Mar 4, 2016

Mendaki Gunung, Lewati Lembah, di Samaria Gorge




Samaria Gorge adalah tujuan utama saya mengunjungi Chania, salah satu kota besar di Pulau Kreta, Yunani.

Koreksi. Sebenarnya Samaria Gorge tujuan utama Diyan memilih destinasi Chania, dan saya terseret ke dalamnya.

Saya sempat ragu untuk ikut trekking di sana karena khawatir lutut saya ngadat. Rute sepanjang 13 km dengan kontur naik turun dan berbatu-batu, lumayan bikin saya jiper. Tapi pemandangan di sana sepertinya indah banget, berdasarkan foto-foto yang saya lihat di internet. Plus, ini destinasi yang unik, belum pernah saya trekking di lembah. Jadi, hajar sajalah!

Berangkat naik bus dari kota Chania subuh hari, kami kemudian mulai trekking kira-kira pukul 7 pagi. Sudah banyak orang lain di lokasi bernama Omalos itu, yang akan menempuh perjalanan yang sama dengan kami. Pria-pria muda kekar hingga lansia kurus tapi tegap, semua tampak siap dengan perlengkapan masing-masing; sepatu trekking, jaket tipis, botol minum, hingga trekking pole. Setelah sarapan sandwich ala kadarnya di kedai dekat gerbang masuk, kami pun bergabung dengan ‘barisan’ trekking.  


Kafetaria tempat bus mengantarkan trekker.


Siap-siap mulai trekking.


Samaria Gorge adalah ngarai di antara Lefka Ori (White Mountains) dan Gunung Volakia. Area  ini tidak berpenduduk sejak diresmikan menjadi Taman Nasional di tahun 1962, dan alasan dijadikannya taman nasional adalah untuk melindungi kri kri, kambing gunung endemik di Pulau Kreta. Saya berharap bertemu kri kri di sana, tapi sayangnya tidak terlihat satu ekor pun di sepanjang rute trekking.

Ada dua pilihan rute trekking di Samaria Gorge, yaitu menuruni jurang dari dataran Omalos menuju pantai Agia Roumelli yang menghadap Laut Libia (bagian dari Laut Mediterania), atau sebaliknya. Dua-duanya berjarak sama saja, dan sama-sama naik turun konturnya. Tadinya saya mau memilih rute lazy trekker, yaitu berangkat dari Sougia ke Agia Roumelli, lalu trekking secuil saja dan balik lagi ke Sougia. Tapi kok rasanya tanggung, jadi saya nekat saja dengan rute panjang.

Ternyata, trekking di Samaria Gorge sangat menyenangkan! Aktivitas ini kami lakukan sebelum mendaki Gunung Olympus, jadi saat itu kami belum tahu bahwa rute trekking yang sudah umum di Yunani jauuuuh lebih nyaman daripada trekking di Indonesia yang ringan sekalipun. Hampir di setiap kilometer terdapat rest area yang menyediakan bangku dan meja kayu untuk beristirahat, serta pancuran mata air segar untuk langsung diminum. Trekker juga bisa mengisi botol minum di situ. Toilet pun tersedia dan lumayan terjaga kebersihannya.

Walau capek, pemandangannya indah banget!

Sampai ke kilometer ketiga!

Jembatan ke "settlement" yang dijadikan rest area.



Ketika mencari keterangan tentang Samaria Gorge di internet, Diyan menemukan jasa pemandu untuk trekking di Samaria Gorge. Lumayan harganya, 28 Euro per orang. Untung saja host Airbnb kami di Chania meyakinkan kami bahwa trekking di sana tidak perlu pemandu. Benar saja! Penunjuk arah jelas terlihat, lintasan sudah terbuka dan tak perlu golok untuk menebas ranting pohon atau ilalang. Malah sebagian lintasan sudah berbentuk tangga dan diberi pagar kayu.

Beberapa kali saya harus melintasi kali dangkal yang cukup diseberangi lewat bebatuan yang tersusun dari sisi satu ke sisi lainnya. Walaupun dangkal, saya tetap perlu berhati-hati agar tidak tergelincir. Tak jarang sesama wisatawan saling membantu melintasi sungai walaupun tak saling kenal. Jembatan kayu juga tersedia di atas sungai yang cukup dalam dan mengalir deras.


Diyan sulit jalan terus, keasyikan menikmati pemandangan.

Bebatuan dan kayu kadang disusun untuk membantu penyeberangan.

Saya harus menahan diri untuk terlalu sering mengambil foto.


Kira-kira di km 11, tebing yang mengapit ngarai menyempit menjadi 3,5 m saja lebarnya, setelah sebelumnya bisa mencapai lebar 150 m, dengan tinggi tebing mencapai 350 m. Bagian ngarai sempit ini dinamakan The Iron Gate. pemandangan yang sangat megah! Manusia cuma terlihat sekecil kutu di dekatnya.

Iron Gate ini panjangnya kira-kira 2 km dan hampir di sepanjang itu kami harus berjalan melipir di tepi untuk menghindar dari aliran sungai. Dinding batu di sepanjang Iron Gate – bukan besi seperti namanya – memiliki guratan berlapis-lapis. Setiap melihat bebatuan dengan guratan-guratan seperti ini, ingin sekali rasanya saya berjalan didampingi seorang ahli geologi supaya bisa menjelaskan cerita di balik guratan-guratan itu. Andai saja!

The Iron Gate!

Dinding batu dengan guratan yang bikin penasaran.

Menyusuri Iron Gate, bagian iconic dari Samaria Gorge.


Kelar menyusuri Iron Gate, tibalah kami di gerbang keluar taman nasional. Sebuah kedai sederhana menawarkan makanan dan minuman segar, tentunya tidak gratis. Di sini biasanya para trekker beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai Agia Roumelli yang berjarak 3 km dari sana.
Eits, tenang saja. Jarak 3 km ini tidak harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tersedia mobil shuttle yang bisa mengantarkan wisatawan dengan sedikit ongkos, kalau tidak salah 2 Euro per orang. Mungkin bisa ditebak, opsi inilah yang saya pilih.

Di pelabuhan kecil Agia Roumelli, beberapa feri dijadwalkan setiap pukul 17.30 untuk mengantarkan wisatawan – dan penduduk setempat – ke Sougia. Lalu dari Sougia bus umum mengantarkan wisatawan kembali ke kota Chania. Sambil menunggu feri datang, kami bersantai sejenak di pantai. Diyan memberanikan diri berenang di air laut yang dingin, sementara saya – karena tidak membawa baju renang maupun baju ganti – menunggu saja sambil makan pizza di restoran pinggir pantai. Pizzanya, sih, tidak enak, tapi pemandangan menghadap Lautan Mediterania itu sungguh ciamik. Hamparan gradasi biru berbatasan dengan pasir hitam vulkanik, dihiasi garis buih putih dan sedikit warna-warni pakaian renang wisatawan.

Pantai Agia Roumelli.

Sampai jumpa, Samaria Gorge!



Sebagai orang yang jarang trekking, saya cukup kewalahan dengan medan Samaria Gorge. Namun melihat banyaknya orang tua, berusia hingga 70-an tahun, yang masih segar bugar dan mampu berjalan lebih cepat dan lebih mantap, semangat saya pun terbakar untuk terus berjalan dan tidak mengeluh. Di samping itu, bentang alam yang indah dan gemericik air sungai yang mengiringi perjalanan sangat menyegarkan mata dan hati, seolah-olah menyemangati saya untuk terus berjalan dan melihat keindahan apa lagi yang menanti di depan sana. Kaki memang pegal, telapak kaki terasa sedikit melepuh, kulit tersengat matahari, dan punggung lelah menggendong ransel berisi kamera, air minum, dan jaket yang sudah tidak diperlukan lagi sejak menjelang siang. Namun semua itu terbayar dengan kepuasan telah menaklukkan rute Samaria Gorge, rute trekking terpanjang dan tercantik yang pernah saya lewati.



Info:


2 pasang kaki capek tapi senang dan puas!



Catatan:

Sebagian dari tulisan ini saya ambil dari artikel karya saya yang pernah dimuat di Majalah Panorama edisi September/Oktober 2015 mengenai perjalanan di Chania dan sekitarnya.



4 comments:

  1. 13 km dan sandwich ala kadarnya !!!! Tidakkkk aku lelah

    ReplyDelete
  2. hahahaha... sandwich-nya sih gede, Cum.. tapi rasanya ya biasa ajaa.. yang penting kenyang dan nambah tenaga. terus kalo buat makan siang sih bawa bekal.. :D

    ReplyDelete
  3. waah, itu The Iron Gate-nya keren amat, mana ada aliran sungai di bawahnya. aduuuh...
    13 km itu kayak dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo kalau di Semeru, bedanya jalannya sempit banget dan sampingnya jurang. hahaha...

    berarti ini aman banget ya trekking-nya, wajar kalau kakek-nenek bule pada santai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betulll, aman.. makanya gua suka :D
      Kalo Ranu Pane-Ranu Kumbolo itu nanjaknya kayak apa?

      Delete