Jan 4, 2017

LOMBOK & SUMBAWA, TRIP TERAKHIR DI TAHUN 2016

Di cerita sebelumnya, saya sempat bilang bahwa ada kemungkinan saya akan ke Lasem di bulan Desember ini. Ternyata, destinasi berubah menjadi Lombok dan Sumbawa. Agak sedih karena batal ke Lasem, tapi senang juga karena saya belum pernah ke Sumbawa, dan Lombok pun selalu terdengar menyenangkan. Omong-omong, kenapa destinasi bisa berubah drastis begitu? Jadi, ini sebenarnya trip pekerjaan yang disponsori oleh suatu online marketplace. Mereka ingin membuat video perjalanan dengan traveler/travel blogger sungguhan, dan entah kenapa mereka khilaf, terpilihlah saya mewakili Indohoy.com bersama Vindhya dari Ibupenyu trip organizer. Hore!!!

Videonya sendiri masih dalam tahap editing, jadi saya belum mau membocorkan mereknya. Namun, tempat-tempat yang kami datangi terlalu cakep untuk nggak saya pamerkan di sini!

(Update: Videonya udah jadi, nih! Silakan klik di sini )

Tertiup angin di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat


Jalan-jalan sebagai talent (istilah yang biasa digunakan orang video production untuk mereka yang di-shoot, baik artis betulan, figuran, ataupun orang biasa yang profilnya yang diangkat) berbeda banget dengan pengalaman jalan-jalan saya biasanya. Sebagai talent, penampilan harus diperhatikan dari pakaian, riasan wajah, sampai ke detail aksesorisnya. Untungnya ada Mishella, wardrobe stylist merangkap make-up artist yang memikirkan semua itu. Sebagian pakaian dan aksesoris memang milik saya, tapi dia yang mengatur semuanya. Koper dan ransel (ya, saya bawa dua-duanya, saking banyak pakaian yang harus dibawa!) ada yang mengurus, mulai dari check-in bagasi sampai mengantarkannya ke kamar hotel. Begitu juga makanan dan itinerary, saya tak harus pusing memilih tempat.

Sedangkan dari segi kepuasan eksplorasi, terus terang saya nggak puas. Namun saya maklumi karena ini, kan, perjalanan dalam rangka shooting video. Tim kreatif dan produksi sudah menentukan apa saja yang mau di-shoot, saya tinggal ikut. Kalau mau mengeksplorasi lebih banyak, harus saya lakukan di lain waktu, saat saya bepergian dengan biaya sendiri.


Lebih dari 12 kombinasi pakaian dan aksesoris hanya untuk trip 6 hari!

Kadang tertawa pun harus mikir menghadap ke mana karena ada kamera yang menguntit.



Berikut ini beberapa tempat yang kami kunjungi di Lombok dan Sumbawa:

Taman Narmada, Lombok Barat

Taman Narmada ini sudah lama menjadi tempat wisata di Lombok, tapi baru kali ini saya ke sana. Tempat ini dulunya merupakan istana peristirahatan Raja Mataram, Anak Agung Gde Karang Asem. Selain bangunan-bangunan menyerupai rumah, ada kolam-kolam yang dialiri dari mata air, serta pura yang sampai sekarang masih digunakan untuk sembahyang. Di hari Minggu saat kami berkunjung, taman ini ramai pengunjung lokal. Wajar saja, tempatnya tertata rapi, anak-anak pun dibolehkan bermain di kolamnya. Such a sight for sore eyes, to the least.


Taman Narmada


Islamic Center, Mataram

Kami ke Islamic Center pas malam hari. Masjid megah ini diterangi lampu warna-warni yang mengikuti bentuknya. Arsitekturnya unik karena merangkul gaya arsitektur Sasak, yaitu budaya asli Lombok. Ini terlihat dari lengkungan-lengkungan atapnya yang lonjong dan agak meruncing di atas. Saya suka gedung-gedung ibadah yang begini, tak lepas dari elemen budaya setempat.

Beranda masjid.


Masjid warna-warni di malam hari.



Kota Tua Ampenan, Lombok Barat

Ampenan berada di Lombok Barat, berbatasan dengan Selat Lombok. Area ini sempat berjaya saat dijadikan pelabuhan untuk menyaingi kerajaan Bali oleh Belanda. Bandara lama, Selaparang, juga berada dekat dari sini, sebelum akhirnya didirikanlah Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah. Saat berkunjung di Kota Tua Ampenan, saya melihat bangunan-bangunan lama ala Tionghoa bersanding dengan bangunan Belanda. Secara keseluruhan terkesan kurang terawat, tapi ada banyak lokasi yang membuat kami tak henti-hentinya berfoto. Instagramable banget!

Vindhya udah cocok jadi model Instagram?

Sudut kota yang asyik buat digambar.





Jembatan Gantung Gerung, Lombok Barat

Sekitar satu jam ke arah selatan dari Ampenan, ada jembatan besi yang sudah didirikan sejak masa Belanda, kemungkinan tahun 1932. Jembatan bercat biru dan kuning ini lebarnya 4 meter, panjangnya 116 meter. Dulunya memuat mobil, tapi sekarang hanya muat satu lajur motor, sepeda, dan pejalan kaki di bagian tengahnya, karena kerusakan yang tidak diperbaiki. Di lapisan bawah jembatan terdapat aliran air yang dijadikan irigasi untuk persawahan di sekitarnya. Berkunjung ke sini agaknya lebih tepat di sore hari, karena siang hari matahari Lombok sangat mentereng!

Jembatan gantung Gerung.

Vindhya nunggu tukang bakso lewat.



Desa Sade, Lombok Tengah

Sejujurnya, saya nggak semangat ketika mengetahui kami akan ke Desa Sade. Saya pernah ke desa wisata ini di tahun 2014, dan kesan saya adalah desa ini sudah sangat komersil. Bentuk rumahnya memang masih asli Sasak, lantainya masih dibersihkan menggunakan kotoran kerbau. Tapi banyak sekali warganya yang berjualan suvenir di depan rumah, tiap grup pengunjung harus didampingi pemandu wisata yang menceritakan cerita template tentang Desa Sade, dan kadang para gadis memeragakan cara menenun dengan wajah yang sepertinya kurang senang.

Ramai turis, warga lokal, dan suvenir.

Atap rumah Sasak.



Bukit Merese atau Meresek, Lombok Tengah

Menurut artikel ini, Bukit Merese adalah tempat terbaik untuk jatuh cinta. Ada benarnya. Saya memang jatuh cinta di situ. Saya jatuh cinta pada Bukit Merese itu sendiri. Pemandangannya sangat indah, dengan padang rumput yang bergelombang bagaikan Marlboro Hills di Batanes dan laut biru yang terhampar luas di bawah bukit. Tak puas-puasnya kami semua berfoto di Bukit Merese. Sayangnya kami nggak sempat bermain ke pantainya karena begitu shooting usai, hujan turun. Kami pun berlarian berteduh di dalam mobil dan bergegas ke lokasi berikutnya. 


Tiduran di area rumput yang bebas kotoran kerbau.

Mencari Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa, dan Po.



Bukit Selong dan Desa Beleq, Lombok Timur

Ini kali kedua saya ke Bukit Selong. Pemandangan petak-petak sawah dan Bukit Pergasingan di hadapannya masih cantik. Di kaki bukit kecil ini terdapat Desa Beleq, desa yang jumlah rumahnya hanya tujuh, tak boleh berkurang maupun bertambah. Salma, seorang perempuan muda dari warga desa tersebut, dengan ramah mengajak kami main ke rumahnya. Menurut Salma, warga desa Beleq boleh menikah dengan warga desa lain, boleh tinggal di desa ini bersama pasangannya, ataupun pindah ikut pasangannya ke desa lain. Satu hal yang umum dipraktikkan di sini, seperti halnya di desa-desa Lombok lainnya, adalah menikah di usia sangat muda, di bawah 17 tahun. Kalau saja kami punya banyak waktu, pasti banyak kisah menarik yang bisa Salma ceritakan tentang desanya.

Sejauh mata memandang...

Menerbangkan layang-layang di atas bukit.

Dengan Salma di teras salah satu rumah Beleq.



Air Terjun Benang Kelambu, Lombok Tengah

Air terjun Benang Kelambu terletak betul-betul di tengah Pulau Lombok, di kaki Gunung Agung. Saya pribadi bukan penggemar air terjun pada umumnya, karena saya kerap bingung mesti ngapain di air terjun, apalagi yang bagian tampungan airnya tidak bisa direnangi atau air terjunnya terlalu curam. Di Benang Kelambu saya senang karena bebatuannya masih mungkin dipanjat, dan di bawah sudah bisa direnangi. Memang, sih, bentuk kolam semen begitu kurang menarik, tapi tak bisa dipungkiri airnya sejuk dan segar betul!

Dipijat air terjun.

Walaupun dingin, kami nggak mau cepat-cepat selesai main air terjun.


Pulau Kenawa, Sumbawa Barat

Hore! Nyeberang naik feri dari Pelabuhan Khayangan, Lombok Timur, kea rah timur selama 1,5 jam, sampailah kami di Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Menjelang sampai, sudah terlihat Pulau Kenawa di kejauhan. Begitu merapat, mobil kami langsung keluar pelabuhan sedikit, mengantarkan kami ke pelabuhan kecil, tempat perahu-perahu motor telah menunggu. Hanya sekitar 15 menit kami menyeberang, sampai di Pulau Kenawa.

Pertama kali saya mengetahui tentang Pulau Kenawa adalah dari blog Yuki. Persis yang dikisahkannya, pulau ini berangin kencang, tapi untungnya sedang tak ada badai. Lanskap pulaunya khas Indonesia timur, dengan kontur unik yaitu satu bukit menjulang sendiri di tengah sabana. Karena kaki saya sedang keok, saya mendaki bukit hanya sampai pinggangnya. Seturun dari bukit, snorkeling di sekitar dermaga, saya cuma melihat air keruh dan arusnya cukup kuat. Walaupun kurang puas dengan snorkeling saat itu, saya cukup senang karena sudah hampir setahun tidak menyelup ke air laut!

Merapat ke Pulau Kenawa.


String Bag dari @byviratanka asyik juga buat trip basah-basahan sedikit!


Lanskap khas Pulau Kenawa

Memilih petak tanah yang ingin kami beli dan jadikan vila.



Desa Mantar, Sumbawa Barat

Cita-cita mulia pagi itu adalah mengejar pemandangan matahari terbit yang kece dari ketinggian puncak Desa Mantar. Kami serombongan menaiki beberapa mobil bak melewati jalanan tanah dan berbatu-batu saat ayam pun belum berkokok. Sampai di puncak, kabut tebal menyapa. Gagal cita-cita kami, tapi sejujurnya saya suka sekali dengan pemandangan abu-abu itu. Kemudian kami berjalan-jalan sedikit di Desa Mantar, sempat pula bergunjing dengan ibu-ibu di tangga suatu rumah. Imut sekali rumah-rumah panggung di Desa Mantar, banyak yang dicat berwarna-warni bagaikan perumahan Kota Mainan di buku cerita Noddy. Menurut seorang ibu di sana, mereka mengecat rumah agar terlihat bagus, tidak lusuh seperti warna aslinya.

Jemurannya pun berwarna-warni.

Si Guguk yang menemani kami selama di puncak.

Konon, pohon ini terkenal berkat film Serdadu Kumbang.



Whales & Waves Resort, Sumbawa Barat

Tadinya saya berharap bahwa kami akan menginap di resor keren ini. Ternyata kami di sana cuma untuk keperluan shooting. Oh, well. Lumayan jugalah menikmati fasilitasnya dari siang sampai malam. Main ayunan menghadap ke laut, jalan-jalan di halaman rumput yang luas, dan berenang di pantai dengan teman-teman dan Brownie, anjing ramah dan ceria milik resor. Sejak magrib, hujan turun lebat dan listrik mati. Genset rusak. Jadilah kami bergelap-gelapan menyantap pasta lezat di restorannya yang tak berdinding. Pengalaman yang cukup merepotkan tapi juga lucu ketika kami semua berusaha memuat barang-barang ke mobil tanpa membasahi badan dengan jumlah payung yang minim.



Bangunan unik yang menggemaskan.

Reza sedang mengajarkan break dance ke Mishella?

Fasilitas yang kadang jadi rebutan tamu.



Di luar lokasi-lokasi shooting ini, masih ada lagi pengalaman-pengalaman menarik selama perjalanan. Misalnya, menyicipi Ayam Taliwang Pak Udin dan Sate Rembiga Bu Sinasseh yang terkenal di Mataram, Ayam Rarang di Lombok Timur, serta iseng-iseng belanja aksesoris di toko suvenir Sasaku. Sedangkan tempat menginap berpindah-pindah, tapi 2 hotel yang paling nyaman waktu itu adalah Hotel Idoop dan Golden Tulip di Mataram.  

Sepulang dari trip Lombok Sumbawa ini saya diserang flu. Mungkin karena lelah campur kedinginan di air terjun. Namun begitu, saya menyukai trip ini, dan bersyukur bahwa tahun 2016 ditutup dengan pengalaman seru yang langka seperti ini.


Lalu saya pun bertanya-tanya. Akan seperti apa ya tahun 2017 ini?

Perjalanan ditutup dengan sketsa dari dalam kamar hotel.



13 comments:

  1. oh kutak sabar melihat videonya jadi! Kapan lagi liat Piya sama Ipink dandan dan bawa 12 strl pakaian buat 6 hari trip!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sungguh momen langka!! hahahaha...
      kujuga tak sabar niiih mo lihat videonya, tapi take VO aja belum..huhu..

      Delete
  2. Foto fotonya keren Vir, sketch nya juga bagus banget..... Ntar video nya di share yah. Pasti menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, makasiiihh.. hehehe.. Iya, nanti link videonya bakal gue tambahin di artikel ini :D

      Delete
  3. Aaaakkk kaka itu poto yang "sejauh mata memandang dimana"? Pergangsingan kah? Lucius kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu diambil dari Bukit Selong, Kak.. Pergasingan ada di seberangnya, yang kelihatan di foto.. (ada di dalam ceritanya juga kok Kak) :D

      Delete
  4. Foto terakhir bikin aku merinding Kak Vir. Rinjaniii.. Duh, aku suka melow kalo liat gunung, apalagi kalau rekening yang menggunung, makin terharu pasti.

    Aku mau liat pideonya, mau liat kakak-kakak artis!

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah kalo yang rekening yang menggunung aku juga terharu Kak, saking terharunya pasti aku pergi belanja ke mall!
      nanti kalo udah ada videonya aku share yaaa :D

      Delete
  5. Walau nggak bisa menikmati sisi explorenya, tapi objek-objek wisatanya keren banget.
    Ntar videonya share ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, bersyukur bisa ke sana :D

      Delete
  6. Kalian cakep-cakep amat siiiikkkk... Hahahaha...

    Sumpah gw penasaran pengen lihat banyaknya baju yang kalian bawa. Secara gw jalan sama BuNyu 6 hari aja, bawaan desye ringkes abis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaah.. bayangin: 1 koper (kabin) + 1 ransel 36 liter. Si BuNyu lebih kurang segitu jugalah. Benar-benar di luar kebiasaan..alias luar biasa :))

      Delete
    2. oh, tapi, udah banyak gitu, nggak semua baju kepake juga sih.. banyak yang dibawa buat "jaga-jaga" aja :))

      Delete