Feb 28, 2017

Top 3 Destinastions on My Travel Wish List



Di tengah malam ini teman saya, Vindhya, bertanya, "Apa aja destinasi impian lo?" 

Damn! Susah banget dijawab, karena bakal panjang daftarnya! 

"Oke deh, sebutkan tiga aja!" ralatnya. Seolah-olah itu membuatnya jadi lebih gampang. Tapi okelah, saya jabanin pertanyaannya yang lebih terasa seperti tantangan ini.

Sebelumnya, saya beri tahu dulu bahwa ketiga destinasi ini nggak berarti ada di paling teratas, tapi merupakan tiga destinasi yang terpikir paling duluan. Ini dia.

Feb 27, 2017

Menyesal Cuma Semalam di Thessaloniki

“Hah? Sebulan? Yunani doang? Kenapa nggak ke negara lain juga?” Itu rata-rata respons orang ketika tahu durasi saya dan Diyan di Yunani. Yah, pengen sih ke semua negara di dunia ini, tapi juga pengen lihat banyak banget di Yunani. Sudah sebulan saja, menurut saya masih kurang. Kami batal ke Zakhintos dan Pulau Lesbos karena rutenya terlalu menyimpang dari tujuan-tujuan utama lainnya, dan menyesal karena hanya menginap satu malam di Thessaloniki.

Thessaloniki adalah kota besar di utara Yunani yang nggak menarik saat kami browsing saat membuat rencana perjalanan. Kami terpaksa ke Thessaloniki sebagai titik transit sebelum lanjut ke Meteora. Jadi, kami pikir satu malam saja cukup.

Ternyata kami salah.




Golden Palace Bagan, Istana Baru di Situs Bersejarah

Peluh membuat lengket rasanya di seluruh badan siang hari itu di Old Bagan. Gerah yang kami rasakan campuran dari kepanasan karena terik matahari dan kekenyangan setelah makan siang. Rasanya ingin menyejukkan diri di ruangan ber-AC, tapi kami masih ingin melihat lebih banyak lagi peninggalan sejarah di bagian tertua dari kota Bagan, Myanmar, ini. Pilihan tempat sejuk adalah museum, tapi kamu baru saja dari sana sebelum makan siang. Maka kami putuskan ke istana yang punya taman rindang, Thiri Zaya Bhumi Bagan Golden Palace.

(Baca juga: Restaurants in Bagan)



Golden Palace ini lokasinya hanya beberapa ratus meter dari gerbang masuk Old Bagan. Dikelilingi tembok tinggi bata merah, istana ini tak mungkin luput dari perhatian siapapun yang lewat situ. Memasuki area istana, saya disambut petugas yang menagih bayaran tiket sekitar $5 per orang. Dari situ, bangunan bernuansa emas dengan atap bertingkat-tingkat sudah terlihat. Pepohonan dan langit biru cerah menjanjikan kesejukan di taman istana.

“Ada kursi malas!” saya dan Diyan bergegas mendekati kursi bambu di taman. Ooooh, enaknyaaa duduk selonjoran dinaungi pohon rindang dan angin sepoi-sepoi. Ingin agak lebih lama duduk di situ, tapi kami keburu penasaran dengan bangunan istana dan melihatnya lebih dekat.

Feb 26, 2017

Menyusuri Farmers Market di Antara Gedung-gedung Thessaloniki

“Kita berhenti di mana ya?” tanya saya pada Diyan sambil celingak-celinguk ke luar bus kota. Diyan yang juga tampak bingung memerhatikan jalanan kota Thessaloniki, nggak menjawab. “Tadi ada banyak toko dan kafe berderet gitu, aku mau ke situ,” ungkap saya lagi, mengingat-ingat jalan yang kami lalui beberapa jam lalu, saat baru memasuki kota kedua terbesar di Yunani ini. Kartu SIM yang waktu itu kami gunakan, entah kenapa, nggak bekerja fungsi data internetnya, sehingga penggunaan internet hanya bergantung pada koneksi wifi gratisan, jadi nggak bisa cek Google Maps di jalan.

Putus asa mencari lokasi yang saya maksud, beberapa puluh menit kemudian kami memutuskan untuk turun di halte sembarang saja. Berjalan mengikuti perasaan, belok kanan belok kiri semaunya, tahu-tahu kami memasuki jalan kecil yang dipenuhi kios. Berwarna-warni tenda berderet di jalan khusus pejalan kaki yang diapit gedung-gedung bertingkat ini. “Wow, pasar!” seru saya. Farmers’ market, lebih tepatnya lagi. Tempat para petani menjual hasil dari ladangnya.



Berwadah-wadah besar buah zaitun, tomat, apel, stroberi, serta sayuran, paprika, bawang bombay, kacang-kacangan, dan banyak lainnya dijajakan di sana. Ada pula truk telur ayam menyempil di deretan kios. Eh, ada yang jual pisang juga, lho! Padahal bukannya pisang itu tanaman tropis, ya?

Para pedagang menjajakan dagangannya dengan seruan yang bersemangat. Miriplah dengan pasar di Indonesia, cuma bedanya pedagang-pedagang ini rata-rata berbadan besar, bersuara lebih menggelegar dengan bahasa Yunani yang intonasinya kadang seperti marah padahal sepertinya nggak.