Apr 6, 2017

4th Easter Sunday Bazaar at Tugu Kunstkring Paleis

Grogi! Tapi juga nggak sabar menunggu kesempatan By Vira Tanka mengikuti bazar untuk pertama kalinya. Woohoo!!

Tiap tahun, Tugu Kunstkring Paleis mengadakan Easter Sunday Bazaar yang isinya makanan dan kerajinan (craft). Sudah 3 kali diadakan dan selalu ramai! Kali ini, saya akan datang bukan hanya sebagai pengunjung, tapi sebagai pelapak alias uni-uni dagang! 



Di bazar ini saya akan berbagi lapak dengan teman saya, Ana, yang punya brand Flair (ini instagramnya). Ana sih sudah berpengalaman jadi partisipan bazar, jadi saya dapat masukan cukup banyak dari dia. Fiuh!

Produk apa saja yang akan saya pamerkan dan jual di bazar ini? 

Apr 4, 2017

Bebas Anemia Sebelum Traveling

Traveling paling nikmat adalah traveling selagi sehat.


Belum lama ini, saya pernah menulis tentang 3 hal yang paling saya takuti saat traveling. Salah satunya adalah jatuh sakit. Maka ketika ada ajakan ke acara Indonesia Bebas Anemia, saya datang dengan senang hati. Dalam acara yang diadakan oleh Sangobion ini ada tes anemia, senam anemia, dan donor darah. Dua yang pertama sepertinya berguna banget untuk kesiapan saya traveling beberapa minggu lagi.

Acara diadakan di lapangan parkir Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah. Pagi-pagi buta saya, Rere, Nita, Dewi, dan beberapa blogger lain, sudah berkumpul dengan atribut olahraga santai. Menjelang jam 7, lapangan mulai ramai dengan pengunjung yang mayoritas perempuan. Sebagian ada yang datang sekeluarga, lengkap dengan anak-anak kecil yang kemudian asyik main perosotan di salah satu pojok lapangan.

Sebelum lanjut cerita, coba kita bahas dulu sekilas tentang anemia yang ada di judul acara.

Foto milik Lika

Mar 31, 2017

New Tab: By Vira Tanka Shop




Halo! Kalau kamu perhatikan, ada tab baru di blog ini: By Vira Tanka Shop. Seperti yang sudah saya ceritakan di sini, mulai bulan Juli 2016 saya “menyulap” sebagian sketsa saya menjadi macam-macam produk yang bisa digunakan sehari-hari, dan menjualnya secara online.

Kegiatan bisnis kecil-kecilan ini ternyata menyenangkan sekali! Sedikit demi sedikit jenis produk saya bertambah, sketsa juga bertambah, ilmu berdagang juga bertambah. Pusing? Tentu. Sibuk? Lumayan. Optimis bisa berkembang terus? Masih!


ETALASE INSTAGRAM & FACEBOOK

By Vira Tanka memang belum ada “online shop”nya beneran, dalam arti website tempat kamu bisa langsung klik-klik saja untuk belanja. Inginnya punya, tapi untuk sementara ini etalase utama masih di Instagram @byviratanka, yang ditautkan dengan Facebook Page ByViraTanka.

CARA BELANJA

Feb 28, 2017

Top 3 Destinastions on My Travel Wish List



Di tengah malam ini teman saya, Vindhya, bertanya, "Apa aja destinasi impian lo?" 

Damn! Susah banget dijawab, karena bakal panjang daftarnya! 

"Oke deh, sebutkan tiga aja!" ralatnya. Seolah-olah itu membuatnya jadi lebih gampang. Tapi okelah, saya jabanin pertanyaannya yang lebih terasa seperti tantangan ini.

Sebelumnya, saya beri tahu dulu bahwa ketiga destinasi ini nggak berarti ada di paling teratas, tapi merupakan tiga destinasi yang terpikir paling duluan. Ini dia.

Feb 27, 2017

Menyesal Cuma Semalam di Thessaloniki

“Hah? Sebulan? Yunani doang? Kenapa nggak ke negara lain juga?” Itu rata-rata respons orang ketika tahu durasi saya dan Diyan di Yunani. Yah, pengen sih ke semua negara di dunia ini, tapi juga pengen lihat banyak banget di Yunani. Sudah sebulan saja, menurut saya masih kurang. Kami batal ke Zakhintos dan Pulau Lesbos karena rutenya terlalu menyimpang dari tujuan-tujuan utama lainnya, dan menyesal karena hanya menginap satu malam di Thessaloniki.

Thessaloniki adalah kota besar di utara Yunani yang nggak menarik saat kami browsing saat membuat rencana perjalanan. Kami terpaksa ke Thessaloniki sebagai titik transit sebelum lanjut ke Meteora. Jadi, kami pikir satu malam saja cukup.

Ternyata kami salah.




Golden Palace Bagan, Istana Baru di Situs Bersejarah

Peluh membuat lengket rasanya di seluruh badan siang hari itu di Old Bagan. Gerah yang kami rasakan campuran dari kepanasan karena terik matahari dan kekenyangan setelah makan siang. Rasanya ingin menyejukkan diri di ruangan ber-AC, tapi kami masih ingin melihat lebih banyak lagi peninggalan sejarah di bagian tertua dari kota Bagan, Myanmar, ini. Pilihan tempat sejuk adalah museum, tapi kamu baru saja dari sana sebelum makan siang. Maka kami putuskan ke istana yang punya taman rindang, Thiri Zaya Bhumi Bagan Golden Palace.

(Baca juga: Restaurants in Bagan)



Golden Palace ini lokasinya hanya beberapa ratus meter dari gerbang masuk Old Bagan. Dikelilingi tembok tinggi bata merah, istana ini tak mungkin luput dari perhatian siapapun yang lewat situ. Memasuki area istana, saya disambut petugas yang menagih bayaran tiket sekitar $5 per orang. Dari situ, bangunan bernuansa emas dengan atap bertingkat-tingkat sudah terlihat. Pepohonan dan langit biru cerah menjanjikan kesejukan di taman istana.

“Ada kursi malas!” saya dan Diyan bergegas mendekati kursi bambu di taman. Ooooh, enaknyaaa duduk selonjoran dinaungi pohon rindang dan angin sepoi-sepoi. Ingin agak lebih lama duduk di situ, tapi kami keburu penasaran dengan bangunan istana dan melihatnya lebih dekat.

Feb 26, 2017

Menyusuri Farmers Market di Antara Gedung-gedung Thessaloniki

“Kita berhenti di mana ya?” tanya saya pada Diyan sambil celingak-celinguk ke luar bus kota. Diyan yang juga tampak bingung memerhatikan jalanan kota Thessaloniki, nggak menjawab. “Tadi ada banyak toko dan kafe berderet gitu, aku mau ke situ,” ungkap saya lagi, mengingat-ingat jalan yang kami lalui beberapa jam lalu, saat baru memasuki kota kedua terbesar di Yunani ini. Kartu SIM yang waktu itu kami gunakan, entah kenapa, nggak bekerja fungsi data internetnya, sehingga penggunaan internet hanya bergantung pada koneksi wifi gratisan, jadi nggak bisa cek Google Maps di jalan.

Putus asa mencari lokasi yang saya maksud, beberapa puluh menit kemudian kami memutuskan untuk turun di halte sembarang saja. Berjalan mengikuti perasaan, belok kanan belok kiri semaunya, tahu-tahu kami memasuki jalan kecil yang dipenuhi kios. Berwarna-warni tenda berderet di jalan khusus pejalan kaki yang diapit gedung-gedung bertingkat ini. “Wow, pasar!” seru saya. Farmers’ market, lebih tepatnya lagi. Tempat para petani menjual hasil dari ladangnya.



Berwadah-wadah besar buah zaitun, tomat, apel, stroberi, serta sayuran, paprika, bawang bombay, kacang-kacangan, dan banyak lainnya dijajakan di sana. Ada pula truk telur ayam menyempil di deretan kios. Eh, ada yang jual pisang juga, lho! Padahal bukannya pisang itu tanaman tropis, ya?

Para pedagang menjajakan dagangannya dengan seruan yang bersemangat. Miriplah dengan pasar di Indonesia, cuma bedanya pedagang-pedagang ini rata-rata berbadan besar, bersuara lebih menggelegar dengan bahasa Yunani yang intonasinya kadang seperti marah padahal sepertinya nggak.