Feb 13, 2015

Tree Top Walk, Macritchie Reservoir – Hutan Kota Ala Singapura



Singapura nggak ada habisnya. Negara secuil itu sukses membuat saya ingin balik dan balik lagi ke sana karena selalu ada yang menarik untuk saya datangi. Dulu, saya tak pernah absen ke Orchard Road tiap ke Singapura. Kini, saya lebih suka menghindari jalan mall itu dan menikmati sisi lain Singapura, sisi yang lebih hijau. Bersama partner in crime Diyan, saya menjajal hiking trail di area Macritchie Reservoir.
Macritchie Reservoir punya area seluas 12 hektar. Fungsi taman raksasa ini bukan hanya sebagai bendungan seperti namanya, tapi telah dikembangkan menjadi semacam hutan kota. Terdapat beberapa pilihan rute trekking dengan jarak dan medan yang berbeda-beda. Pilihan kami saat itu: Tree Top Walk. Belum kesampaian jalan di canopy trail Halimun/Sukabumi, ya sudah, di Singapura saja dulu. Azig.
Alasan kami memilih Tree Top Walk adalah jembatan gantungnya.
Walaupun pernah melewati jembatan gantung yang lebih tidak terjamin keselamatannya di Lore Lindu ataupun di Batukaras, tetap saja saya merasa terpanggil untuk berjalan di Tree Top Walk ini karena pemandangan sekelilingnya nampak asri sekali.




Rute Tree Top Walk
Untuk mencapai jembatan, lebih efisien memasuki area dari gerbang di Venus Drive, tepatnya dari tempat parkir mobil. Dari situ, ikuti saja penunjuk jalan ke arah Tree Top Walk atau Hiking Trail. Medannya sangat mudah, jalan setapak yang rapi di antara pepohonan dan padang rumput. Kalau kamu sudah biasa hiking atau naik gunung di Indonesia, jalan di sini paling hanya akan terasa seperti main-main di taman.
Lihat-lihat juga ke sekeliling, terkadang ada hewan yang menampakkan diri. Kami melihat seekor biawak di antara dedaunan kering, diiringi cicitan burung sepanjang jalan. Seringkali kami berpapasan dengan orang lain, baik turis maupun mereka yang berolahraga. Rupanya taman hutan ini kerap dijadikan arena lari. Seketika saya iri dengan warga Singapura yang beruntung punya area alam yang nyaman begini untuk jogging. Ah, ya sudahlah. Setidaknya saya sudah cukup beruntung untuk bisa sampai ke sini.





Semakin lama berjalan, medan terasa makin menanjak. Melewati jalan setapak berkerikil, berbatasan dengan jalan raya, keluar dan melewati jalan beraspal, masuk lagi ke hutan. Saya sempat panik saat melihat rambu peringatan kemungkinan adanya ular, tapi untung tidak melihat seuntai pun makhluk menggelikan itu sampai akhir trekking.
Setelah berjalan sekitar 4 km, sampailah kami di pos penjagaan. Di situ terdapat toilet bersih dan waterdesk, tempat kita bisa minum air keran dan mengisi ulang botol minuman masing-masing. Sudah rute trekkingnya rapi, disediakan toilet dan air minum gratis, pula. Sulit bagi saya untuk tidak berpikir, ‘Kapan ya, di Indonesia bisa begini?’

Bagian yang berbatasan dengan jalan raya, tapi nggak ada jalan pintas untuk masuk ke sini.


Keluar hutan, masuk hutan lagi.

Masih termasuk rute menuju Tree Top Walk.


Kira-kira 500 meter dari pos penjagaan, akhirnya kami tiba di jembatan gantung! Tapi, hati-hati! Begitu kamu sampai di jembatan, kamu tidak bisa kembali lagi!
Jangan berpikir macam-macam dulu. Jembatan ini bukan tempat uji nyali atau semacamnya, tapi sekadar sangat sempit. Lebar jembatan Tree Top Walk ini cuma muat maksimal dua orang berjajar, sehingga dibuatlah peraturan bahwa jembatan ini jalan satu arah. Kalau melangkah ke tengah jembatan, kamu harus meneruskan perjalanan, tidak boleh kembali ke pintu masuknya.
Berjalan di jembatan gantung kokoh setinggi 25 meter ini rasanya menyenangkan! Angin bertiup lumayan kencang saat itu, sehingga saya bisa melihat dedaunan dan ranting-ranting pohon berdansa ke kanan dan kiri. Macam-macam jenis pohonnya, dengan macam-macam bentuk daun dan berbagai gradasi warna hijau. Di bawah jembatan lebih rindang lagi pepohonan yang dibelah jalan setapak. Di langit, dua ekor elang terbang melintas dengan anggunnya. Di kejauhan, terlihat MacRitchie Reservoir di balik lebatnya pepohonan.  


Gardu kayu tempat masuk ke jembatan.

Tuh, lihat sempitnya jembatan.


Lihat ada danau di ujung sana? Nah, itu 'reservoir'nya. 


Ketika kami hampir sampai di tengah jembatan, dua ekor kera melintas di atas pagar jembatan. Yang satu hendak menyeberangi jembatan, yang satu lagi malah memanjat tiang gantung jembatan. Dasar monyet. Lagi-lagi saya sempat panik,  mengingat kelakuan kera-kera nakal di Pantai Bama, Baluran, dan Sangeh, Bali. Namun ternyata kera-kera di sini tidak suka merampas makanan ataupun barang-barang lainnya karena tidak dibiasakan diberi makan oleh pengunjung. Ada larangan memberi makan dari pihak taman, dan pengunjung pun patuh. Everybody’s happy!



Berpapasan muka dekat banget dengan si Sarimin.
Sesama pengunjung harus saling membantu potret.



Sedih rasanya saat saya sampai di ujung jembatan. Ingin balik lagi, mondar-mandir di sepanjang jembatan dan berlama-lama memperhatikan pucuk-pucuk pohon, tapi sayangnya sudah ada pengunjung lain di belakang kami. Jalan setapak yang dialasi bilah-bilah kayu tersusun rapi menyambut kami, membelah hutan. Di beberapa bagian, terdapat papan-papan pengetahuan, yang berisi teks dan gambar mengenai isi hutan tersebut. Hanya satu hal yang saya ingat dari situ, yaitu bahwa banyak tanaman pandan yang ditemukan di hutan itu, sehingga dicurigai dulunya area ini berupa rawa.
Rute keluar membawa kami memutar ke pos penjagaan lagi, kemudian mengikuti jalan yang sama seperti kami masuk tadi. Kalau digambarkan, rute kami itu berbentuk seperti laso, dengan panjang tali gagang yang hampir sama dengan keliling lingkaran penjerat. Total jarak perjalanan kami sekitar 8 km dan kami melakukannya dalam 2.5 jam, termasuk istirahat, berjalan santai, dan memotret. Tak ketinggalan bikin selfie!


Hutan yang rapi jali. 

Tebak saya lagi ngapain...

Ternyata make tongsis itu susah!


Tips agar nyaman berjalan ke Tree Top Walk
  • Gunakan alas kaki yang benar-benar nyaman untuk berjalan. Ingat, jaraknya 8 km. Saya menggunakan sepatu lari yang baru pernah saya gunakan untuk lari maksimal 6 km. Ternyata untuk berjalan 8 km ini telapak kaki saya sakit juga. Rasanya ingin berjalan di atas bantal!


  • Bawa bekal minum dan kudapan karena tidak ada warung maupun vending machine di sepanjang rute Tree Top Walk. Tapi ingat, sampah dibuang di tempat sampah, ya!


  • Tidak disarankan bawa stroller bayi karena medannya tidak cocok. Nanti kamu akan repot sendiri menggotong-gotong stroller dan bayinya. Kalau mau bawa anak kecil, bisa dipikirkan untuk jalan di rute yang lebih pendek saja, tidak harus sampai ke Tree Top Walk.


  • Jembatan tidak boleh dilewati lebih dari pukul 17.00 (waktu Singapura), jadi paling telat kamu harus sudah sampai di mulut jembatan jam 16.45, dengan asumsi kamu melewati jembatan maksimal 15 menit.


Awalnya senyum, lama-lama memble karena capek!



Transportasi ke Macritchie Reservoir
Ada dua pilihan jalan masuk ke Macritchie Reservoir. Yang satu lewat pintu masuk di Lorney Road, yang lebih dekat ke bendungan. Satu lagi, yang kami jalani, lewat Venus Drive, yang lebih dekat ke Tree Top Walk.
Stasiun MRT terdekat dari Venus Drive adalah Marrymount. Dari situ, katanya sih ada bus menuju Venus Drive, tapi kami gagal menemukannya karena masih kurang paham dengan sistem bus di Singapura. Jadi, kami naik taksi dari stasiun MRT Marrymount, tarifnya S$5.18.
Walaupun naik taksi, sebaiknya kamu sudah siapkan peta menuju ke sana karena belum tentu sopir taksinya tahu di mana itu Macritchie Reservoir. Kami tertolong sopir taksi yang melek Google Map dan menggunakan ponselnya untuk mencari rute ke sana. Fiuh! Lalu sesampai di parkiran mobil Venus Drive, si uncle taksi ini heran. “There’s nothing here!” ujarnya. Memang, kalau kita baru sampai di situ, yang terlihat cuma parkiran mobil dan pepohonan, tidak terlihat ada atraksi apa-apa.
Pulang dari sana, kami gagal menemukan taksi kosong. Jadi, dari halte bus terdekat (menyeberang jalan besar) kami memilih bus dengan rute nama jalan yang tidak asing bagi kami. Turun di halte bus dengan MRT terdekat, waktu itu kami turun di area Caldecott Kalau sudah sampai di stasiun MRT, mau ke mana pun mudah!

Kamu juga bisa intip blog ini untuk keterangan lebih lengkap tentang Macritchie Reservoir.
Selamat jalan-jalan!


10 comments:

  1. Singapore ini kecil, tapi dia bisa memanfaatkan lahan yg ada menjadi banyak kelebihan dan sing selalu punya yg baru buat di kunjungi :-)

    ReplyDelete
  2. mukanya Diyan kayak lelah banget ituh pas selfie, hihihi...

    ah jadi pengen ke siniiii~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa.. sebenarnya sama2 capek, tapi emang besoknya Diyan tepar sih, agak demam gitu..huhu..kesian..

      sok atuh yuki ke sana, menyenangkan tempatnya.. asalkan sedia sepatu nyaman! :D

      Delete
  3. wow 8km, lumayan juga ituuu :D
    iya kadang suka iri sama org singapura, mereka punya banyak banget pilihan ruang terbuka buat joging atau aktivitas lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Dita, enak ya.. Kalo di sini kita mesti mutar otak untuk nemuin tempat2 yang begono :))

      Delete
  4. Baru dua kali ke Singapura sebelum ini, terus sempet ngerasa males balik lagi karena perasaan gitu2 aja. Tapi makin ke sini nemuin banyak tempat yg baru terutama yg bisa nikmatin alam seperti ini. Kayaknya seru, path-nya pun jelas jadi gak takut nyasar hehe. Thanks ya, blog post nya bikin pgn ke Singapura lg!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai, Halida..
      Sama dong, dulu juga saya ngerasa Singapura cuma buat belanja.. lama2 tau dari orang lain ternyata outdoor space-nya enak buat dinikmati, jadi nyari2 juga deh..
      Yeay! Selamat jalan2 lagi..!

      Delete
  5. Makasih Vira for sharing, aku dari dulu penasaran sama tempat ini, ternyata begini ya...keren, mau kesana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Tes, senang berada di area hijau yang terawat dan bersih :D
      siap2 aja sama jaraknya ya, soalnya kalo udah masuk jembatan ini gak bisa U-Turn

      Delete