Dec 18, 2017

Orang Bilang Kuala Lumpur Membosankan, Saya Bilang Menyenangkan

Di salah satu stasiun LRT, satu dinding penuh dengan foto kucing dan sketsa cerita kucing sebesar ini!









“Ngapain ke Kuala Lumpur? ‘Kan, nggak ada apa-apa!” ujar beberapa orang teman ketika mengetahui rencana liburan saya dan Diyan.

Selera memang bisa berbeda-beda. Cara pandang terhadap suatu destinasi juga wajar kalau nggak seragam. Walaupun banyak orang bilang Kuala Lumpur itu garing, kesan saya tentang kota ini bagus-bagus saja. Yang pernah saya datangi memang tempat-tempat mainstream, seperti Twin Towers, Bukit Bintang, Dataran Merdeka, dan Petaling Jaya (baca ceritanya di sini). Namun ada alasan kenapa tempat-tempat ini ramai turis. Tak perlu saya jelaskan, karena sudah banyak artikel yang membahasnya. Di samping itu, saya juga suka Kuala Lumpur karena tata kotanya, kebersihannya, dan sistem transportasi umumnya baik, setidaknya jauh lebih baik dibandingkan tempat saya tinggal, Jakarta. Ditambah lagi, gedung-gedung kolonial yang tampak masih sangat terawat, dan udaranya yang terasa cukup bersih.

Dalam trip kali ini, saya mendatangi beberapa tempat yang berbeda. Bukan tempat-tempat yang ada di artikel macam “10 Things to Do in Kuala Lumpur”. Sebagian berdasarkan saran dari Ana, teman yang sempat tinggal di KL selama beberapa tahun.

Muralnya gemes!

Pertokoan di BANGSAR


“Lo mesti ke Snackfood! Pasti lo suka! Nanti gue sekalian titip beliin Frankie, ya! Hihihi…” begitu pesan Ana di Whats App. Wah, kalau dia sudah menyebut Frankie, majalah craft dari Australia favorit kami, saya jadi penasaran apa saja yang ada di toko itu. 

Snackfood terletak di lantai dua deretan ruko di jalan Bangsar Baru. Di lantai bawahnya saya lupa ada toko apa. Benar saja kata Ana, saya sangat suka Snackfood! Pertama, karena mereka memiara 2 ekor kucing, si Blackjack dan Terror. Blackjack lebih ramah, dia suka mengikuti langkah saya dan Diyan kemudian minta dielus, sementara Terror lebih suka menghilang ke bagian belakang toko. Kedua, karena barang-barang hasil kurasi Snackfood cocok dengan selera saya, mulai dari notebook, majalah, mangkok, sampai piyama. Sayang harganya banyak yang kurang cocok. Ketiga, penjaga tokonya, Diane, berdandan se-quirky koleksi barang mereka –  terlihat sejiwa dengan tempatnya bekerja. Ia juga ramah, selalu menjawab pertanyaan saya dengan senyuman di sela-sela pekerjaannya membereskan stok barang.

Satu lagi saran dari Ana, toko Cziplee, yang letaknya sederetan dengan Snackfood. Toko ini berupa mini market berlantai dua dengan koleksi ‘racun manis’ buat para pencinta seni rupa dan kerajinan tangan. Niat saya hanya ingin membeli fountain pen dengan mata pena berukuran kecil. Satu jam di Cziplee, saya malah keluar dengan tentengan fountain pen, sketchbook tipis, notebook cover, pen holder, penghapus pensil, dan wadah cat air. Kalau bukan karena Diyan mengingatkan bahwa kami harus bergegas ke bandara, mungkin saya akan lebih lama berada di situ dan membeli lebih banyak lagi barang.

Selain kedua toko ini, kami juga sempat memasuki beberapa toko peralatan kegiatan outdoor. Di sana juga banyak butik, kafe, restoran, dan spa. Kami juga melewati gang yang dindingnya penuh grafiti. Keseluruhan area ini mengingatkan saya pada Kemang, Jakarta, di awal tahun 2000-an, waktu masih terasa banget kreativitas dan suasana anak muda-nya.

Sayangnya, area Bangsar ini sulit dicapai dengan kendaraan umum. Untuk menuju ke Snackfood dari Airbnb kami di dekat Ampang Park, kami naik LRT dan menyambung dengan jalan kaki lebih dari 1 km. Dan sayangnya lagi, saya lebih banyak mengabadikan suasana Bangsar dengan instastory, sehinggak tak banyak fotonya yang bisa saya tampilkan di sini.

Dinding di pertokoan Bangsar.

Hello, meowkins Blackjack!

Deretan majalah yang menggoda iman di Snackfood.


CANOPY WALK di tengah kota


Menjelang jam 5 sore, kami sampai di gerbang Taman Eco Rimba KL (KL Forest Eco Park) untuk trekking santai. Taman hutan ini adalah hutan lindung seluas 9 hektar yang masih bertahan di tengah kota Kuala Lumpur (pada awalnya, di tahun 1906 hutan ini seluas 17,5 hektar, tapi tergerus pembangunan yang semakin menggerogoti lahan). 

Masuk ke KL Forest Eco Park tak dipungut biaya sepeserpun. Dari gerbang, kami mengambil jalan ke kiri, melewati jalan setapak menanjak yang sudah disemen dan bertangga-tangga. Di atas ada jalan setapak untuk menyusuri hutan. Tapi kami memilih untuk langsung naik tangga melingkar menuju canopy walk alias jembatan gantung.

Jembatan gantung ini panjang totalnya 200 meter tapi dibagi-bagi menjadi beberapa ruas dan tingkat. Dari atas jembatan terlihat pepohonan rimbun yang dilatari langit biru. Pucuk KL Tower menyembul di belakang pepohonan. Pengunjung sore itu kebanyakan orang setempat dan kelakukannya seperti kami, sekadar jalan-jalan dan berfoto-foto. Kalau kamu punya minat terhadap jenis-jenis tumbuhan, bisa sekalian belajar di sana karena ada banyak tanaman yang diberikan papan nama dan keterangan.

Hutan ini mungkin tidak terlihat istimewa, apalagi kalau kamu sudah biasa naik gunung dan masuk hutan di Indonesia. Saya punya sedikit pengalaman bermain di hutan rimba Kalimantan, tapi rasanya saya lebih cocok dengan hutan seperti ini. Bisa berada di tengah suasana alami, tapi tak jauh dari peradaban kota, dan tak perlu membawa tas berat yang berisi segala macam keperluan untuk berhari-hari. Tapi karena rutenya yang naik turun, lumayan berolahraga juga rasanya.

Jam operasional: 7 pagi – 7 malam.


Lebih nyaman sepatu yang dipakai, lebih baik.

Pengunjung nggak terlalu ramai, jadi masih bisa bebas dari photobomb.

Dilihat dari menara tingkat 3.



HELIPAD Lounge & Bar


Setelah berkeringat dari canopy walk, kami langsung berjalan kaki menuju gedung KH sejauh 700 meter. Kontur jalannya naik turun, dan saya sempat salah jalan pula, naik eskalator ke jembatan penyeberangan, padahal seharusnya tinggal belok kiri dan langsung sampai. Kejadian ini lumayan menghibur Diyan yang dengan sigap memvideokannya di instastory!

Heli Lounge & Bar berada di lantai 34. Sebenarnya saya nggak hobi nongkrong di bar ataupun lounge. Tapi saya tertarik ke sana karena mereka punya lounge di rooftop (ketebak ya, dari namanya) untuk menikmati pemandangan matahari terbenam, yang baru bisa diakses mulai jam 6 sore.

Begitu datang, kami dipersilakan duduk di lounge lantai 34, dan memesan minum. Kebanyakan pengunjungnya turis atau expat dari barat dan mereka yang berwajah oriental. Walaupun para staf berpakaian jauh lebih necis daripada kami, mereka tetap memperlakukan kami dengan ramah.

Helipad Lounge, tempat menunggu sebelum akses rooftop dibuka.


Beberapa menit sebelum jam 6 sore sebagian pengunjung sudah antre di depan pintu akses menuju rooftop. Jam 6 teng staf Heli membuka pintu dan kami ikut berbondong-bondong ke rooftop. Selain beberapa meja yang sudah direservasi, para pengunjung berlomba-lomba – tapi tetap tertib – menduduki tempat terbaik, yaitu di tepi rooftop yang menghadap ke matahari, atau sisi yang berlawanan yang menghadap ke Twin Towers. Sedangkan kami mendapat meja di tengah-tengah.

Musik chill melatari suasana rileks para pengunjung yang sibuk ngobrol satu sama lain, berfoto, dan menikmati minuman masing-masing. Pemandangan terlucu bagi saya adalah di meja sebelah kanan ujung, yaitu seorang pria yang terlihat bingung mesti ngapain sementara pasangan perempuannya tak henti-henti berswafoto di hadapannya.

Langit semakin gelap, lampu kota menyala semakin meriah. Pengunjung semakin ramai, dan tiga orang perempuan berhijab asal Kuala Lumpur meminta izin untuk duduk semeja dengan kami karena meja lain sudah penuh. Kami sempat bertukar cerita tentang Indonesia dan Malaysia hingga gelas jus jeruk mereka kosong.

Notes: tidak ada dresscode khusus untuk ke Heli Lounge & Bar sebelum jam 9 malam. Mulai jam 9 malam, tamu yang masuk diharuskan memakai pakaian rapi, sepatu, dan bukan atribut olahraga.


Minuman bisa dibawa dari lantai 34, atau bisa pesan dari rooftop juga.

Keramaian pengunjung, sunset, dan KL Tower.

Sekali-sekali kencan di bar pas magrib.





Dibuang sayang: 

Naksir berat sama outer ini di Snackfood!

Masih dari Snackfood.

Walaupun mukanya jutek, Blackjack manja banget. 


La la la la la!

KL Tower di belakang KL Forest Park.

Pemandangan dari salah satu stasiun LRT.
Pemandangan dari balkon Airbnb kami. O ya, dapetin travel credit Airbnb biar hemat di perjalanan, di sini.

4 comments:

  1. kayaknya kamu emang suka banget canopy walk yaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa.. iya, suka.. soalnya biasanya pemandangannya cakep, berada di tengah-tengah alam, dan medannya nggak sulit :))

      Delete
  2. Wah wah wah artikel ini mesti aku teruskan sama Biyan karena menurut dia KL itu nggak menarik. Mungkin karena wajtu itu cuma sebentar dan ga sempat menemukan tempat2 asik kayak gini. Rooftop Bar nya kucatat banget, serupa Sala Ratanakosin yang tadi aku bilang di blog mu soal Bangkok

    ReplyDelete
    Replies
    1. waktu itu sama Biyan ke mana aja di KL?
      atau mungkin..memang buat anak kecil yang kayak ginian gak menarik ya?

      Delete