Jun 22, 2015

Kembali Dari Perjalanan Yunani, Terkenang-kenang Semuanya


Santai sore di tebing-tebing Meteora.




Sudah hampir tiga minggu saya dan Diyan kembali dari Yunani, baru sekarang benar-benar sempat menuliskan kesan-kesannya. Menyumpal kerinduan akan tanah dan lautan para dewa-dewi itu dengan ‘highlight’ di sini, ternyata tidak cukup. Makan makanan Yunani di Gyros Alley pun hanya mengganjal sementara saja rasa lapar akan petualangan di Yunani.

Ketika saya dan Diyan makan malam sambil bertukar cerita perjalanan dengan Dusty Sneakers yang baru pulang dari Amerika Serikat, Teddy bertanya, “Kalau lo menuliskan pengalaman di Yunani ke blog, tiga topik teratas apa yang akan lo tuliskan?”

Pertanyaannya mudah, menjawabnya sulit. Terlalu banyak pengalaman di Yunani yang ingin saya ceritakan, bahkan sejak hari pertama sampai di sana. Dua puluh satu tahun sejak saya bermimpi untuk menginjakkan kaki di Yunani, delapan tahun sejak pertama kali saya menghitung-hitung dana yang dibutuhkan untuk jalan-jalan ke sana, dan akhirnya perjalanan selama sebulan pun terwujudkan. Memilih hanya tiga topik rasanya kejam sekali.

“Toko roti berusia 500 tahun di Mykonos; pengalaman trekking dan hiking di Gunung Olympus, Samaria Gorge, dan dari Oia ke Fira; dan toko buku Atlantis di Oia. Oh, satu lagi. Kesan terhadap rasa percaya satu sama lain orang-orang di sana.” Ternyata saya gagal menjawab tiga, jadinya empat. Malah kemudian ketika hendak tidur malam, saya membatin, ‘Oh, iya! Saya juga mau menulis tentang Museum Tipografi di Kreta!’ Saya yakin, nantinya, kalau waktu mengizinkan, saya akan menulis belasan cerita dari perjalanan itu.


Laut Aegea, di perjalanan antara Athena dan Santorini.



Sebelum kami pergi, banyak sekali teman yang bertanya, bahkan dengan nada protes, kenapa kami tidak ke banyak negara bervisa Schengen sekalian, mumpung sudah jauh-jauh ke Eropa. Karena lokasi Yunani dekat dengan Turki, banyak pula yang heran kenapa kami tidak sekalian ke Turki yang katanya indah bukan main. Sebenarnya kami pun mempertimbangkan itu semua. Mungkin tidak ke Turki, dan tidak ke banyak negara, tapi hanya dua atau tiga negara Schengen. Namun ketika menyusun perjalanan dan browsing lebih banyak tentang Yunani, kami pun sampai pada kesimpulan, “That’s it! We’re only going to Greece!” Terlalu banyak hal menarik yang ingin kami lihat dan alami di Yunani!

Kenyataannya, sebulan penuh di tanah kekuasaan Zeus ini rasanya kurang. Memang sudah cukup banyak yang kami lihat, di samping banyak juga yang tak sempat kami datangi. Namun, harus tahu batas kalau mau hidup tenang dan senang. Untuk sekarang, kami puas dengan perjalanan itu.


"Halaman belakang" Mykonos.


Kami sempat berada di tengah-tengah keramaian turis di Pulau Mykonos, tapi juga kelayapan ke bagian lain pulau tersebut. Ternyata, hanya sebagian kecil di Mykonos yang penuh turis, yaitu di kota Mykonos. Salah satu kota termahal yang kami kunjungi ini memiliki ‘halaman belakang’ yang lengang dengan jumlah kuda, domba dan sapi yang hampir sama banyak dengan kendaraan dan manusia yang kami temui. Padang rumput dan jalan aspal meliuk-liuk adalah pemandangan yang mendominasi selama beberapa jam kami bermotor di Pulau Mykonos. Disebut-sebut sebagai ‘party island’, kami yang bukan party people ini iseng ingin melihat suasana pesta di sana seperti apa. Setelah nyasar karena seharusnya kami mengikuti plang “Tropicana Paradise” dan bukannya “Super Paradise”, kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan menghangatkan diri, ketika the real party people baru saja mulai menuju pusat berpesta di Pantai Paradise. Anak cupu memang tak usahlah pura-pura cool and hip!


Oia. O ya? Oh, iya. (Cara baca: Iya.) 


Kota Oia adalah juaranya pemandangan indah, apalagi sunset. Rupanya, kota inilah yang sering menjadi “wajah Yunani” di foto-foto yang beredar di Internet dan media lainnya. Sebelum perjalanan ini, saya mengira hampir seluruh Yunani berwajah seperti Oia, dan ternyata tidak. Oia kota yang sangat kecil, bergang-gang sempit yang hanya cukup untuk pejalan kaki, dengan banyak toko, restoran, dan penginapan yang berdempetan.

Kota ini berada di ujung utara Pulau Santorini, sedangkan kota terbesarnya, Fira (Thira), berjarak 10 km ke arah selatan dari Oia. Ada layanan bus antara Oia dan Fira, dengan tiket seharga hanya 2 euro per orang. Namun, kami tergoda jalur trekking dari Oia ke Fira, dan itu sudah jamak dilakukan turis. Kesannya seperti tak ada kerjaan, tapi lelahnya jalan kaki sejauh itu di bawah terik matahari sangat terbayarkan oleh pemandangan di sepanjang kaldera. Lagipula, mungkin juga memang tak ada kerjaan, namanya juga lagi liburan.


Siap terbang di Kastro.


Kami sempat menghabiskan tiga malam di Pulau Milos, pulau yang kalah jauh populernya dibandingkan Santorini dan Mykonos. Diyan ingin ke pulau ini karena ia tertarik melihat catacombs alias kompleks kuburan di gua-gua bawah tanah. Situs ini ternyata sedikit mengecewakan. Kami mengira bisa memasuki lorong-lorong yang lebih panjang dan mendapat penjelasan yang komprehensif dari pemandu, ternyata cuma sedikit area bekas kuburan yang boleh dimasuki, dan pemandunya cukup sering mengatakan “I’m not sure…“

Secara fasilitas, saya juga kecewa karena saya sampai harus pipis di semak-semak akibat tidak disediakannya toilet, padahal lokasinya jauh dari mana-mana! Namun, beberapa tempat lain di Milos sangat memesona. Pusat kota Plaka dengan pintu-pintu dan jendela-jendela berwarna-warni, para penduduk yang ramah, serta pantai Sarakiniko yang lebih menyerupai permukaan di planet asing! Kami juga iseng naik ke puncak bukit Kastro, yang artinya kastil (castle). Sampai di atas, bukan kastilnya yang berkesan bagi kami, tapi pemandangan 360 derajat ke seluruh penjuru Pulau Milos dan Laut Aegea. Cuaca sejuk, tapi seketika angin bertiup sangat kencang, sampai-sampai ketika memotret kamera pun kadang kurang stabil karena terguncang angin!


Sarakiniko atau Mars?


Cerita-cerita destinasi ini cuma secuil dari aneka pengalaman kami di Yunani, yang saya ingat secara acak. Kami senang sekali bisa merasakan menginap di beberapa pulau dan di beberapa kota di daratan utama alias bagian semenanjung. Ternyata, Yunani bukan hanya Santorini, bangunannya tak semua berwarna putih dan beratap biru, dan penduduknya bertutur kata lantang namun ramah dan tak sungkan membantu turis nyasar. Tak banyak orang Asia yang kami lihat selain di tempat-tempat yang sangat touristy seperti Santorini, Mykonos, Delos, dan Akropolis di Athena. Mungkin itu sebabnya, kami selalu dikira orang Tiongkok dan pernah disapa dengan “ni hau ma”. Bagi mereka, tiap orang Asia dan bermata sipit, ya orang Tiongkok.

Sebelum menyiapkan perjalanan ini, sering saya membaca dan mendengar bahwa inilah saat yang tepat untuk pergi ke Yunani karena harga-harga di sana sedang jatuh akibat krisis ekonomi yang masih berlangsung. Mungkin benar lebih murah jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Tapi bagi kami, tetap saja harga-harga di sana mahal jika dibandingkan di Indonesia. Misalnya, spageti udang di taverna rata-rata 15 euro (sekitar Rp 220.000,00). Dengan harga segitu, di sini saya bisa menraktir 3 orang teman makan spageti udang, dan sayanya juga ikut makan! Kalau cuma tiga hari di sana, mungkin harga segitu, ya, cincaylah. Tapi kalau sebulan, bakal pingsan rasanya kalau harus beli makanan semahal itu setiap kali. Kami diuntungkan dengan porsi makan di sana yang jumbo. Saya bisa berbagi satu menu dengan Diyan, atau menyisihkan separuh porsi untuk dimakan selanjutnya. Penginapan yang kebanyakan menyediakan dapur kecil pun sangat membantu dalam berhemat. Kami tinggal belanja bahan-bahan di supermarket, seperti pasta, roti, daging kalkun asap, hingga bawang bombai, terutama untuk makan pagi yang jarang disediakan penginapan kami. Hasilnya, irit dan tidak mubazir!


Siput goreng. Enak, asal nggak lihat bentuk dagingnya :P


Terlalu banyak hal berkesan jika diceritakan dalam satu tulisan. Yang jelas, perjalanan sebulan hanya di satu negara sangat menyenangkan bagi saya dan Diyan. Tidak masalah bahwa kami tidak melihat negara lain dan berfoto di berbagai landmark Eropa. Kami senang bahwa akhirnya kami bisa membaca aksara Yunani sehingga tidak tersasar walaupun sudah membaca peta! Kami senang melihat bentang alam dan suasana kota yang bermacam-macam dalam satu negara. Kami juga senang dengan reaksi penduduk sana ketika mengetahui bahwa kami datang jauh-jauh dari Indonesia untuk menghabiskan waktu sebulan penuh hanya di negara mereka tercinta.


Menuju setengah puncak Olympus. 



Cerita lain akan dituliskan besok-besok lagi, tapi saya akhiri saja tulisan ini dengan rute kami selama di Yunani. Sebenarnya ini untuk bernostalgia saja, tapi siapa tahu bisa jadi acuan kamu yang ingin ke sana.

Athena – Santorini (Oia, Fira, Akrotiri) – Milos – Mykonos (dan Delos) – Athena – Kreta (Chania, Samaria Gorge, Iraklio) – Thessaloniki – Litochoro (Gunung Olympus) – Kalabaka (Meteora) – Athena (dan Hydra)


Baca: Idra. Nyangka, nggak?

26 comments:

  1. Liat siput gorengnya jadi inget tut tut :D Kalau main ke Yunani kayaknya paling seneng sama Kastro dan Sarakiniko deh :) Sarakiniko fotogenik abis, sementara Kastro bisa liat lansekap luas gitu bikin hati adem~

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, ini tut tut cuma disajikan lebih cakep aja :P
      Sarakiniko memang pemandangan yang sangat gak biasa dan gak diduga2..

      Delete
  2. Seruuuu! Kapan-kapan ke Tebing Keraton ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kejam nich arip, masak di bilang tebing keraton ahahaha
      Tapi yunani mmg kece yaaaa :-)

      Delete
    2. iya kak, kecenya banget!
      kalo mz arip memang gitu orangnya.. cuekin aja :P

      Delete
  3. Asik banget yaaa perjalanan lo. Emang sebulan gak cukup keliatannya. Gw bisa bayangin tampang lo pasti jutek banget waktu guide di Catacombs bilang " I'm not sure...". hahahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. nggak kok, gua malah bengong aja..
      gua jutek pas dibilangin gak ada toilet :))

      Delete
  4. Ada beberapa orang yang berpandangan bahwa trip ke banyak negara itu keren. Tapi aku kagum lho, pas tau kalian ke eropa cuma ke satu negara doang. Dulu, Yunani itu taunya cuma kuil kuno itu doang, karena seneng nonton film kartun Seint Seiya. Setelah gede baru tau ada Santorini. Cakep sih, tapi belum kesampaian ke sono. hehehe. Btw, tumben kok gak keminggris mbak hahahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe..makasih, Die. Iya, kami juga pengennya ke banyak negara, tapi mungkin mesti 6 bulan (1 negara 1 bulan), dananya nggak ada :))

      Ternyata banyak juga yang mengasosiasikan Yunani dgn Saint Seiya.. lha gue sendiri gak nonton serial itu, jadi cuma bisa bingung apa hubungannya.. Ntar browsing ah tentang S.Seiya :P

      Di blog ini gua mau suka2 aja pake bahasa apa, dan kadang memang kangen nulis bhs Indonesia :D Trus karena jarang nemu blog tentang Yunani dalam bhs Indonesia, jadi gua tulis aja..siapa tau ada orang Indonesia yang perlu infonya (yg nggak formal) :D

      Makasih udah baca ya Die!

      Delete
  5. wah jauh juga yah perjalananya gan. Total semua pengeluaran untuk 1 orang berapa? siapa tahu ada rezeki lebih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. susah bilangnya, karena pengeluaran kecampur2 dengan belanja oleh2 dan belanja lain2..

      Delete
  6. Seneng banget ya mimpi halan-halan yang sudah sekian puluh tahun akhirnya terwujud. Yunani terdengar begitu eksotis dg mitologi2 & bangunan kuno nya.

    BTW rata2 orang sana aware dg Indonesia juga? atau ada yang nggak ngerti?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, alhamdulillah.. senang bangetttt!
      kebanyakan orang yg tau bahwa kami dari Indonesia sih tau dikit2 tentang Indonesia, bahkan ada yang pernah ke Indonesia, dan ada yang nikah dgn org Indonesia .. kami pun gak nyangka mereka tau Indonesia, jadi senang dengernya :D

      Delete
  7. Baru sempet mampir lagi ke blog-nya Vira, eh ternyata udah ada beberapa tulisan tentang Yunani. Seru banget baca ceritanya...

    Tulis yang banyak lagi dongs, hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih ya Titi suka mampir-mampiiiir, aku senang :D
      Iya, pengennya nulis yang banyak, tapi mesti selang-seling sama kerjaan2 euy..

      Delete
  8. Seru bangettt. Tapi aksara yunani nya bikin pengen sakit gigi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha...iya, awalnya pusing banget.. tapi di youtube ada loh cara2 bacanya :D

      Delete
  9. Selamat Siang Mbak...
    Salam kenal, Mohon bertanya...
    1. Di Yunani adakah kartu semacam Smart Card Trans Jakarta, untuk naik bus n transportasi lain? Kalo tdk ada, bayar bus nya gimana? hehe...
    2. Dari Santorini ke Kreta bisa one day tour tidak ya kl mau trecking ke Samaria George?
    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo..
      1. Soal kartu, saya nggak tahu. Soal bayar bus, beli tiketnya di kios-kios rokok/majalah pinggir jalan.
      2. Santorini terlalu jauh untuk one day tour ke Kreta. Tentang trekking Samaria Gorge ada ceritanya di sini https://sapijalanjalan.blogspot.co.id/2016/03/mendaki-gunung-lewati-lembah-di-samaria.html

      Delete
  10. mbaa salam kenal mbaa...
    seru banget liatnyaaa
    mba kalau dari turki ke yunani ada boatnya kah?
    rencana sama teman mo ke turki dulu br ke mykonos,greece, santorini lanjut rhodes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, kayaknya sih ada feri dari turki ke yunani. Tapi saya nggak tau informasinya :)

      Delete
  11. wahh menarik banget nih artikelnya kak :)

    ReplyDelete
  12. satu bulan di Greece? Oh My Goodness, impianku bangeeet. thanks lho udah share ceritanya.. boleh info nya gak mba Vira, satu bulan selama di Greece, penginapannya pindah pindah (backpacker) atau stay aja sih? aku mau kira-kira budget nya biar bisa nabung. Thanks Yah! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ranti, hehe sama, ini juga impianku banget waktu itu :D
      Aku kurang ngerti sama pertanyaan kamu.. "pindah-pindah (backpacker) atau stay" itu maksudnya gimana?

      Delete
  13. hello! mau nanya dong, saya lagi bingung perjalanan ke Santorini dari Athens gimana. Kalo naik ferri kok lama amat ya 8 jam? Nggak ada yang lebih cepet ya? Kalo naik pesawat, berapa lagi biayanya? makasih banyak sebelumnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. silakan cek aja harga tiket pesawatnya..di-google sedikit aja pasti bakal nemu kok

      Delete