Dec 2, 2017

Ipoh, Masa Lalu yang Kekinian




Dalam menentukan destinasi liburan, hobi menggambar saya cukup berperan dalam beberapa tahun belakangan ini. Kota lama atau kota yang memiliki gedung-gedung tua kerap menarik minat saya karena kegemaran saya menggambar objek-objek seperti itu. Ipoh, sebuah kota di Malaysia, adalah salah satunya. Setelah hampir dua tahun tersalip berbagai destinasi lain, akhirnya kesampaian juga keinginan saya, bersama Diyan, untuk jalan-jalan di Ipoh pertengahan bulan lalu.

Dari hasil browsing dan rekomendasi beberapa teman, banyak yang menarik untuk dieksplor di Ipoh. Namun seperti biasa, ada saja alasan yang membuat waktu kami tak cukup untuk mendatangi semua hal menarik dalam suatu trip. Kali ini alasannya hujan tiap sore dan waktu yang terbagi dengan Kuala Lumpur.




Jadi, berikut ini tempat-tempat yang berhasil kami datangi selama 2 hari 1 malam di kota yang pernah jaya berkat pertambangan timah ini.


IPOH RAILWAY STATION bagi saya bukan sekadar stasiun yang menjadi perhentian kereta kami dari Kuala Lumpur. Stasiun kereta yang mulai beroperasi pada tahun 1917 ini merupakan salah satu tujuan utama kami di Ipoh, tak lain karena saya ingin menggambarnya. Setelah 2,5 jam perjalanan naik kereta kelas Platinum yang AC-nya dinginnya minta ampun, kami disambut tengah hari Ipoh yang panas terik. Seolah-olah menantang matahari, saya segera duduk di taman depan stasiun karena hanya di sana saya bisa melihat gedung stasiun tampak depan secara utuh dengan distorsi paling minimal.

Sepanjang menggambar saya mengagumi gedung stasiun berarsitektur Indo-Saracenic itu. Sekilas ia terlihat megah karena ukurannya, elegan karena warna putih dan detailnya. Dalam proses mengabadikannya ke buku sketsa, saya jadi lebih memerhatikan lekukan-lekukan, lengkungan, dan kesimetrisan gedung yang awalnya dibangun untuk dijadikan rumah sakit itu. Saya salut dengan betapa perancangnya sangat mementingkan estetika.

Sementara saya menggambar, Diyan berjalan-jalan dan mengabadikan suasana di sekitar stasiun. Gedung DEWAN BANDARAN IPOH atau balaikota berdiri megah di seberang stasiun. Gedung yang berdiri sejak tahun 1916 ini diarsitekturi oleh A B Hubback, yang juga merancang Ipoh Railway Station.







KONG HENG SQUARE menjadi salah satu magnet turis di Ipoh. Satu blok di tengah Old Town ini terlihat jelas merupakan area gentrifikasi. Bangunannya tua dengan cat yang mengelupas di sana-sini dan dirambati akar-akar pohon tua. Sebuah kafe trendi yang mengingatkan saya pada Monologue di Plaza Senayan menempati salah satu sudutnya - Plan B namanya. Beberapa kios dan toko kerajinan tangan menempati sudut lainnya. Tak ketinggalan, panel kawat tempat menggantungkan gembok-gembok cinta yang sangat klise juga ada di salah satu temboknya.

Saya tidak sempat menggambar sudut Kong Heng Square, tapi kami sempat duduk di kafe BURPS & GIGGLES yang bergaya vintage sambil saya mewarnai gambar lain di sana. Satu-satunya yang membedakan kafe ini dengan kafe-kafe Jakarta pada umumnya adalah obrolan para pengunjung dalam bahasa Melayu bercampur bahasa Inggris. Di saat ramai pengunjung, berisiknya sama, gaya berpakaian para pengunjungnya juga mirip dengan anak-anak trendi Jakarta. Saya betah kalau mesti berlama-lama di sana. Mungkin karena suasananya yang familier.

Di belakang Burps & Giggles ada MUSEUM YASMIN AHMAD, seorang almarhum sutradara terkemuka di Malaysia. Saya baru pernah menonton satu film karyanya, yang saya pun lupa judulnya, tapi saya penasaran juga untuk berkunjung ke museumnya. Sayangnya waktu kami tidak pas, dan ia tutup sangat cepat, jam 4 sore (terakhir masuk jam 3 sore).




Burps & Giggles








CONCUBINE LANE atau Panglima Lane bisa dikunjungi jam berapa saja. Gang ini dulunya merupakan tempat tinggal perempuan-perempuan simpanan para petinggi Cina dan Inggris. Konon, rumah mereka itu dijadikan tempat untuk menyamarkan kebiasaan para lelaki ini menghisap opium dan berjudi, dua kebiasaan yang dianggap buruk, sehingga perlu disamarkan dengan kunjungan ke para simpanan yang dianggap kegiatan lebih berkelas. 

Kami mengunjungi Concubine Lane di hari Jumat dan Sabtu. Berbeda sekali keramaiannya di weekday dan weekend! Bisa tebak dong, ya, kapan lebih ramainya. Di hari Sabtu agak sulit bagi kami untuk berjalan tanpa menjadi photobomb untuk orang lain, dan sebaliknya. Sedangkan yang bisa ditemukan di gang pejalan kaki ini ada macam-macam, mulai dari kios kelapa muda hingga toko suvenir. Akhirnya saya kepincut dua buah magnet yang bergambar sketsa tangan seorang sketch artist yang menjual langsung karyanya, yang kemudian saya ajak ngobrol sebentar tentang hobi kami yang serupa itu.

Kami sempat mencicipi cheong fun di Panglima 25, restoran yang menyatakan masakannya tidak menggunakan daging ataupun minyak babi. Rasanya enak (tapi saya tidak ingat detailnya seperti apa), porsinya besar sekali, sehingga harus saya bungkus setengah untuk dihabiskan esok harinya.



Interior Panglima 25 Cafe





MURAL-MURAL di dinding kota Ipoh adalah temuan paling banyak saat kami mencari informasi tentang kota ini di Google. Saking seringnya melihat, kami berniat untuk TIDAK sengaja mencari mural apalagi menjadikannya latar berfoto. Namun mural-mural ini memang tak terhindarkan.

Ketika kami iseng jalan kaki menyusuri kota secara acak, ada beberapa mural yang kami temukan, dan beberapa di antaranya sangat populer. Sayapun tak kuasa menahan godaan untuk berfoto dengan beberapa mural, salah satunya yang berada di Second Concubine Lane. Sepertinya itu karena adegan-adegan mural di sana sangat terasa hidup, gambarnya seperti asli, sehingga kamipun terundang untuk berinteraksi dengan tokoh-tokohnya.




Salah satu mural karya Ernest Zacharevic, berada di dinding bangunan Old Town White Coffee.

Juga karya Ernest. 
Sesekali mural cukup jadi latar, tak harus diajak berinteraksi.


KELLIE'S CASTLE berada di luar kota Ipoh, tepatnya di Gopeng. Hanya dengan dua kali naik bus dari terminal bus Ipoh kami sampai di reruntuhan istana ini dalam waktu sekitar satu jam. Istana ini bukan milik raja, melainkan seorang hartawan dan tuan tanah asal Skotlandia, William Kellie Smith. Waktu itu Smith beserta istri dan anak perempuannya sudah tinggal di sebuah rumah besar yang dinamakan Kellas House. Lalu, konon, sebagai wujud syukuran atas kelahiran anak lelakinya, ia membangun istana di depan rumahnya, berbatasan dengan Sungai Raya.

Seperti halnya Ipoh Railway Station, arsitektur Kellie's Castle juga bergaya Indo-Saracenic, bercampur dengan Moorish Revival. Istana ini belum selesai dibangun ketika Smith wafat akibat menderita pneumonia di Portugal pada tahun 1926. Dalam perjalanan itu Smith hendak membeli lift untuk istananya, yang kalau sampai tercapai maka akan menjadi lift pertama di Malaya (kini Malaysia). Kematiannya membuat sang istri memutuskan untuk membawa dua anak mereka kembali ke Inggris.

Mulai dari fakta teknis hingga kisah dramatis nasib Kellie's Castle membuat saya tak henti-hentinya berseru, "Wah!" Bagi saya, tak ada yang biasa-biasa saja tentang istana ini. 

Kami berkunjung ke Kellie’s Castle di hari Sabtu pagi. Berbondong-bondong turis ke sana, sebagian dalam grup besar yang datang naik bus wisata. Untung saja kami tiba di sana paling pagi sehingga lebih leluasa menikmati keindahan reruntuhan dan berfoto tanpa harus ada photobomb. Namun, kami tak bisa berlama-lama di sana karena masih ada gua yang menjadi tujuan selanjutnya.

Kellie's Castle di pagi hari, memunggungi matahari.

Konon, pernah ada penampakan roh William Kellie Smith di istana yang tak sempat dirampungkannya ini.

Kellie's Castle cocok juga dinamakan Lawang Sewu karena banyaknya pintu di sana.


Kellas House, rumah keluarga Smith.




GUA TEMPURUNG juga berlokasi di Gopeng. Gua batu kapur ini diperkirakan sudah terbentuk sejak tahun 8000 SM. Kini, terdapat beberapa paket wisata di dalam gua yang panjangnya 3 km ini, yang dibagi berdasarkan panjang rute dan level kesulitan medannya. Kami memilih paket yang paling dasar dengan rute paling pendek, yaitu berjalan hingga pos ketiga dan kembali keluar lewat rute yang sama.

Interior gua sudah dilengkapi dengan jembatan papan dan tangga yang alurnya sesuai rute untuk wisatawan. Sudut-sudut tertentu dipasangi lampu sebagai penerang sehingga pengunjung tak perlu lagi membawa senter, dengan warna lampu yang masih mendekati alami (berbeda dengan Amazing Cave yang pernah saya kunjungi di Halong Bay, yang lebih meriah).

Karena kami hanya berdua, kami tak bisa menyewa jasa pemandu yang disediakan untuk grup dengan anggota minimal 8 orang. Saat ada grup yang dikawal pemandu berjalan di dekat kami, kami mencuri dengar penjelasannya. "Lihat itu, bentuk wanita berjongkok. Itu rambutnya yang panjang, dan itu badannya," ucap si pemandu sambil menyenter sebuah spot di stalagmit gua. Beberapa penjelasannya terdengar tidak ilmiah sama sekali dan seperti dibuat-buat untuk menghibur pengunjung. Kami tidak menyesal tidak dipandu.




Paket rute yang lebih panjang akan menyelesaikan tur gua di sungai.




Jika saya punya kesempatan lagi untuk ke Ipoh, masih banyak hal yang ingin saya lakukan. Beberapa di antaranya: mencicipi menu ayam tauge yang direkomendasikan beberapa teman, ke museum Yasmin Ahmad, menggambar lebih banyak gedung dan suasana kota, mencicipi white coffee di kedai kopi tertua Ipoh ‘Sun Yuan Foong’ (yang tutup jam 17.30) walaupun saya bukan penikmat kopi, dan menghabiskan lebih lama waktu untuk duduk dan memerhatikan orang lalu-lalang saja. Kota yang sudah panjang sejarahnya ini sepertinya layak dinikmati dalam waktu yang panjang pula, lebih dari sekadar 2 hari 1 malam.

Kapan-kapan lagi, ya, Ipoh!










Mural di kota Gopeng, kami temukan saat menunggu ganti bus menuju ke Kellie's Castle.




Tangga menuju jalan keluar rahasia.

Lubang lift yang sudah disiapkan. Masih hampa hingga kini.













18 comments:

  1. Karena aku nggak bisa gambar atau sketsa, kalo ke sini mungkin ya cuma foto foto aja. Tempatnya keren keren. Muralnya juga kreatif-kreatif.

    Dan ternyata, mangkok cap ayam jago itu ada di Malaysia juga ya. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau foto-foto aja pun kayaknya bakal gak abis-abis deh, banyak banget yang menarik di sana (menurut saya).
      Iyaaa, ada mangkok ayam juga, tapi gambarnya agak beda :D

      Delete
  2. Minggu kemarin sempat ngobrol-ngobrol sama teman yang pernah kerja di KL dan sama-sama penyuka bangunan lawas. Dia cerita betapa dia sangat suka Ipoh karena selain banyak bangunan lama juga jauh lebih tenang dibandingkan Penang atau Malaka. Mungkin dia pergi ke sana pas weekday ya. Postingan ini bener-bener bikin saya jadi mempertimbangkan untuk ke Ipoh ketika lain kali ada kesempatan ke Malaysia (tadinya lebih kepengen ke Sabah atau Sarawak).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bama, Ipoh lebih tenang daripada Penang atau Malaka, bahkan di akhir pekan pun. Mungkin karena lebih kecil dan lebih sepi manusianya.
      Ayo ayo ke Ipoh, pengen tahu juga nanti cerita kamu kayak apa di sana.

      Eh kalau Sabah atau Sarawak, apa yang bikin kamu pengen ke sana?

      Delete
    2. Kalau Sabah karena banyak daerah konservasi untuk berbagai hewan: orang utan, gajah, beruang madu, dll yang kalau dari berbagai sumber yang saya baca kayaknya dikelola dengan sangat baik. Kalau Sarawak ... karena suka kucing, jadi harus ke Kuching! :) Dan mau makan laksa Sarawak juga sih.

      Delete
    3. yeay! #timkucing! =^.^=

      Delete
  3. Haduh cakep banget Ipoh ini, dua kali ke Penang naik kereta cuma lewat saja di Ipoh, aku suka art dan gedung-gedung tua makanya menikmati sekali pas ke Penang, nggak nyangka masih ada Ipoh juga, ntar kalo ke Malaysia lagi aku masukin Ipoh ke dalam list

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dan banyak artikel yang menyebut Ipoh sebagai "the next Georgetown (Penang)". Entah itu berarti bagus atau nggak, ya..

      Delete
  4. Kak Vira, I adore your handwriting.. and your sketches too (ini mah sebenernya gak usah dibilang ya, hehehe). Thanks for writing this post, now I know where to go next time when visiting Malaysia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Thanks, Gio!
      Iyaaa, aku saranin ke Ipoh kalo ada kesempatan ke Malaysia. Aku pun rasanya ingin balik lagi! :D

      Delete
  5. aih, cakep banget ini Ipoh, kayak perpaduan Kota Tua Jakarta dan Kota Lama Semarang. jadi nambah satu alasan lagi buat pelesir ke Malaysia. :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. betuuul .
      bakal gak abis2nya kamu foto2 di situ..hihihi..

      Delete
  6. Haaa mbak cakep-cakep banget fotonya. Dan aku semakin menyesal gagal ke Ipoh di perjalanan ke Malaysia 2 bulan lalu huhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sayang sekali gagal ke Ipoh. Kota ini memang cakep, senang banget foto-foto di sana..hihi..
      Semoga ada kesempatan untuk ke Ipoh dalam waktu dekat ini yaa..

      Delete
  7. seperti komen-komen yang lain, sepertinya aku akan ke Ipoh. cantek yaa kotanyaaa... mungkin di liburan panjang banget di depan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. silakaaannn
      dan semoga bisa cukup lama di Ipoh, biar puas :D

      Delete
  8. wah wah wah. gw langsung membatin "my kind of place banget ini". Bener Mumum bilang, dia bilang gw pasti suka ke Ipoh

    ReplyDelete
    Replies
    1. betoul! cocok banget sama yang suka foto-foto cakep. makanannya dan budaya kongkonya juga keknya cocok sama lo :D

      Delete