Jan 30, 2016

Mendaki Gunung Olympus, Mengunjungi Rumah Zeus



Pernah baca blog diyantouchable.wordpress.com? Itu blog suami saya, Diyan. Dia ini bisa menulis dengan baik dan lucu, tapi sayangnya terlalu malas untuk mengisi blognya itu. Dia pernah bertekad untuk ngeblog tentang pengalaman mendaki Gunung Olympus, tapi sampai sekarang nihil. Padahal, teman kami, Teddy, sudah kurang apalagi mengompor-ngomporinya untuk menulis. Tetap gagal, mungkin karena dia memang tak tersentuh.
Mendaki Gunung Olympus menjadi salah satu tujuan utama kami di Yunani tahun lalu, tak lain karena itu keinginan Diyan. Saya sendiri bukan penggemar kegiatan yang bisa menggerus dengkul ini. Tapi karena Gunung Olympus sangat iconic, rasanya terlalu sayang untuk melewatkannya. Kapan lagi ada kesempatan berkunjung ke rumah dewa-dewa Yunani Kuno itu? Dan karena iconic juga, rasanya sayang kalau pengalaman mendaki ini tidak diabadikan dalam tulisan.
Maka, saya putuskan untuk mewawancarai saja si pemalas yang satu ini.
Walaupun dia mengingkari janjinya untuk menulis blog, setidaknya saya berhasil membuatnya menuliskan pengalamannya dalam jawaban-jawaban pertanyaan. 
Nah, begini ceritanya...

Salah satu puncak pegunungan Olympus.

Dari banyak hal yang bisa kita lakukan di Yunani, kenapa naik Olympus menjadi salah satu prioritas kamu?
Why Olympus? Because there’s where the Olympian Gods live!!
Mitologi Yunani itu keren, saya suka beberapa kisah twist yang berkembang dari mitologi Yunani. Mulai dari Saint Seiya, God of War sampai yang terakhir tapi masih belum keliatan jelas ceritanya God Complex-nya Glitch Network (studio action figure asli Indonesia yang belakangan bikin komik yang ceritanya twist dari beberapa mitologi besar dunia, salah satunya Yunani ⇒ http://www.godcomplexworld.com/characters/hellenic-republic/).
Basically I’m just curious how Zeus’ cribs looks like.
*imagining Zeus saying “welcome to my cribs!!! here’s my godly chamber, where all the magic happens. Y’know what I’m sayin?”
Saya jadi ngebayangin Zeus pakai trucker cap kebalik. Anyway, sebelum mendaki, bahkan sebelum berangkat ke Yunani, bagaimana bayangan kamu tentang Gunung Olympus?
Sebelum berangkat ke Yunani bayangan saya soal Olympus kayak yang kelihatan di google search images dengan keyword “Olympus Trekking”. Gunung berbatu dengan salju dan trek ke puncak yang butuh helm karena banyak batuan lepas.
Ngeri! Kok kamu nggak pernah cerita ke saya tentang batuan lepas itu?
I didn’t want to scare you :D
Yeah, what you don't know won't scare you. Terus, setelah mendaki, bagaimana kesan kamu tentang Gunung Olympus dan tentang pendakiannya?
Kesan pertama? Jalurnya rapi banget, rambu-rambunya jelas, dan takjub sama med evac (medical evacuation - Red.) facility-nya yang pakai keledai.
Ketersediaan air nggak sebanyak di Samaria Gorge (lembah di Pulau Kreta - Red.), jadi harus bawa air seorang sebotol 600 ml lah biar aman.
Terus di gerbang depan (di Prionia) nggak pake isi form segala, menurut saya ini agak berbahaya karena kalau ada yang naik terus ternyata nggak turun-turun, nggak ada yang tahu.
Akses dari Litochoro* ke Prionia cuma bisa dengan taksi, jadi kalau mau tektok sehari harus janjian sama yang jemput buat balik ke Litochoro lagi. Katanya di gerbang ini bisa pinjam (atau bayar ya? saya lupa) telepon untuk kontak penjemput. Masalahnya, kantor di gerbangnya tutup jam 17.30. Jadi, saran saya, kalau mau dijemput harus janjian dari sebelum mendaki.
Petunjuk jalan dalam bahasa Yunani dan Inggris.

Bagaimana dengan tumbuhan, hewan, dan manusia-manusia yang kita temui di sepanjang pendakian? Menurut kamu, ada yang unik?
Kebetulan ketika kita ke sana pas lagi musim semi, jadi banyak bunga cantik di tepi jalur yang menghibur mata (dan hasrat instagraman :p).
Kita banyak ketemu sama pendaki-pendaki lain yang tampaknya punya stamina lebih baik dan langkah kaki yang lebih panjang dari kita, jadi sering banget kesalip. Yang paling nyebelin pas lagi capek-capeknya ketemu  ibu yang gendong anak di punggungnya, dan dia melangkah dengan santai tapi cepat banget. Damn, I feel weak! hahaha…
Kita juga ketemu anjing gede yang nongkrong di tengah jalur pendakian. Karena kita agak segan sama anjing, jadi lumayan deg-degan. Bayangin aja, lagi capek-capeknya, harus muterin si gukguk sedikit keluar jalur yang nanjak [supaya nggak terlalu dekat dengan si gukguk - Red]. *ngosngosngos*


Diyan dibingkai vegetasi Olympus.

Awal pendakian di Prionia sekitar 1100 meter dpl. Kita mendaki cuma sampai pos pertama (Spilios Agapitos) di ketinggian 2100 meter dpl. Masih jauh dari puncak Olympus, yang tingginya 2918 meter dpl. Kalau kamu mendaki tanpa saya, mungkin kamu akan mendaki sampai puncak. Makasih ya, kamu nggak maksa dengkul payah ini untuk kerja keras sampai puncak. Tapi, sebenarnya gimana sih perasaan kamu pas sampai di pos pertama itu?
I posted an instagram photo on that refuge, it was my highest Instagram post ever. They had wifi up there, whoaa!!!
Selain wifi, mereka juga punya kamar-kamar untuk pendaki yang mau nginep (tapi harus booking sebelum naik, booking via website ini http://www.mountolympus.gr/en/#.VquYjLJ97IU).
Mau makanan hangat? Mereka punya restoran kecil-kecilan. Mau nyuci baju? Mereka punya mesin cuci juga (khusus buat pendaki yang menginap).
So, I'm amazed. Di ketinggian segitu, dengan akses yang sulit, mereka punya fasilitas lengkap begitu!
Hebat, ya! Nggak kebayang repotnya mereka ngadain itu semua. Terus, bagaimana kamu mendeskripsikan pemandangan di Gunung Olympus?
Karena belum pernah naik gunung di area non tropis, jadi terkagum-kagum sama paduan hijaunya pepohonan dan putihnya salju yang kelihatan di beberapa puncak sepanjang perjalanan. It was majestic AF**.
Satu hal apa yang paling berkesan dari pendakian itu bagi kamu?
Saljuuu!!!!
I was just a little boy from Bekasi who never thought I would see snow in my lifetime. Soooo… my most memorable thing about Olympus is the snow, for sure.
Aaaaw, I'm happy that you're happy with the snow. Nah, kalau kamu dapat kesempatan untuk naik Olympus lagi, apa yang akan kamu lakukan secara berbeda?
I’ll go to the summit.
Oke, kamu ke puncak, saya tunggu di Litochoro sambil main dengan Paris dan Elif***. Terakhir, nih. Kamu akan menyarankan naik Gunung Olympus pada siapa saja? Dan kenapa?
Olympus cocok dikunjungi oleh orang-orang yang suka hiking, tentunya. Buat yang suka hiking-hiking lucu tanpa ambisi berlebih untuk sampai puncak. Kenapa nggak harus sampai puncak? karena sampai di Spilios Agapitos aja pemandangannya udah keren, dan treknya juga cukup menantang.

>> Baca juga: Litochoro, Kota Kecil yang Damai di Kaki Gunung Olympus.
Bekasi boy with his first snow.

* * *

Nah, begitulah cerita pendakian kami di Gunung Olympus, versi Diyan. Versi saya, nggak banyak berbeda. Saya senang dan puas bisa mendaki sampai pos pertama. Saya jalan kayak siput tua renta, tapi yang penting saya sangat menikmati pemandangannya, dan kembali dengan utuh. 

Nggak ada pemikiran yang dalam dan kalimat puitis dari saya tentang naik gunung ini, nggak ada. Salju ya salju, jalan berliku-liku ya jalan berliku-liku. Saya cuma senang, puas, dan terkesan dengan jalur pendakian yang sangat rapi. Would I do it again? Maybe not. But it's definitely one of my most memorable and highly cherished experiences!

Ngos-ngosan tapi senang!


TIPS & NOTES

- Cek temperatur sebelum mendaki, ingat bahwa di atas sana temperatur lebih dingin daripada di kaki gunung. Kami pakai celana pendek, walhasil kaki rasanya hampir beku mulai setengah jalan, apalagi pas hari makin sore. Sesampainya di Spilios Agapitos suhu mencapai sekitar 14 C di sore hari. Brrr!

- Bawa bekal makanan dan minuman sendiri. Di Spilios Agapitos kamu bisa beli makanan, tapi jaga-jaga kalau kelaparan sebelum sampai ke sana.

- Rata-rata orang mencapai Spilios Agapitos dalam 3 jam, tapi kami dua kali lipatnya. Jarak Prionia - Spilios Agapitos cuma 6 km, tapi elevasinya 1000 meter.

- Kalau tidak ada orang yang bisa mengantar-jemput kamu dari/ke Prionia, bikin janji dengan supir taksi. Mereka sudah biasa dengan turis pendaki Olympus. Taksi bisa ditemukan di dekat bundaran pusat kota Litochoro. Tarifnya sekitar 25 Euro sekali jalan.

- Di sepanjang pendakian tidak ada sinyal ponsel. Menelepon cuma bisa dilakukan di pos/refuge Spilios Agapitos dengan telepon satelit mereka. Di sana juga ada wifi, jadi mungkin kamu bisa menelepon via Whats App.

- Di mana pun: buanglah sampah pada tempatnya. Bawa kantung plastik untuk jaga-jaga kalau tidak ada tempat sampah. 

- Jangan vandal! 


* Litochoro = kota kecil di kaki Gunung Olympus. Para pendaki biasanya menginap di sini sebelum naik.
** AF = as fuck, bukan auto focus.
*** Paris dan Elif = Elif nama anak host Airbnb kami di Litochoro, gadis kecil keturunan Turki dan Yunani yang menggemaskan. Paris nama kucing liar yang paling preman di Litochoro. Elif suka sekali bermain dengan Paris. 


Pagi hari di Prionia.


Pendakian dimulai. Terdapat peta rute di papan sebelah kiri.

Cuaca belum dingin, jaket belum dibutuhkan.

Istirahat di tempat persediaan air minum. Tuh, yang di pancuran kanan itu.

Sejauh mata memandang...

Makan bekal masakan sendiri, sekaligus ngaso.

Mengumpulkan tenaga untuk lanjut!

Makin ke atas, makin sedikit pohon.

Makin mendekati Spilios Agapitos, makin kering alamnya.

Nggak nyangka, masih ada salju dan cukup banyak, di bulan Mei!

Saljunya kotor, kena tanah.


Si sepatu tua ikut berkelana ke rumah Zeus.

Sampai juga di pos Spilios Agapitos!


Para pegawai di pos ini hanya berumah di sini pada musim Olympus dibuka untuk pendaki, kira-kira 6 bulan/tahun.

We did it! We hiked Mount Olympus!


Cerita trekking kami di Yunani lainnya: Antara Oia dan Fira di Santorini.
Rincian kisaran biaya perjalanan di Yunani: Greece Budget.
Cerita trekking kami lainnya, di Singapura: Macritchie Reservoir.

15 comments:

  1. Kalo naik ngak turun2, mungkin dia di bawah zeus yaaaa. Langsung isi form nya diatas sana, cusssa pilih neraka atau surga gitu

    ReplyDelete
  2. Waaah unik Mbak mewawancarai suami sendiri untuk ditulis di sini hehehe.

    Jadi penasaran rasanya mendaki di daerah non tropis, dan selalu salut dengan kebersihannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih, soalnya wawancara seleb udah terlalu mainstream..hahaha..

      kalo gunung-gunung di Indonesia kebanyakan kotor kah?

      Delete
  3. huaaaa seru nih,,,bikin pengen aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Lintang, kalo ada kesempatan dan kesehatan, coba ajaaa.. :D

      Delete
  4. itu ada kakek-kakek ngeliatin vira! apa yang dia pikirin, ya!
    ah, seru banget iniiiih, gue suka hiking dan pasti bakal ke sini kalau ke Yunani one day. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin dia pikir, "Ini anak keren banget! gak tau kenapa, tapi keren banget!"
      hahahaha

      Delete
  5. btw, Diyan ekspresinya kayak anak kecil saking senengnya, ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesungguhnya dia memang anak kecil yang suka sok tua :))

      Delete
    2. yeaaah!! seneng banget emang..

      abisnya udah lama banget denger soal gunung ini, eh akhirnya kesampaian juga :)

      Delete
  6. gunungnya keren, pemandangannya pun bagus, meskipun capek tapi terbayar oleh keindahan gunungnya..

    ReplyDelete
  7. Aku juga pernah Kesana...Tapi sampai di POS lain (bukan pos Agiptos)
    Aku gak kuat lagi,jadi aku ke pos itu.nama pos itu gak salah...apa ya?aku lupa....ayah sama kakak aku udah sampai Kota Di gunung olympus

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagus yaaa di sana :D
      Ayah sama kakak kamu udah sampai Kota di gunung olympus? maksudnya gimana ya? ada kota di gunung?

      Delete