May 23, 2017

Hobi Main di Pantai Tanpa Takut Kulit Rusak

Berjemur di pantai, siapa takut?


Beberapa minggu lalu saya baru saja pulang dari Sumba. Seminggu di sana, main ke berbagai pantai, mengingatkan lagi betapa sukanya saya berenang dan leyeh-leyeh di pantai. Nggak peduli kulit akan menggelap dan ada tankini line di badan, yang penting cibang-cibung dan terayun-ayun ombak kecil. Sebelum itu, sudah 4 bulan saya nggak menyentuh air laut. Pantas saja kangen betul. Jadi ingat masa-masa dulu hampir setiap bulan saya main ke laut.

Mumpung lagi membahas pantai, saya mau sekalian bernostalgia tentang pantai-pantai favorit saya. Berikut ini 5 diantaranya, tanpa urutan tertentu.

5 pantai favorit saya di Indonesia:

      Pantai Mandorak, Sumba

Waktu mobil diparkir di pinggir tebing, saya hanya melihat tebing karang dan air laut yang berbatas horizon. Biasa saja, batin saya. Tapi begitu jalan lebih jauh, barulah saya melihat pantai putih bersih, bersembunyi di teluk karang dengan warna air yang meneduhkan mata. Waktu yang sempit diberikan oleh trip organizer, hanya cukup untuk berfoto-foto, otomatis langsung saya dan teman-teman langgar demi berenang di air gradasi hijau, toska, ke biru ini. Hati dan mata sama-sama senang!

Main air dengan teman-teman dan anak-anak lokal di Mandorak.


      Pantai Karina, Kepulauan Togean

Perjalanan ini sudah cukup lama, tapi masih begitu membekas. Semua lokasi di Kep. Togean yang saya datangi waktu itu menakjubkan, tapi Pantai Karina adalah salah satu yang paling berkesan. Pantainya tak luas, tapi sangat sepi. Saya dan teman-teman serasa punya pantai pribadi. Kami tak cuma berenang dan snorkeling, tapi juga sempat hampir tertidur saat berjemur di pantainya yang berbutir pasir halus. Hanya waktu yang sudah semakin sore yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan di Pulau Kadidiri.

Ck, ck, ck.. Kelakukan jaman dulu kalo main air.. 


      Cemara Kecil, Kepulauan Karimun Jawa

Perjalanan ke Karimun Jawa di tahun 2008 adalah awal dari rangkaian trip pantai saya berikutnya (di luar liburan sama orang tua waktu masa kecil, tentunya). Di situ saya baru melihat ada pantai yang seputih dan semulus bedak bayi. Walaupun berenang di situ hanya sebentar karena saya keburu lapar, tetap kulit terpapar sinar matahari banyak sekali karena saya dan teman-teman menghabiskan waktu banyak untuk berfoto-foto di pantai setelah makan siang usai. Jadi ‘hitam’? Ah, siapa takut! Nggak puas main laut, itu yang saya lebih takut.

Pantai Cemara Kecil, waktu Karimunjawa belum ramai.



      Sara Besar, Kepulauan Talaud

Akibat penasaran, ‘terdamparlah’ saya di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Dari warga lokal saya mengetahui tentang Pulau Sara Besar, pulau kecil yang menjadi tujuan liburan penduduk Talaud. Saat tiba di Sara Besar, menyeberang dengan speedboat kecil sekitar 15 menit saja, yang ingin saya lakukan selain berenang adalah berlari-lari sesuka hati di pantainya yang seputih pualam! Panasnya jangan ditanya. Rasanya mungkin ada 13 matahari bergantung di langit kala itu.

Pantai yang mendekati batas terluar utara Indonesia.



      Sekotong, Lombok

Sekotong ini ramai nggak, sepi banget juga nggak. Pantainya biasa saja, tapi banyak gili dan pantai lain di sekitar sana yang lebih cantik, seperti yang pernah saya tuliskan di sini. Suasana dan jadwal kegiatan yang santai kala itu yang membuat trip ke Sekotong ini semakin berkesan. Cuaca panas silih berganti dengan hujan, tapi ketika panas, nggak tanggung-tanggung. Nggak sampai seminggu di sana, saya pulang dengan tankini lines yang semakin nyata, dan senyum yang semakin lebar.

Pagi hari yang cerah di Sekotong.



Nah, dulu, ibu saya selalu geleng-geleng kepala tiap saya pulang ke Jakarta dengan kulit yang lebih gelap dan lebih gelap lagi. Saya nggak ngerti sih kenapa kulit gelap sering diasosiasikan dengan imej jelek (dalam hal kecantikan) di Indonesia, tapi memang paparan terhadap sinar matahari yang terlalu banyak ada bahayanya bagi kesehatan kulit. Selain itu, kulit yang sering terbakar sinar matahari juga menjadi kering dan kusam, dan itu berarti nggak sehat, juga kadang-kadang rasanya gatal.

Sekarang sih ibu saya sudah nggak perlu geleng-geleng kepala lagi, soalnya udah ada produk keren dari Purbasari. Eh, apa hubungannya? Begini..

Sekarang sudah ada yang namanya Purbasari Lulur Mandi Green Tea. Lulur ini cocok untuk orang yang sering beraktivitas di luar karena mengandung vitamin E yang bermanfaat bagi kulit; bisa menjadi perlindungan sepanjang hari, yaitu dengan melembabkan kulit dan membantu regenerasi sel kulit. Lulur ini juga menerapkan teknologi scrub bulat sempurna, jadi nggak menyebabkan iritasi jika dipakai setiap hari. Yap, Purbasari Lulur Mandi Green Tea baik digunakan setiap hari, dan bisa menggantikan fungsi sabun untuk membersihkan kulit. Asyik ya, kalau traveling packing-nya bisa 2-in-1!

Kemasan terkecil lulur Purbasari ikut dalam packing untuk liburan.


Lalu, kenapa Purbasari menggunakan green tea untuk produk lulurnya? Nggak heran sih, soalnya teh hijau itu kaya anti oksidan, yang melindungi dari efek buruk sinar matahari. Cocok banget, kan, buat kita yang senang main di pantai? Selain itu, lulur mandi tanpa amylum ini baik karena amylum adalah kandungan tepung yang sering ada di lulur mandi, yang memberi efek ilusi seperti daki. Duh, nggak mau kan, tertipu lulur sendiri? Manfaat lainnya, Purbasari Lulur Mandi Green Tea mencegah penuaan dini sekaligus mencerahkan karena diperkaya whitening extract.

Contoh cara aplikasi lulur Purbasari. Bisa sekalian menggantikan sabun, lho!


Sekarang, saya pun memakai #Purbasari_GreenTea. Apalagi karena produknya mudah didapat dan nggak mahal. Hanya Rp10.000 untuk volume 125gr, dan Rp13.000 untuk 235gr. Beli online pun banyak, bahkan ada yang dalam paket, misalnya di Blibli, Qoo10, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Elevenia, dan Lazada. Kalau mau sekalian belanja bulanan, tenang aja, soalnya di supermarket-supermarket juga sudah ada, kok. Dan untuk informasi yang lebih lengkap lagi tentang produknya, silakan kunjungi langsung website resmi Purbasari.

Kayak gini nih, kemasan terkecil Purbasari Lulur Mandi Green Tea.
Walaupun sering main ke pantai, nggak mesti kusam saat hadir di acara-acara manis di Jakarta.



Baiklah. Sekarang, mari lanjut merencanakan liburan-liburan ke pantai selanjutnya. Ada yang punya ide ke mana? Pokoknya bebaskan aksimu dan maksimalkan cantikmu dengan Purbasari Lulur Mandi Green Tea, ya, agar kulit nggak kusam, tetap lembap, dan terlindungi dari efek buruk sinar matahari serta radikal bebas.

Bersantai di bawah terik matahari? Bring it on!


2 comments:

  1. Foto kegiatan pantainya bagus-bagus. Memang pantai di Indonesia nggak ada matinya. Apalagi yg di daerah2...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap, betul banget.. Makin jarang terjamah manusia biasanya makin bagus pantainya..

      Delete