Jul 9, 2017

Bermain di Chiang Rai, Kota Paling Utara Thailand

Pas buka folder lama, baru sadar perjalanan ini belum pernah diceritakan di blog.
Some things have changed, but the memory remains. 


“Yeay! Kita ke Chiang Mai! Mau ke White Temple!” saya dan Mumun bersorak gembira.
“White Temple? Itu, kan, adanya di Chiang Rai,” sanggah Abud, teman kami waktu itu.
“Hah? Di Chiang Mai!” saya ngotot.
“Di Chiang Rai! Coba cek, deh!”
Lalu saya mencarinya di Google, dan Mumun ikut mengintip.

Oh.

“Oke! Kalau begitu kita ke Chiang Rai!” saya dan Mumun kembali bersorak gembira.

Jadi, begitulah awalnya kenapa kami, beserta Vindhya dan Uci, ke Chiang Rai, dalam rangkaian perjalanan Laos-Thailand di bulan April, 2012. Saya sendiri tak punya harapan tertentu tentang kota yang hanya satu jam perjalanan dari Chiang Mai ini. Kebanyakan informasi tentang Chiang Rai justru kami dapatkan dari pemilik guesthouse, setelah kami check-in. Dia juga yang mencarikan mobil serta supirnya untuk mengantarkan kami ke tempat-tempat wisata di Provinsi Chiang Rai, yang masih di sekitar kota Chiang Rai. Ternyata, White Temple bukan satu-satunya hal menarik di provinsi paling utara Thailand ini. Masih ada pasar malam, Black House, The Golden Triangle, dan Museum of Opium.

***

White Temple alias Wat Rong Khun bukan tempat ibadah biasa. Kuil ini dirancang seorang seniman bernama Chalermchai Kositpipat, sebagai dedikasinya terhadap sang Budha. Dibuka untuk umum sejak tahun 1997, White Temple diperkirakan akan selesai dibangun pada tahun 2070. Tampilannya luar biasa mendetail, dengan berbagai bentuk relief dan patung.

Bangunan utama dari kompleks White Temple adalah kuil berwarna putih yang di depannya ada gapura menyerupai sepasang gading raksasa. Untuk menuju kuil, pengunjung harus melewati jembatan, yang di bawahnya adalah lautan patung tangan manusia. Agak ngeri melihatnya, apalagi ada tengkorak-tengkorak. Ternyata ini adalah ekspresi Kositpipat tentang keserakahan manusia. Sedangkan interior kuil, menurut saya, tidak secantik eksteriornya. Dinding besar penuh dengan lukisan berwarna kemerahan yang menggambarkan kehancuran dunia dan wajah-wajah setan. Anehnya, ada ikon-ikon pop juga di situ, seperti Doraemon, Michael Jackson, Harry Potter, dan Hello Kitty.

Bangunan lainnya adalah toilet emas, tapi cuma luar gedungnya saja yang berwarna emas. Saya sendiri tidak masuk ke toiletnya karena waktu itu antrean panjang sekali. Ya, White Temple memang salah satu tempat wisata paling ramai di Chiang Rai.

*Baca juga: membuat tato tradisional Sak Yant di kuil Wat Bang Phra.

Istana-istana di dongeng Disney pun kalah cantik dari White Temple.
Jembatan yang menyimbolkan jalan menuju kebahagiaan dengan melewati nafsu duniawi.

Tangan-tangan yang menggapai keinginan duniawi.


Setelah White Temple, kami dibawa ke karya seni yang tak kalah ekstravaganza, yaitu The Black House alias Baan Dam. Senimannya adalah Thawan Duchanee, yang konon adalah murid dari Kositpipat. Kompleks Black House terdiri dari beberapa ‘rumah’ dengan berbagai ukuran dan bentuk yang tidak lazim, dengan bahan kayu dan metal yang mendominasi, dan sebagian besar berwarna hitam. Model dan ukuran perabotnya pun banyak yang tak lazim, dan sebagian mengingatkan pada markas-markas penjahat di film-film.

Jika White Temple menggambarkan perjalanan manusia menuju kebaikan, Black House justru menggambarkan neraka di mata sang seniman.

Kebaikan berwarna putih, keburukan berwarna hitam. Asosiasi warna yang sangat ketara ini rupanya ada di mana-mana.


Salah satu rumah hitam di kompleks Black House.
Meja panjang dan kursi bergaya tanduk. Quite intimidating, no?

Rumah lainnya. Cute, quirky, and mysterious at the same time.


Keesokan harinya, kami dibawa ke kota paling utara Thailand, yaitu Mae Sai, yang sekaligus merupakan perbatasan dengan Myanmar. Jika tidak hendak menyeberangi perbatasan, orang tidak diperkenankan melewai jembatan yang menghubungkan dua negara ini. Kabarnya, wisatawan suka iseng ke Tachileik, kota perbatasan di bagian Myanmar, cuma untuk belanja di pasar, lalu kembali lagi ke Thailand dalam beberapa jam. Namun kami tak melakukannya karena tak mau repot mengurus visa dan agak takut dengan cerita bahwa di sisi sana kurang aman pada waktu itu.


Jembatan menuju Myanmar.

Mae Sai, kota paling utara di Thailand.


Sekitar 25 km ke arah tenggara dari perbatasan, sampailah kami di The Golden Triangle, titik pertemuan antara Thailand, Myanmar, dan Laos.

Dulu kala The Golden Triangle ini merupakan tempat penghasil opium paling besar di dunia, dan sekarang sudah tergeser oleh Afghanistan. Tak heran, di dekat sana terdapat museum khusus tentang opium. Naskah sejarah tentang perdagangan opium, contoh jenis-jenis tanaman opium, hingga peralatan untuk menggunakan opium, dipajang di museum tersebut.

*Baca juga: cerita-cerita perjalanan saya di Laos

Tempat Myanmar, Thailand, dan Laos bertemu.
Contoh penggunaan opium, untuk menekan rasa sakit, zaman dulu.

Ladang opium. Cantik!


Kami menghabiskan dua malam di Chiang Rai. Di kedua malam kami berjalan-jalan dan cari makan di pusat kota. Mobil motor berseliweran, tapi saya tidak melihat kemacetan sama sekali. Kafe-kafe trendi berjajar di pinggir jalan raya, dipenuhi anak-anak muda yang juga terlihat trendi. Kami sempat makan malam di salah satu kafe dengan hidangan makanan barat, waktu itu dalam rangka merayakan ulang tahun Uci.

Masih di pusat kota, ada pasar malam yang menawarkan banyak sekali makanan dan pernak-pernik. Beberapa jenis makanan yang kami coba rasanya enak semua, tapi saya sudah lupa apa saja. Sedangkan pernak-perniknya banyak yang mirip dengan yang kami lihat di pasar malam Luang Prabang dan Vientiane, Laos. Mungkin karena bertetangga dekat, kerajinan mereka pun mirip satu sama lain. Oh, tapi bukan hanya kerajinan tradisional. Barang-barang modern seperti kaus parodi pun ada yang sama. Kalau mau mencari oleh-oleh, pasar malam ini adalah tempatnya.

Uci yang bubbly kami berikan kado topi stroberi. Cocok, kan?

Pasar malam, penuh dengan suvenir dan barang keperluan sehari-hari.

Niat beli oleh-oleh, bisa jadi belanja banyak untuk diri sendiri!



Chiang Rai memang tidak sepopular Bangkok atau Phuket. Tapi dari pengalaman saya, 3 hari di sana tanpa banyak rencana dari awal sudah cukup membuat sibuk ke sana kemari karena ternyata banyak tempat yang menarik. Kalau lebih banyak waktu di sana, tentu masih banyak yang bisa dieksplorasi di Chiang Rai. 

*Baca juga: cerita seru tentang Festival Songkran di Chiang Rai dan Bangkok


More photos from our Chiang Rai trip:

Di teras belakang suatu kuil. 
Kuil dengan bentuk yang khas Thailand. 
White Temple, detailnya dari dekat.
Warna putih mencerminkan sifat Budha.
Berbagai patung berdasarkan mitologi ajaran Budha menghiasi kompleks White Temple.
Sebagian terlihat seperti fairy tale, sebagian mengerikan. Menurut kamu, kalau yang ini, bagaimana?


Pintu masuk White Temple.
Mengingatkan pada topi Petruk. 

Pintunya tinggi sekali! Keren, sih. 
Karya seni yang boleh diduduki.

Tempat berfoto sejuta turis.

Uci dengan penduduk lokal di area Golden Triangle.

Ayam si pengusaha suvenir.

Begitu kami datang, ibu ini langsung mengenakan pakaian tradisional. Berfoto dengannya dikenai tarif.
Yang di kanan adalah bapak yang menyupiri kami ke sana kemari.




8 comments:

  1. Yawla kak, aku jadi inget folderku yang sudah berendap berapa tahun lamanya. Ga jadi2 ditulis. Chiang Rai asik banget tempatnya, panas2 adem dengan semilir angin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo tuliiisss.. hahaa.. sekalian nostalgia, asyik, euy!

      Delete
  2. nah lho, tuh kan jadi pengen extend nanti di Thailand, hm mikir-mikir lagi..

    ah ah vira dulu centil dan ciwi sekaliiii. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo gua jadi elo sih, udah pasti extend :P

      itu pas ke white temple emang berempat janjian pake baju 'cantik' dan ada nuansa putihnya, biar rada sesuai sama kuilnya. tapi secantik-cantiknya kami pas traveling ya segitu doang :))

      Delete
  3. belum pernah ke utara Thailamd kak Vira, cantik ya kuil putihnya. semoga kapan2 bisa datang ke sini. Musti menyiapkan outfit yang warnanya kontras kalo nanti ke white temple ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, cantik banget.
      Outfit kalo menurutku bisa kontras atau justru senada sekalian, hehe..

      Delete
  4. Kak Viraaa, tempat ini cakep banget laahh. aku belum pernah ke Chiang Rai, jadi pengen ke sanaa..
    Oke, berarti sedia konsum cantik ala-ala itu penting yah. Eh, khas banget Thailandnya ya.. panaass gitu kelihatan fotonyaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak Indri, panas beuut.. untungnya kami waktu itu ke mana-mana diantar mobil ber-AC..hihi..
      Yap, Chiang Rai dan seputarnya menarik, kokk.. ke sana giiihh..

      Delete