Apr 7, 2015

Terpukau di Gardens By The Bay, Singapura




Dalam rangkaian jalan-jalan di Singapura yang banyak outdoor-nya bulan Januari lalu, saya dan Diyan tak lupa memasukkan Gardens By The Bay ke dalam rencana. Tujuan wisata mainstream ini sudah cukup lama membuat saya terpukau lewat foto-foto yang beredar di Internet karena kecantikannya.

Kelar bermain sepeda di Pulau Ubin di sore hari, kami langsung menuju Gardens By The Bay. Naik bus tingkat nomor 02, naik MRT dari Tanah Merah, ganti rute di Paya Lebar, lalu turun di stasiun Bayfront.
Dari situ, masih harus berjalan kaki, tapi lupa berapa menit. Rasanya sih lebih dari 15 menit, tapi mungkin karena kami jalan santai.

Sesampai di walkway yang berupa jembatan lebar menuju taman, kami lihat banyak orang memotret pemandangan sekeliling. Dari situ terlihat pucuk-pucuk Supertree serta kubah-kubah futuristik Cloud Forest dan Flower Dome, yang merupakan bagian dari Gardens By The Bay, berseberangan dengan gedung Marina Bay Sands. Sungai, jalan raya, dan kincir raksasa (Singapore Eye) yang nampak di kejauhan pun tak luput jadi objek foto para turis, termasuk saya. Semua tertata rapi, kecuali sebagian taman yang masih dalam proses perbaikan atau pembangunan.





Setelah turun lift satu lantai, kami sampai di taman, Supertree Grove. Sekumpulan “pohon besi” raksasa, dengan tanaman merambat di batangnya, menyambut kami. Jembatan OCBC Skyway melintas di atas kepala kami, orang-orang ramai berjalan di atasnya. Kami pun bergegas ke loket untuk membeli tiket masuk Skyway tersebut sebesar S$5 per orang. Namun kemudian langkah kami kian melambat ketika melihat betapa panjangnya antrean!

“Kok, aku jadi males, ya?” gumam saya.

“Iya, aku juga,” sahut Diyan.

“Yuk, ah. Mendingan kita santai-santai di bawah aja, daripada ngabisin waktu ngantre.” Diyan mengamini dengan menuntun saya ke hamparan rumput di salah satu sisi taman.

Di atas rumput, sudah banyak pengunjung duduk-duduk dan tidur-tiduran sambil berfoto dan ngobrol, serta anak-anak berlarian ke sana ke mari. Rasanya seperti piknik di taman, minus keranjang rotan berisi roti dan apel. Kami mengambil posisi di bagian yang masih agak sepi. Kemudian Diyan asyik mengabadikan berbagai kegiatan orang di taman dengan Fuchsy, si kamera fuchsia kesayangan saya. Tak betah berdiam lama-lama, saya mengeluarkan buku sketsa mungil dan menggambar Supertree Grove dengan drawing pen.





Hari bergulir menjadi gelap. Lampu-lampu di pepohonan Supertree mulai menyala dan suasana menjadi lebih meriah. Ini dia yang saya tunggu-tunggu! Persis yang dikatakan teman-teman saya sebelumnya, Ito dan Fahmi, bahwa menjelang magrib adalah waktu terbaik untuk ke Gardens By The Bay karena kita akan menyaksikan lampu-lampu menyala. Saya masih menggambar ketika tiba-tiba terdengar musik mengalun dari pengeras suara, dan lampu-lampu di pepohonan raksasa berkedap-kedip mengikuti melodi!

“Wah, apa ini?”

Entah mendapat informasi dari mana, Diyan kemudian mengatakan bahwa ‘pertunjukan lampu’ ini diadakan secara rutin setiap akhir pekan. Kejutan yang menyenangkan! Musik instrumental mengalun cukup lama, mungkin sekitar 15 menit. Lampu-lampu bergiliran mati dan menyala seiring tempo musik yang dinamis, kadang cepat kadang lambat. Rasanya seperti menonton drama musikal, tapi dengan cahaya warna-warni sebagai aktor-aktrisnya!

Entah berapa besar daya listrik yang dikerahkan untuk menghidup-matikan lampu-lampu Supertree Grove pada malam hari. Jadi terpikir, Gardens By The Bay berpartisipasi dalam Earth Hour, nggak ya?





Setelah musik berhenti mengumandang, lampu-lampu kembali menyala seperti semula. Kerumunan pengunjung mulai memencar, kebanyakan menuju pintu keluar. Karena antrean lift cukup panjang, kami memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran yang berada di tepi taman saja. Saya lupa harga makanan di restoran Peach Garden Noodle House itu, tapi rasanya tak lebih mahal daripada rata-rata makanan di foodcourt mal sana.

Setelah puas dengan pemandangan cantik Supertree Grove dan makan malam lezat, kami beranjak keluar dari Gardens By The Bay, kembali ke penginapan AirBnB di daerah Changi. Lelah dan pliket sekali rasanya badan, karena dalam sehari sudah main sepeda sambil berpanas-panasan, naik turun berbagai moda transportasi, dan banyak berjalan kaki. Tapi tentu saja hati senang disuguhi pertunjukan cahaya dan taman yang cantik! Sampai sekarang, dua bulan lebih setelah pengalaman itu, saya masih ingat rasa dibuai-buai oleh alunan musik dan genitnya permainan lampu.





Catatan:



Baca juga cerita-cerita saya lainnya dari trip yang sama ke Singapura:



11 comments:

  1. Suka banget nongkrong sore2 di gardens by ini, saat lampu2 mulai nyala keliatan banget cantik nya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul Cum, cantik, gratis, banyak restorannya pula. *penting*

      Delete
  2. Woo, bulan depan aku ke singapore~~ pengen coba mampir kesini ah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mampir aja.. bagus dan hrateysss :))

      Delete
  3. Vira... Bayfront bukannya rute warna merah ya? Itu kan terusan Marina Bay MRT? *dibahas
    Aku dari dulu pengen naik OCBC Skywalk. Belum kesampean aja...
    Kamu harus masuk Flower Dome, gile kereeeen :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi... barusan lihat contekan peta online, oranye sih Tes..
      Flower Dome? bayar nggak? waktu itu cuma pengen yang gratisan aja :))

      Delete
  4. Ini masuknya gratis kan mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Zenny,
      iya masuknya gratis

      Delete
  5. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete