Mar 16, 2016

Mencetak Sejarah di Museum Tipografi



Tipografi. Seni menyusun dan mencetak huruf untuk menciptakan kesan tertentu, dengan mengatur ukuran dan jarak antar huruf.

Entah kenapa kesenian ini seksi sekali di mata saya. Kesukaan saya terhadap tipografi mungkin secara tak saya sadari sudah ada sejak saya di bangku SMP. Saya suka banget – yang sekarang beken dengan nama – hand-lettering dengan spidol warna-warni waktu itu. Album foto – zaman foto masih sering dicetak dan disimpan di album fisik – saya susun dan hias dengan huruf-huruf yang saya gunting dari majalah. Lalu ditambah kegemaran baca majalah – terutama majalah Hai – saya bercita-cita jadi desainer grafis. Ditambah lagi kegemaran nonton video musik di MTV, saya makin yakin untuk kuliah di Seni Rupa, tepatnya Desain Komunikasi Visual.

Kalau tidak salah, di tahun kedua saya mendapatkan mata kuliah Tipografi, yang lalu menjadi salah satu mata kuliah favorit saya, di samping Ilustrasi – dan Agama Budha yang merupakan pilihan kuliah umum. Kalau tidak salah, nilai akhir saya di mata kuliah ini tidak sempurna, bukan A. Dan saya ingat suka mengabaikan teori dari dosen karena saya lebih suka susunan dan warna huruf yang saya ciptakan daripada apa yang disarankannya. Belagu, ya? Tak apa, saya pikir Ibu Dosen yang baik hati itu cuma tak mengerti saja referensi yang memengaruhi konsep saya saat itu. Saya ingat, dia memotong kalimat ketika saya menjelaskan konsep.  Seharusnya saya kesal, tapi entah kenapa saya bisa cuek, dan masa bodoh dengan nilai B pada tugas itu. Mungkin karena saya menikmati sekali menyusun huruf, bahkan saat hampir semua masih dikerjakan dengan tangan, tak ada kemudahan undo. Kalau salah menggambar huruf, ya, berarti harus dihapus atau diulang lagi dari awal.

Begitu mulai belajar menggunakan Photoshop, banyak waktu bisa saya habiskan untuk memilih font atau tipe huruf – kebiasaan yang masih saya lakukan sampai sekarang. Saya tak berani mengaku ahli tentang tipografi, tapi saya sering terganggu melihat penggunaan dan penyusunan huruf yang tidak pas, setidaknya menurut saya. Peringatan listrik tegangan tinggi menggunakan Comic Sans? Naskah panjang menggunakan Haettenschweiler? Ooooh, colok saja mata saya sekalian!

Begitulah, saya punya kesukaan dan kepedulian terhadap tipografi; bentuk dan susunan huruf, serta keserasian huruf dengan penerapannya. Maka ketika merencanakan perjalanan ke Yunani, betapa girang ketika saya menemukan poin “Typography Museum” dalam daftar tempat wisata yang direkomendasikan di Chania. Seperti Diyan yang tidak mempan dengan kelitan saya untuk menghindari pendakian Gunung Olympus dan menyusuri Samaria Gorge, tekad saya mengunjungi Mouseio Typografias pun tak mengenal kata ‘tidak’. Belum pernah saya tahu ada museum yang khusus didekasikan untuk tipografi sebelumnya!


Plang sederhana dengan huruf yang didesain dengan baik.


Mbak Elia, jurnalis sekaligus pemandu tur kami.



Ketika sudah di Chania, kami baru menyadari bahwa Museum Tipografi ini berlokasi di pinggir kota Chania, tepatnya di kawasan industri. Tak ada bus dengan trayek ke sana. Supir taksi yang kami tumpangi pun tidak tahu pasti akan lokasi museum ini, bahkan setelah kami tunjukkan screenshot peta dari Google Map. Berkat bantuan sang supir bertanya pada beberapa orang di jalan, akhirnya kami tiba juga di museum dalam waktu 15 menit saja.

Sesampainya di sana, staf museum bernama Elia Koumi menyambut kami dengan ramah. Ia memberikan tur keliling museum dan menjelaskan semua dalam bahasa Inggris yang lancar dengan logat Yunani yang kadang membuat saya harus berpikir keras apa yang dimaksudnya.

Tur dimulai dari replika mesin cetak pertama penemuan Guttenberg, yang cara kerjanya mirip cetak sablon. Elia mencontohkan cara kerja mesin itu, lalu mempersilakan kami bergantian memulas tinta pada susunan huruf di plat yang sudah tersedia, dan mencetak satu halaman koran dengan menarik tuas yang sangat berat. Tak terbayang besarnya tenaga para pekerja surat kabar zaman dulu yang harus mencetak ratusan eksemplar, dan tiap eksemplar terdiri dari beberapa halaman. Pasti bisep mereka kencang!  


Pertama, letakkan plat susunan huruf, lalu lumuri dengan tinta.

Lalu, letakkan kertas, tarik tuas kencang-kencag untuk mencetakkan huruf pada kertas. Ini nyengir bukan karena pekerjaannya gampang, tapi menertawakan diri sendiri yang kekuatannya cupu.

Hore, berhasil! 



Tur berlanjut ke mesin yang harus meleburkan metal untuk kemudian mencetak huruf lagi. Ada pula mesin yang lebih modern, yang bisa memberi empat pilihan font. Lebih canggih lagi, ada mesin yang bisa menyimpan lembar demi lembar plat susunan huruf, yang menghemat banyak waktu untuk mencetak koran dan buku. Mesin-mesin yang sudah lebih modern ini terlihat seperti mesin tik kuno raksasa. Sebagian hanya mengandalkan pekerjaan dengan tangan, sebagian mesti dioperasikan dengan tangan dan kaki sekaligus, semacam mesin jahit kuno.

Terus terang saya lupa persisnya nama jenis mesin-mesin ini, apalagi tahun digunakannya. Yang saya ingat, ada beberapa di antaranya yang merupakan mesin linotype, litografi, gravir, dan cetak sablon. Di luar dugaan saya, museum ini memiliki poster tertua di dunia!

Terbiasa dengan komputer, atau setidaknya mesin tik saat masih kecil, saya takjub dengan cara kerja mesin-mesin ini. Walaupun pernah dijelaskan oleh dosen saat kuliah dulu, melihat langsung mesin dan cara kerjanya jauh lebih membuat saya menghargai usaha keras para jurnalis dan desainer grafis zaman dulu. Apa ini, ya, yang dirasakan anak-anak kelahiran tahun 2000-an saat mereka melihat telepon putar, sistem DOS, dan rewinder kaset VHS?


Menurut Elia, ini poster tertua di dunia, tentang Olimpiade di Athena.
Waktu itu saya mulai bosan motret dengan kamera, jadi motret dengan HP ala kadarnya.
Gini deh hasilnya, buram :(

Cetak sampul emboss, ini contoh buku berbahasa Jerman.

Kiri: Linotype. Kanan: Sekretaris lagi magang.

Kalau tidak salah, ini cetak gravir. Tapi, entahlah, lupa tepatnya.


Telex, alat untuk mengirim dan menerima pesan via sambungan telepon. Jadi, telegram, ya?



Elia, pemandu tur kami, bukan sembarang pemandu. Ia seorang jurnalis di surat kabar Haniotika Nea yang terkemuka di Kreta. Adalah Yannis Garedaki, pemilik surat kabar tersebut, yang mendirikan Museum Tipografi pada tahun 2005 bersama teman-teman sejawatnya. Memulai karier sebagai jurnalis, mereka mengumpulkan berbagai mesin cetak dari berbagai sumber; beli maupun sumbangan, replika maupun asli kuno. Mereka berprinsip bahwa mesin-mesin bersejarah serta jasa para tipografer harus dikenang dan dihormati sampai kapan pun. Maka didirikanlah museum ini, yang selalu membuka pintu lebar-lebar bagi siapapun yang ingin tahu tentang sejarah perkembangan tipografi.

Satu-persatu sarana museum dibangun. Dari ruang pameran, auditorium, hingga galeri khusus untuk karya desainer Antonis Papantonopoulos. Karya-karyanya yang dipamerkan di sini merupakan interpretasinya akan penemuan-penemuan awal yang menjadi cikal bakal aksara dan tipografi dunia. Saat saya berkunjung ke sana di pertengahan tahun 2015, baru saja toko suvenir diresmikan. Sebagai penggemar stationery, manalah mungkin saya melewatkan belanja pensil, buku catatan kecil, dan pembatas buku yang semuanya didesain dengan sangat bagus dan kekinian.








Museum Tipografi ini tak hanya berfungsi sebagai “sarana nostalgia”, tapi mereka juga mendukung perkembangan tipografi. Terbukti dengan tiap tahun diadakannya lomba poster dengan elemen utama tipografi. Beritanya bisa kamu baca di halaman News website mereka, siapa tahu kamu berminat untuk mengikuti lomba berikutnya. Seiring dengan tujuan tersebut, museum ini menerima kunjungan rombongan demi rombongan anak sekolah dari seluruh penjuru Yunani – bukan cuma dari sekitar Chania. Bahkan di bulan Mei tahun 2015 mereka juga dikunjungi dengan suka cita oleh dua orang dari Indonesia!


Info:
Biaya masuk Mouseio Typografias: 4 Euro / orang.
Jadwal buka: Minggu jam 10.00-15.00. Selain itu, silakan bikin janji lewat email info@typography-museum.gr
Untuk informasi resmi, buka saja website mereka typography-museum.gr


Catatan:
Sebagian dari tulisan ini saya ambil dari artikel karya saya yang pernah dimuat di Majalah Panorama edisi September/Oktober 2015 mengenai perjalanan di Chania dan sekitarnya.







3 comments:

  1. salam kenal....

    hehe pantes ada perubahan font di tengah2 cerita...

    menarik juga museum nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe.. kalau soal font itu sih karena kesalahan teknis, dan belum sempat dibenerin :D
      salam kenal juga

      Delete
  2. Oh, wow, I was drooling at every photo! I'm a geek for good typography. Love your post!

    ReplyDelete