Feb 8, 2017

Tato Sak Yant yang Dibuat Manual di Wat Bang Phra

Wat Bang Phra, gedung kuil utama. Foto dari Mumun.


Sebuah minibus membawa saya, Mumun, dan beberapa penumpang lain dari Victory Monument ke Nakhon Chai Si, area sekitar 50 menit perjalanan di luar kota Bangkok. Turun di pinggir jalan besar, saya dan Mumun naik jembatan penyeberangan jalan untuk naik taksi di seberang. Taksi berargometer itu membawa kami kira-kira setengah jam ke jalan kecil dan berhenti di tujuan, Wat Bang Phra.

Wat Bang Phra adalah kompleks kuil umat Budha yang sudah berdiri selama berabad-abad, tak jelas kapan awalnya. Halamannya luas, banyak mobil parkir termasuk taksi yang menunggu kami hingga selesai nanti. Layaknya kuil-kuil besar di Bangkok, Wat Bang Phra juga didatangi turis-turis (selain kami), tapi jauh lebih sepi dibandingkan kuil-kuil di Bangkok.

Kami masuk ke kuil utama, dengan alas kaki yang harus ditinggalkan di depan pintu masuk. Eksterior bangunan ini cukup pelik dengan detail ukiran khas Thailand, sedangkan di dalam terasa lebih modern walaupun banyak ornamen dan patung-patung ke-Budha-an. Yang paling menarik sekaligus agak bikin saya bergidik adalah mumi seorang biksu legendaris yang ditidurkan di depan altar. Saya tidak memotret banyak di dalam kuil karena takut mengganggu kekhusyukan orang-orang yang sedang sembahyang.


Selain keberadaan mumi, bagi saya kuil ini tidak lebih istimewa dibandingkan kuil-kuil yang pernah saya lihat di Bangkok. Namun tujuan utama kami ke sana memang bukan kuilnya, tapi untuk melihat proses pembuatan tato secara manual. Gara-gara majalah Boat yang dipinjamkan teman saya Maesy, saya jadi penasaran ingin melihat proses ini langsung.

Kami menyaksikan pembuatan tato yang paling bawah itu oleh biksu. Foto dari Mumun.

Pembuatan tato dilakukan di gedung lain, di teras kuil yang lebih kecil. Di luar pintu masuk, ada meja tempat beberapa set bunga, dupa, dan rokok dijual. Itu adalah persembahan bagi para biksu penato, yang dibelikan oleh orang-orang yang ingin ditato. Bunga dan dupa nantinya digunakan untuk keperluan kuil, begitu juga uang pembeliannya, sedangkan rokok dikonsumsi oleh para biksu, bahkan saat mereka menato.

Kebersihan dan kesehatan tato yang disebut Sak Yant ini masih dipertanyakan dari segi medis. Peralatannya adalah batang besi sepanjang kira-kira 50 cm dengan ujung lancip seperti jarum bermata dua, yang disimpan di wadah berisi cairan pembersih bersama beberapa batang lain. Dalam penggunaannya, besi dicelupkan ke “tinta” tiap sekitar 30 detik.

Para penganut Budha di Thailand (serta Vietnam, Kamboja, dan Myanmar) percaya bahwa tato ini bisa melindungi pemiliknya dari keburukan dan kesulitan karena diberkati oleh sang biksu pembuatnya. Desainnya pun tak sembarangan, biasanya berupa simbol-simbol keramat seperti jenis hewan, dewa-dewi, atau bentuk geometris, yang disertai kalimat doa.

Kini sudah banyak non-penganut Budha yang membuat tato Sak Yant, termasuk Angelina Jolie. Menurut saya, yang tidak tertarik untuk bertato, desain Sak Yant memang keren dan terlihat keramat. Namun perlu diingat bahwa pemilihan letak tato Sak Yant atau tato dengan simbol-simbol religius lainnya janganlah sembarangan. Bagian tubuh makin ke bawah, makin dianggap tidak suci. Tato simbol religius yang dibuat di kaki bisa menyinggung perasaan penganut Budha.

Pembuatan tato di Wat Bang Phra dilarang difoto. Jadi saya cuma memerhatikan sambil mengabadikannya dalam sketsa.

Corat-coret sembari melihat pembuatan tato.

*Ini adalah tulisan dalam rangka 28 Days Blogging Challenge. Temanya "rumah ibadah". Kalau kamu, ada cerita menarik tentang rumah ibadah nggak?



4 comments:

  1. Selalu suka dengan corat coretmu mba. Yang ini awalnya sempet ga percaya. setelah lihat ada tanda tangannya, makin terkagum2 dengan sket coretanmu.

    Wah, menarik sekali ya. Andai bisa mengulas dan mendapati informasi tentang Mumi biksu itu Mba.
    Jadi, itu biksunya dibayar (eh bahasa bagusnya gimana ya), diganti dengan dupa, rokok, untuk kepentingan kuil ya. Tato ternyata banyak maknanya ya. Termasuk bagian tubuh mana yang layak di tato (dalam agama Buddha). Menarik sekali. Saya ga kebayang sakitnya. Tato yang modern saja, pasti sakit. Bagaimana dengan yang ini? hehe

    Btw, salam kenal Nggih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Hanif.. tapi yang ini kenapa awalnya nggak percaya? LOL..

      Iya, dupa dan bunga sih katanya untuk keperluan kuil, tapi kalo rokok kayaknya buat biksunya ngerokok deh.. bener-bener "uang rokok" ya ini namanya :))

      Dalam kebudayaan-kebudayaan lain juga kayaknya tato ada makna-makna khususnya deh.
      Haha iya, nggak kebayang sakitnya, makanya saya mah liatin aja :P

      Salam kenal juga :)

      Delete
  2. Baca ini gw jadi inget Bodhi di bukunya Dee Lestari, yang sampai keliling delta sungai Mekong untuk belajar nato dan "nemuin takdirnya".

    Gw beberapa tahun terakhir ini lagi berpikir untuk bikin tato, tapi lihat caranya di sini, gw pengen bikin di tempat yang steril aja deh. #cemen

    ReplyDelete
    Replies
    1. o gitu..? gue nggak baca bukunya euy..
      haha.. tato emang sebaiknya dibuat dengan cara yang terjamin kebersihannya ya.. nggak cemen koookk!

      Delete