu perjalanan yang dikhususkan untuk mensketsa. Contohnya, waktu saya mengikuti acara Urban Sketchers Symposium di Singapura di tahun 2015, seperti yang diceritakan di blog Sketchwalkers dan di Steller story saya yang ini.

Sekitar seminggu yang lalu, saya berkesempatan lagi untuk sketch trip. Nggak jauh-jauh, di Semarang saja. Ada hajatan #ISSW2016 alias International Semarang Sketch Walk 2016 selama 3 hari (26-28 Agustus 2016), tapi berhubung saya belum bisa cuti, jadi cuma ikut di hari Sabtu dan Minggu.

Isi acaranya ada sketch walk dan workshop. Sketch walk itu biasanya peserta jalan kaki ke lokasi-lokasi sketsa yang ditentukan panitia, tapi di ISSW kali ini ada juga lokasi sketch walk yang lumayan jauh dan ditempuh dengan bus. 

Aug 7, 2016

Oia, Kota Cantik di Santorini

I love Oia so much, I turned it into a sketch and then a scarf design


Ketika kamu punya ciri khas yang kuat, niscaya orang di sekeliling akan mengingatmu, bahkan menyesuaikan dan melebur denganmu.

Eh, tumben amat, saya menulis begitu. Saya bukan sedang bikin caption Instagram untuk memenangkan banyak love, juga bukan sedang membicarakan siapa-siapa. Yang saya maksud di atas adalah sebuah tempat.

Di sore hari akhir pekan yang lowong ini, akhirnya saya punya waktu untuk menuliskan hal-hal berkesan tentang Oia (baca: Iya). Kota di ujung barat laut Pulau Santorini ini telah memukau - saya yakin lebih dari - jutaan manusia di dunia, baik yang sudah pernah ke sana maupun yang baru melihat foto-fotonya, dengan keindahan alam dan arsitekturnya. Mungkin banyak orang, termasuk saya dulu, yang tak menyadari bahwa foto-foto Santorini yang paling khas biasanya mengambil tempat di Oia, atau difoto dari Oia.

Pulau Santorini secara keseluruhan memang indah, tapi Oia adalah daya tarik utamanya. Sering lihat pemandangan matahari terbenam di hadapan kubah gereja? Itu di Oia. Pernah membaca tentang toko buku Atlantis yang legendaris? Itu di Oia. Pernah melihat gang-gang sempit dengan tangga dan bangunan-bangunan putih dengan aksen biru tempat banyak pejalan kaki berlalu-lalang? Oia pun punya lokasi seperti itu.

Pemandangan di jantung kota Oia.


Saya dan Diyan menghabiskan tiga malam di Oia, di penghujung musim semi tahun lalu. Kota ini merupakan destinasi kedua kami selama di Yunani, setelah Athena. Tujuan utama kami di sana bisa dibilang tidak ada yang spesifik. Kami cuma ingin melihat-lihat dan merasakan suasana kota kecil ini, yang kadang juga disebut desa. Entahlah, kota atau desa, yang jelas Oia terasa klasik sekaligus meriah bagi kami.