Jul 13, 2016

Liburan di Bandung Untuk Bersantai Belaka

Pemandangan dari Puncak Bintang, Bukit Moko.


Bandung di masa libur selalu mengerikan. Penuh turis dan jalanan macet. Saya dan Diyan selalu menghindari Bandung di masa liburan, hingga akhirnya minggu lalu, ketika justru kami memutuskan untuk berlibur Lebaran di Bandung. Ceritanya, kami ingin liburan di luar Jakarta sebelum saya melepas status freelancer dan mulai kembali menjadi pegawai Senin-Jumat. Kami memilih Bandung karena ongkos ke sana relatif murah dan ada banyak pilihan Airbnb yang menarik. Pilihan Airbnb ini penting, karena kami punya banyak travel credit yang bisa digunakan.

Kami memilih Bright & Open Space sebagai 'rumah' kami selama tiga malam. Kami suka desain rumahnya yang unik dan keren, suasananya terlihat nyaman, dan keluarga pemilik rumah juga tinggal di situ. Lucunya, setelah memesan kamar, kami baru tahu bahwa pemilik rumah ini ternyata si Adi, teman kampus saya! Jadi rasanya semakin menyenangkan, seperti berlibur di rumah teman.

Update (Sept. 2017): 
Pemilik rumah baru saja punya bayi, jadi servis Airbnb-nya ditutup dulu, entah sampai kapan. Tapi masih banyak rumah keren lainnya di Bandung yang bisa jadi pilihan di Airbnb. 


Menangkap pernak-pernik dan cahaya di ruang tengah. Posted on IG.


Perjalanan Jakarta - Bandung di hari Lebaran kedua tidak seburuk yang kami bayangkan. Dalam empat jam kami tiba di pool X-Trans Cihampelas, lanjut naik taksi ke Airbnb di daerah Cimenyan, sedikit di luar batas kotamadya.

Rumah Adi merupakan salah satu hasil karya desain Dendy dari UNKL dengan tambahan ide-ide dari Adi dan Debbie, istrinya, yang sama-sama kreatif. Rumah berlangit-langit tinggi ini tampak makin menjulang karena berdiri di atas tanah yang juga sudah tinggi di hadapan jalan turunan. Bagian yang paling menarik perhatian adalah jembatan (atau lebih tepat disebut dermaga, ya?) besi di depan rumah, yang kerap digunakan Adi buat hobi astrofotografi-nya. Di jembatan ini saya dan Diyan mengamati matahari terbit di keesokan harinya, sambil duduk-duduk menikmati pagi hari di Bandung yang – sayangnya - sedang tidak begitu dingin.

Suasana rumah ini benar-benar terang dan lega seperti namanya. Nyaman pula dengan bean bags-nya, serta pernak-pernik dan sudut-sudutnya yang nyeni. Pas dengan niat kami untuk tidak banyak berkegiatan selama di Bandung, melainkan leyeh-leyeh di rumah sambil baca buku, mengobrol, atau menggambar. 


Bean bags di halaman rumah? Kenapa tidak?


Sunrise di Cimenyan.

Ngumpulin nyawa sambil menikmati sunrise.


Saya dan Diyan bergiliran untuk saling memotret. Salah satunya lagi ada di IG.


Menggambar ruang tengah.

Pernak-pernik rumah. Si Doggy pun berjemur. 

Saya, Danti (teman yang berkunjung), Debbie, Adi, dan Diyan (sedang motret) akhirnya keluar rumah jam 3 sore.


Dalam dua hari yang penuh kami habiskan di Bandung, kami baru bepergian agak sore. Yang pertama makan sate dan gulai kambing dengan teman-teman di Rumah Makan Harris, Simpang Lima, sebelum sorenya kami naik motor ke Bukit Moko. Jalanan yang kami lalui relatif sepi, tidak seperti libur Lebaran di Bandung yang kami takutkan. Fiuh! Sayangnya, masih banyak tempat jajan yang tutup, sehingga tempat-tempat yang buka banyak yang terlalu padat pengunjung, bahkan antrean mengular. Mirip halnya dengan Bukit Moko.

Kami memang sudah tahu bahwa Bukit Moko ini semakin digemari kalangan pengguna medsos sejak tahun 2014. Sayangnya baru kali ini kami menyempatkan diri ke sana. Kami tak mengira Bukit ini akan kosong dari turis selfie, tapi tak menyangka akan terlalu banyak pula! Karena konturnya berbukit-bukit dan ramai turis, kami langsung teringat akan Akropolis di Athena yang juga sesak dengan turis menjelang musim panas. Atau, seperti Candi Borobudur saat liburan sekolah, deh. Terbayang, kan, ramainya?

Perjalanan menuju Bukit Moko, Cimenyan, ini diiringi pemandangan asri perkebunan dengan latar belakang matahari yang semakin merendah. Jenis tanamannya apa, saya kurang paham. Yang jelas, cantik! Walaupun sudah menggunakan GPS, beberapa kali kami memastikan jalan dengan bertanya pada penduduk setempat karena, kok, tak kunjung sampai, padahal rasanya sudah berjalan jauh sekali. Selain itu, cukup banyak jalan bercabang yang bikin ragu.

Walaupun kami kurang suka dengan Bukit Moko yang sangat ramai dengan manusia plus tongsisnya, kami tetap mengambil waktu untuk duduk santai di bangku semen yang tersisa, tepatnya di Puncak Bintang. Pemandangan lampu kota bertemu langit gelap, tak pernah salah. Kira-kira satu setengah jam kami di sana sampai akhirnya tak tahan lagi dengan keramaian yang tiada akhir. Kami turun bukit, mengisi bensin motor, makan di warung piza, lalu kembali leyeh-leyeh di teras rumah Adi sampai tengah malam bersama seekor kucing liar yang manja.

Ladang menuju Bukit Moko.

Para pengunjung menikmati pemandangan di tengah keramaian.

Dari Puncak Bintang mengamati Dermaga Bintang dan lampu kota Bandung.


Bintang di Puncak Bintang.


Di sore hari berikutnya kami kembali jalan-jalan ke bukit, kali ini di daerah Ciburial. Tujuan utama adalah Warung Langit, tempat makan dengan bahan makanan organik yang sebagian besar dihasilkan dari kebun di sekitar warung itu sendiri. Rute yang kami lewati sudah lebih ramai dengan perumahan dan restoran-restoran, ada pula Selasar Sunaryo. Pemandangan dalam perjalanan maupun di Warung Langit tidak secantik di Bukit Moko, tapi kongko di hadapan hamparan kebun dengan teman-teman lama tetaplah menyenangkan, apalagi ditemani camilan lezat dan minuman segar.

Dari Warung Langit, saya dan Diyan turun bukit membawa hasil belanjaan: tanaman mint, lemon balm, dan stevia. Ya, kami rela repot membawa tiga ‘anak kecil’ ini naik X-Trans besoknya ke Jakarta. Walaupun di Jakarta pun ketiga tanaman ini ada yang jual, di Warung Langit jauh lebih murah, dan mungkin juga karena kami terbawa perasaan hangat di lokasi yang justru sejuk itu.

Bala-bala bayam. Pas rasanya!

Lemon Balm Sensation. Entah kenapa biji selasih dihidangkan terpisah.

Warung Langit.


Berbagai tanaman yang dibudidaya untuk hidangan dan untuk dijual.

Betah ngobrol dalam suasana begini!



Esok paginya, saya sedih. Sedih karena itu adalah hari terakhir liburan di Bandung, dan sedih karena Roti Gempol masih tutup. Cuma dua makanan yang sudah saya idam-idamkan sejak di Jakarta, yaitu Roti Gempol dan Bubur Ayam Pak Zaenal. Yah, setidaknya saya sudah puas dengan Bubur Zaenal di hari pertama, yang kami pesan lewat Go-Food. Ini memang bubur favorit saya, nomor satu di dunia!

Namun saya cepat gembira lagi pagi itu. Demi mencari sarapan lezat, di depan toko Roti Gempol yang tutup itu kami mencari rekomendasi sarapan di Bandung di Google. Maka sampailah kami di Café Lula di Jalan Citarum. Sebuah kafe modern, menempati bekas rumah Belanda seperti kebanyakan bangunan di daerah tersebut. Kami tamu pertama di Café Lula pagi itu.

Desain kafe seperti Café Lula ini jamak saya lihat di Jakarta. Harga menunya pun terasa seperti di Jakarta; kami menghabiskan Rp165.000,00 untuk dua makanan dan dua minuman. Rasanya? Lezat! Saya sampai menanyakan pada staf kafe apa saja bahan makanan yang ada di piring saya itu (dan esoknya di Jakarta langsung saya coba meniru, dengan hasil ala kadarnya). Jadi, walaupun gagal sarapan Roti Gempol, saya kembali gembira di pagi itu.


Bubur Ayam Pak Zaenal yang kental. Tampangnya berantakan, rasanya membahagiakan.


Berangkat ke Roti Gempol.

Coffee latte di Cafe Lula. Posted on IG

Diyan dan Cafe Lula.

Menu Egg Benedict with Smoked Salmon.

Menu Three Mushroom with Sausages.



Bandung memang selalu menggembirakan bagi kami. Biasanya, kami cuma menginap semalam kalau ke Bandung. Maka kami puas sekali dengan liburan kali ini. Menginap tiga malam dengan rencana yang tidak ambisius, bersantai di rumah yang nyaman, mengunjungi tempat-tempat cantik dan (kebanyakan) jauh dari keramaian, pulang dengan piaraan tanaman baru, cukup untuk menyiapkan mental kami kembali bekerja di Jakarta. Walaupun kami sering menghindari Bandung di akhir pekan, kami juga tak pernah bisa menyangkal daya tariknya.


Kapan lagi ya, ke Bandung?





15 comments:

  1. Rumah nya keren banget yaaaa, aku suka sekali. Semoga suatu saat nanti di kasih rejeki bisa punya rumah macam tuch amien

    ReplyDelete
  2. mau juga ah, ke bandung, ke tempat2 itu, belom pernah makan bubur pak zaenal sama warung langit

    ReplyDelete
    Replies
    1. cobain Vid bubur zaenal.. either you love it or hate it.. jarang ada yang sukanya sedang2 saja..hihi
      kalo warung langit, katanya mau grand opening di bulan agustus, dan nanti ada campsite-nya.. pengen juga gua nyobain.. barengan aja, apa?

      Delete
  3. duuh rumah impian banget ini banyak sinar matahari masuk.
    seneng yak jadi liburannya di Bandung ini sakses bangetttt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, tos kita sesama penyuka rumah terang :D
      alhamdulillah jeung, sakseeeuss berat liburannya! ayo mana cerita liburan Purwokertomu? Pen baca!

      Delete
  4. wah,saya jadi pengen liburan ke bandung..

    ReplyDelete
  5. Wah, aku tidak menyangka ternyata Bandung secantik itu...
    Ini dekat dengan kota Bandung kan? Eh rumah dengan jendela kaca segede itu apa tidak terlalu panas ya kalau matahari bersinar terik?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Haris, ini sedikit aja di luar kota Bandung, tapi masuk Kabupaten Bandung. Memang sih, kalau siang hari sebagian rumah ini lumayan panas, tapi ada bagian2 yang nggak gede kacanya kalo siang tetep lumayan adem..

      Delete
  6. wahhh mantap nih liburan... bdw mampir kesini Bengkulu sudah gan? :)

    ReplyDelete
  7. Rumahnya keren banget, langsung save di whistlist airbnb, semoga bisa kesana kapan-kapan :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang keren, menyenangkan buat liburan dan foto-foto :))

      Delete
  8. Rumahnya keren ,,, tp syg ko sudah tidak tersedia ya di airnb ... padahal pgn ksna :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemilik rumah baru aja punya bayi.. jadi sepertinya servis airbnb-nya ditutup dulu, entah sampai kapan..

      Delete