Jan 5, 2018

Menyusuri Chao Phraya Sambil Menikmati Dinner Cruise

Peradaban seringkali berkembang dari tepi sungai, seperti Sungai Tigris di Mesir, Sungai Indus di India, hingga Sungai Musi di kota Palembang. Kebutuhan manusia akan air dalam kehidupan sehari-hari tak bisa dipungkiri. Itu sebabnya banyak pemukiman rapat ditemui di sepanjang sungai, terutama sungai-sungai besar. Kota Bangkok tak terkecuali.

Chao Phraya di malam hari, berhiaskan kerlap-kerlip lampu di kota.


Chao Phraya merupakan sungai utama di kota Bangkok yang mengalir sepanjang 372 km dari Provinsi Nakhon Sawan, yang terletak di utara Bangkok, hingga teluk Thailand di selatan. Setelah Ayutthaya, ibukota Thailand kuno, diduduki Birma (kini Myanmar) pada tahun 1767, Raja Taksin memindahkan ibukota ke dekat Chao Phraya, tepatnya di Thonburi, di sisi barat sungai. Baru kemudian pembangunan kota modern digalakkan di sisi timur sungai, tempat Grand Palace dan Wat Pho (kuil tempat patung Budha berbaring raksasa) didirikan.

Sampai sekarang perkembangan di kedua sisi sepanjang Chao Phraya terus berlanjut. Bangunan kuno dan modern, rumah ibadah dan pertokoan serta restoran, kehidupan masyarakat lokal serta kesibukan pariwisata saling bersisian di sini.

Dari segi transportasi, Chao Phraya juga masih sangat dimanfaatkan sebagai salah satu jalur transportasi utama di Bangkok. Beberapa rute perahu tersedia, termasuk perahu khusus turis yang lebih mahal tapi disertai pemandu wisata. “Venice of the East”, demikian Bangkok sering dijuluki.

Wat Arun yang bersinar.

Tak hanya tradisional, Bangkok juga memiliki landmark futuristik, seperti jembatan ini.


***

Dalam perjalanan saya ke Bangkok bulan lalu, sayapun tergoda untuk menikmati suasana Chao Phraya lebih seksama. Mumpung dapat voucher gratis dari Klook.com dan saya bisa memilih paket wisata apa saja, saya memilih paket Loy Nava Dinner Cruise. Ini adalah makan malam di atas perahu kayu tradisional yang membawamu menyusuri sebagian Chao Phraya. Penumpangnya, tak lain adalah para turis, biasanya dari luar Thailand.

Perjalanan dimulai dari dermaga Si Phraya, kemudian sejam kemudian perahu akan berputar balik dan kembali ke Si Phraya. Makan malam terbagi menjadi dua jadwal, yaitu jam 6 dan 8 malam. Saya dan Diyan memilih jam 6 agar malamnya bisa lanjut jalan-jalan lagi. Jam 6.10 menit perahu kami baru merapat ke dermaga. Dua orang perempuan berpakaian khas penari Thailand berdiri di dek depan menyambut para tamu dengan senyum ramah dan membagi-bagikan untaian bunga kecil ke setiap tamu tanda ‘selamat datang’.

Beberapa meja di bagian tengah disiapkan untuk rombongan, sedangkan meja-meja kecil untuk dua orang ditempatkan di bagian buntut perahu. Posisi tersebut memberi kami pemandangan sisi kanan dan kiri sungai yang selalu utuh, baik ketika pergi maupun pulang.

Mulai senja, lampu-lampu gedung sudah mulai dinyalakan. Sepanjang perahu kami berlayar, hampir tak henti-hentinya kami mengagumi keindahan pemandangan kota yang terbelah sungai ini. Wat Arun, yang memang terkenal dengan kecantikannya, semakin cantik dengan lampu-lampu yang menyala berlatar belakang langit gelap. Grand Palace dan Wat Po juga tak kalah memesona dengan atapnya yang berlapis-lapis serta pagoda-pagodanya.

Perahu Loy Nava Dinner Cruise hendak merapat ke dermaga Si Phraya.

Dekorasi Natal yang masih menghiasi hingga jelang tahun baru.

Grand Palace di kejauhan.
Diyan, appetizer, dan Chao Phraya.


Ketika memesan paket makan malam di aplikasi Klook, saya sudah memilih tipe makanan, yaitu ‘tradisional’ untuk Diyan dan ‘seafood’ untuk saya, serta ‘no pork, no lard’ pada kolom special request. Berbagai menu dihidangkan, kami saling mencoba menu satu sama lain, sehingga saya agak lupa mana yang punya Diyan dan mana yang punya saya. Sate ayam, sup tom yum, sup sayur, kari daging, ikan bakar dan kerang dengan cocolan asam manis dan pedas khas Thailand disajikan secara bergantian. Tak ketinggalan kue-kue manis pencuci mulut menjadi hidangan penutup.

Hampir semua makanan yang disajikan kami suka. Bumbunya didominasi rasa asam, manis dan pedas. Bagian pedas dan asam yang menjadi favorit kami. Secara umum, kami memang cukup cocok dengan cita rasa makanan Thailand. Saya sampai bilang ke Diyan, “Kalau cuma berdasarkan kecocokan dengan makanan, aku bisa banget tinggal di Thailand. Betah!” Dan makanan di Loy Nava Dinner Cruise ini tak beda jauh rasanya dengan makanan-makanan lain yang kami cicipi di Thailand.

Ubi/singkong yang diolah dengan gula, dibentuk seperti sarang burung, dan gulali berbentuk burung di atasnya,
menjadi pembuka makan malam saya.

Boga bahari (seafood) dan saus pedas asam yang maknyus.

Lumpia, ayam dibungkus daun pandan, dan banyak lagi hidangan datang satu-persatu.

Tom Yum dengan udang-udang segar. Slurp! 
Tak lupa hiasan anggreknya.

Tiga orang pria sibuk hilir mudik menyajikan makanan ke setiap meja. Dari wajahnya, kami mengira mereka blasteran Thailand dengan India atau Pakistan. Tapi dari percakapannya dengan tamu Amerika di meja sebelah, kami mengetahui bahwa mereka kakak-beradik migran dari Shan State, Myanmar. Mereka gesit sekali melayani tamu. Walaupun tampak agak lelah, tak sedikitpun mereka abai berlaku ramah.

Makan malam diiringi musik dan tarian tradisional Thailand yang dibawakan oleh kedua perempuan yang tadi menyambut tamu di dek. Alunan nada lembut dihasilkan dari alat musik semacam kecapi, dan sang musisi selalu memasang senyum manis setiap ia menyadari ada tamu yang hendak memotretnya. Dedikasi profesional yang sangat tinggi!

Musik yang mengiringi makan malam kami. 

Si Nona yang luwes menari di atas perahu melaju.


***

Memesan paket wisata di Klook saya rasakan sangat mudah. Pertama, tinggal memilih destinasi, lalu browsing tipe atraksi wisata yang kita inginkan. Jangan lupa membaca detail persyaratan dan informasinya, seperti apa saja yang termasuk dalam paket (‘Inclusive of’), ‘How To Get There’, ‘How To Use’ voucher, dan ‘Cancelation Policy’.

Khusus untuk paket Loy Nava Dinner Cruise, pada awalnya saya meminta untuk dijemput di hotel (dan ini termasuk dalam paket, tak ada biaya tambahan). Namun pada hari H, ternyata lebih efisien kalau saya langsung ke Si Phraya. Sempat saya ingin mengonfirmasikan lewat telepon, tapi tak ada yang mengangkat. Maka saya email saja ke alamat yang tertera pada voucher, dan tak lama kemudian email saya dibalas. Kemudian, karena saya tak sempat mencetak tiket, saya cukup menunjukkan tiket elektronik pada petugas Loy Nava. Easy peasy!

Kiri: memilih atraksi wisata. Kanan: voucher digital.

Karena pengalaman reservasi yang lancar, plus harga paket yang lebih murah dibandingkan kalau memesan langsung ke vendornya, saya kembali memesan paket wisata via aplikasi Klook untuk atraksi-atraksi selanjutnya. Kali ini bukan karena dapat voucher, tapi memang bayar sendiri. Yang satu adalah paket Sea Life Bangkok Ocean World untuk kakak saya dan anak-anaknya, dan satu lagi Muay Thai Match at Rajadamnern Stadium untuk malam tahun baru.

Kiri: info detail atraksi. Kanan: daftar voucher dalam akun Klook.

Muay Thai fight di malam tahun baru.

Masuk ke SeaLife dengan tiket yang dibeli dari Klook.


***

Begitu perahu bersandar di dermaga, saatnya para tamu turun dari perahu. Dua perempuan yang tadi menyambut, berganti tugas menjadi melepas tamu. Sebuah nampah kecil dipegang salah satu dari mereka, tempat tamu meletakkan uang tip. Jujur, kami tak tahu tentang nampah ini, hingga kami tak menyiapkan uang di kantong, sedangkan jika harus mengeluarkan uang dari dompet akan memakan waktu lama, sementara tamu lain sudah antre mau turun di belakang kami. Duh, menyesal sekali tak memberi tip karena sebenarnya kami puas dengan pelayanan Loy Nava Dinner Cruise. Kami hanya bisa mendoakan agar servis mereka semakin laris manis di masa mendatang. 

Ini yang namanya 'dinner with a view'. 




Download aplikasi Klook di sini untuk pengguna Android, atau di sini untuk pengguna iPhone.

Disclaimer: Pengalaman Loy Nava Dinner Cruise disponsori Klook, tapi semua opini murni dari saya. 

8 comments:

  1. Duh. Kapan2 kalo ke Bkk lagi pengen cobain dinner cruise sama nonton Muaythai deh.

    Thanks infonya, Vir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbok, seru!
      semoga segera bisa ke Bangkok lagi yaaa :D

      Delete
  2. Romantis ya mbaaak... salam kenal yaaa ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, romantis walaupun rame-rame di perahunya :D
      salam kenal juga :)

      Delete
  3. Haha, setiap ke Chao Phraya dan lihat kapal2 macam ini berseliweran gw selalu membatin "dasar turis-turis kaya". Maklumlah aku lewat Chao Phraya cuma mau mau menghindar kemacetan dan berujung duduk duduk manis di Sala Rattanakosin atau Sala Arun sambil menunggu sunset :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaa ...sekali-sekali ngerasain jadi turis kaya, ena' juga :))

      wah aku belum pernah kedua Sala itu, baru pernah Sala Daeng aja.. :)) #cedih
      ke Wat Arun pun gagal teruuuusss..huhu..

      Delete
  4. SIAP BELI SINGKONG SEGAR KONDISI FRESS SAYA BAYAR KONTAN! Saya Bpk Heru Nomor Hp/Wa 081334272800 lokasi di malang - jawa timur. Kriteria segala jenis singkong asal minim umur singkong 10 bulan. Kebutuhan saya per minggu 200 ton untuk memenuhi pabrik makanan. Disamping beli saya jual singkong sortiran masih frees segar ukuran kecil untuk pakan ternak Rp 650/kg. Profil saya bisa dilihat di www.belisingkongsegar.blogspot.com
    atau di www.malangkambingdombasuper.blogspot.com NB: SAYA JUGA JUAL KAMBING BOER AUSTRALIA BOBOT BISA MENCAPAI 100 Kg, PERANAKAN ETAWA, JAWA RANDU, KACANG & DOMBA

    ReplyDelete
  5. SIAP BELI SINGKONG SEGAR KONDISI FRESS SAYA BAYAR KONTAN! Saya Bpk Heru Nomor Hp/Wa 081334272800 lokasi di malang - jawa timur. Kriteria segala jenis singkong asal minim umur singkong 10 bulan. Kebutuhan saya per minggu 200 ton untuk memenuhi pabrik makanan. Disamping beli saya jual singkong sortiran masih frees segar ukuran kecil untuk pakan ternak Rp 650/kg. Profil saya bisa dilihat di www.belisingkongsegar.blogspot.com
    atau di www.malangkambingdombasuper.blogspot.com NB: SAYA JUGA JUAL KAMBING BOER AUSTRALIA BOBOT BISA MENCAPAI 100 Kg, PERANAKAN ETAWA, JAWA RANDU, KACANG & DOMBA

    ReplyDelete